"Yang kuat ya, Shel. Allah lebih sayang sama nenek lo." Gina mengusap tangan Shella, sementara Shella hanya termenung diujung ruang tamu. Berusaha menepikan diri dari rekan-rekan lama nenek serta papa yang datang melayat keesokan paginya.
Gak ada air mata yang keluar setelah di rumah sakit waktu itu, Shella telah menumpahkan seluruhnya hingga jika air mata adalah ember yang berisi air, isinya kini telah kosong.
Kepergian orang terdekat membuat Shella syok. Terlebih, tidak ada tanda-tanda bahwa neneknya itu akan meninggal kemarin. Dulu, saat nenek sakit-sakitan dirumah sakit, Shella sudah bersiap dengan segala kemungkinan yang terburuk, mentalnya sedikit tidaknya akan menerima jika terjadi apa-apa. Tapi untuk kali ini, dia tidak siap.
Seorang cucu mungkin tidak akan sesedih Shella saat ditinggal neneknya, namun kedekatan Shella dengan nenek sudah sama dengan kedekatan orangtuanya sendiri.
Kini, Shella berusaha menyembunyikan diri dari lalu lalang orang yang ingin mendoakan neneknya. Selepas membaca yasin bersama dan menunggu untuk dikuburkan, pengunjung yang datang semakin membludak, membuat Shella merasa pengap, terlalu berdesakan, hingga dia memutuskan untuk duduk diujung ruang tamu dekat kamar Papa ditemani Keysha dan Gina.
Berkali-kali Shella bilang kepada kedua sahabatnya ini dia gak perlu ditemani sebegitunya, mending mereka pulang ke rumah daripada ngikutin Shella kesana kemari dari pagi hingga sore setelah nenek dikuburkan. Tapi gimana Keysha dan Gina gak khawatir kalo melihat mata Shella yang kosong dan kalo duduk langsung menggigit bibirnya dan melamun?
Dan didepan teras rumah besar ini.
Ada seseorang yang juga mengkhawatiri Shella lebih dari siapapun.
Dia yang sedang duduk untuk menyambut tamu dan mengucapkan terima kasih karna sudah mau membantu mendoakan nenek, dia yang menggantikan Papa yang masih berduka.
He knows she is not okay even though she said she is.
"Tolong temenin Shella dulu ya, jangan ditinggal."
Dia lah yang menjadi alasan Keysha dan Gina agar tidak meninggalkan Shella barang sedetikpun. Selain karena ikatan persahabatan, Chanyeol lah yang meminta tolong kepada mereka.
Karna disaat seperti ini orang bisa kehilangan akalnya, Chanyeol takut Shella melakukan hal-hal aneh yang bisa mengancam nyawanya sendiri, Chanyeol takut Shella terlalu bersedih hingga akhirnya lupa diri. Atau masih terlalu syok hingga akhirnya jatuh pingsan tanpa ada yang menyadari.
Ketakutan-ketakutan itu yang Chanyeol rasakan ketika orangnya adalah Shella.
Maka selepas orang-orang yang melayat satu persatu mulai pulang, dan posisi Chanyeol digantikan oleh sanak keluarga dari pihak mama mertuanya, Chanyeol masuk ke dalam rumah dan mencari Shella. Istrinya.
"Shel," panggil Chanyeol setelah menebarkan pandangannya ke seluruh rumah hingga menemukan Shella yang duduk didepan kamar Papa.
Shella mendengar panggilan Chanyeol tapi rasanya kepalanya terlalu berat untuk sekedar mendongakan kepala.
Keysha dan Gina yang menyadari situasi, buru-buru minggir dan memberi ruang bagi keduanya untuk berbicara. Sempat mereka berdua berbisik ke telinga Chanyeol mengenai kondisi Shella saat ini yang dibalas dengan anggukan mengerti.
"Udah makan?"
Shella menggeleng.
"Shel, udah jam 5 sore. Aku belum liat kamu makan apa-apa dari pagi."
Iya, semenjak malam kemarin Chanyeol tidak meninggalkan rumah ini. Dia membantu segala keperluan yang harus diurus untuk nenek.
Shella menjawab dengan diam. Siapapun yang memandangnya matanya akan langsung tau kesedihan Shella sangat mendalam, pandangannya yang kosong itu membuat Chanyeol iba dan merapatkan tubuhnya ke samping Shella.
KAMU SEDANG MEMBACA
Endline #PCY
Fiksi PenggemarChanyeol dan Shella sebelumnya tidak pernah bertemu dan saling mengenal. Mereka hanya dipaksa untuk tinggal serumah, bertatap muka setiap hari, dan memberikan keturunan. Dan keduanya tidak sanggup untuk menjalani itu seumur hidup. Sehingga pada suat...
