It's 8:00 pm.
Shella sedang membaca novel di atas ranjangnya ketika Chanyeol mengetuk pintu kamar.
"Shel, pergi yuk?" Ajak Chanyeol yang hanya kelihatan separuh tubuhnya dari balik pintu.
"Kemana?"
"Ya jalan-jalan aja, sekalian cari makan. Tahun baru nih, Shel."
Shella menghela napas. Sebenarnya dia tidak ingin pergi kemana-mana di malam pergantian tahun ini. Too much kembang api, she's not comfortable with that. Selalu saja ada kekhawatiran jika percikan kembang api yang berada diatas itu mengenai dirinya. Meski jauh sekalipun.
Bagi dia, tahun baru dijalani sama dengan hari-hari biasa. Mungkin Shella hanya akan mengcapture lockscreen HPnya yang menampilkan angka 00:00 di 1 tanggal Januari 2018. Dan mengucapkan selamat tahun baru kepada teman-temannya melalui sosial media. Setelah itu, udah, tidur.
Orang-orang dirumahnya juga begitu, Mama, Papa, Trian, setelah kejadian tidak terlupakan di masa kecil dimana tangan Trian terkena kembang api sehingga menimbulkan luka bakar yang membekas sampai sekarang, mereka tidak pernah merayakan tahun baru dengan bermain kembang api di halaman lagi.
Mungkin, kebiasaan keluarga Chanyeol berbeda dengan keluarganya yang tidak terlalu heboh merayakan tahun baru.
"Ya udah bentar, aku siap-siap dulu."
*****
It's 10:00 pm.
Jalanan penuh dengan hiruk piruk khas tahun baru; suara terompet. Orang-orang berkendara kerap membunyikan terompetnya, bahkan yang berada didalam mobil pun dengan niatnya membuka kaca demi menyuarakan karton yang dapat menimbulkan bunyi tersebut.
Shella dan Chanyeol hanya dapat memegang perut tatkala mobil mereka terjebak dalam kemacetan kota ini, mendekati jam 12 malam tentunya banyak orang yang ingin melewatkan momen berada di luar ruangan. Dan sialnya, gak pernah ada dipikiran Chanyeol maupun Shella bahwa restoran yang mereka suka datangi akan tutup jam 9 malam.
Mungkin karna ini tahun baru, pemilik dan pegawai restorannya juga pengen tahun baruan.
Lebih 5 restoran favorit mereka tutup lebih awal hari ini.
Saat melewati jalanan, Chanyeol menunjuk tempat makan yang terlihat masih buka, "Mau disitu, Shel?"
Shella menoleh. "Seriously, itu tempatnya kotor banget, Yeol?" ya gak heran sih soalnya Chanyeol asal main tunjuk aja, itu di pinggir jalan yang ada deket comberan. Aduh, bukannya kenyang malah sakit perut ntar.
Alhasil, beginilah mereka. Terjebak diantara mobil-mobil yang berjalan hanya beberapa senti setiap menitnya.
"Nyesel ga pake manual?" Shella berkata setelah dia sendiri lelah melihat Chanyeol yang bentar-bentar pindahin gigi terus nginjak kopling berkali-kali.
"Engga, kan udah biasa," jawab Chanyeol santai. "Real men use three pedals." ucapnya sambil mengacungkan 3 jari.
Shella tertawa. "Gak sekalian tuh pasang stickernya di kaca belakang?"
"Gak usah ditempelin sticker juga orang-orang udah tau aku real men, Shel."
Shella memutar kedua bola matanya. "Terus kalo yang pake matic, dibilang classy men. Classy men use two pedals. Harusnya kan fake men use two pedals!" Protes Shella lagi.
"Mobil kamu kan matic, berarti fake women dong?"
Shella mengusap kedua tangannya, suhu di mobil sudah dia turunkan menjadi 1, tetapi tetap saja rasanya dingin. "Ya enggalah, kan cewek emang seharusnya pake matic."
KAMU SEDANG MEMBACA
Endline #PCY
FanfictionChanyeol dan Shella sebelumnya tidak pernah bertemu dan saling mengenal. Mereka hanya dipaksa untuk tinggal serumah, bertatap muka setiap hari, dan memberikan keturunan. Dan keduanya tidak sanggup untuk menjalani itu seumur hidup. Sehingga pada suat...
