...flashback
Shella membuka matanya perlahan. Baru sadar dari tidurnya, Shella pun terduduk dan meregangkan seluruh tubuhnya.
"Hoammmzzzz." Gak ada suara kayak gitu sih sebenarnya, Shella buat-buat aja.
Dengan langkah gontai dia mengucek-ngucek matanya dan berjalan ke luar dari kamarnya.
"Loh, kamu gak ngantor, Yeol?" sapa Shella saat melihat Chanyeol duduk santai diatas sofa sambil menonton TV, kemudian bolak balik ngeliat jam yang nempel di ruang tengah. Udah jam 9, biasanya Chanyeol udah hilang jam segini.
Chanyeol menggeleng.
"Hari libur nasional, Shel."
Shella mengernyit, kemudian dia berjalan ke sofa sambil melihat tayangan yang Chanyeol tonton.
"Astaga, udah tanggal 17 agustus aja. LUPAAAAAAAA." Shella buru-buru masuk ke dalam kamarnya, cepet-cepet mandi, terus masih dengan rambutnya yang basah itu keluar ke ruang tengah.
Shella langsung melompat buat duduk di sofa, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Aku tuh suka banget yeol nonton beginian tiap 17an!" Channel di TV adalah RCTI yang sedang menampilkan prosesi 17an di istana negara. Untungnya, Shella masih belum terlambat. Sekarang adalah penyerahan replika bendera pusaka ke istana negara.
"Kok sama?" Ucap Chanyeol kemudian memangku salah satu kakinya.
Shella menoleh kepada Chanyeol. "Seru gitu kan, Yeol?? Terus pasti pas pengibaran bendera aku jadi merinding!"
"Rasa nasionalisme langsung timbul tiap 17an ya? Hahaha."
"Namanya juga udah gak sekolah, biasanya kan tiap senin upacara. Eh, kamu kalo di kantor gitu sebenarnya ada upacara gak sih?"
Pertanyaan Shella dijawab oleh tawa Chanyeol. "Ya enggak lah, Shel. Kamu kira aku kerja di kantor Gubernur apa. Perusahaan di lantai 19 gitu mau upacara dimana? Di basement parkiran?"
"Iya juga ya.."
Chanyeol bangkit dari sofa, beberapa saat kemudian datang dengan dua gelas. Satu gelas dia serahkan keada Shella.
"Nih, teh panas buat kamu, Shel." Sementara yang ada ditangan Chanyeol adalah segelas energen rasa coklat.
"Tumben bisa bikin sendiri. Gak kamu kasih sianida kan, ini?" Shella menyambut uluran gelas yang diberikan.
"Kalo aku sejahat itu, Shel." Chanyeol ikut duduk lagi. "Bukan sianida yang aku kasih. Tapi udah aku mantrain airnya pake pelet biar kamu jatuh cinta."
"Hueeeeek." Shella sok-sok muntah.
"Paling juga kamu kasih pelet, tetep gak mempan. Nunggu Justin Bieber balikan sama Selena Gomez lagi kali baru aku jatuh cinta sama kamu."
"Eh, setau aku kemarin ada berita Justin balikan sama Selena? Mereka main sepedaan bareng."
"Serius??? Salah ngomong! Ya udah berarti nunggu Michael Jackson hidup lagi!"
"Nunggu kiamat dulu dong biar orang mati jadi hidup lagi?"
"Iya, hahahaha."
"Ribet banget, Shel. Orang kalo jatuh cinta gak perlu nunggu kejadian-kejadian tertentu. Cinta ya cinta aja."
Shella menghabiskan setengah gelas tehnya lalu menaruh gelas itu diatas meja didepannya. "Udah ah, Yeol. Aku geli kamu ngomong cinta-cintaan gitu. Jangan sebut cinta ah!"
Chanyeol ketawa. Terus mengambil bantal untuk dia pegang. "Ya udah."
Sambil menunggu detik-detik proklamasi, mereka berdua makan kuaci. Lumayan juga nungguinnya. Waktu paduan suara mulai nyanyi-nyanyi lagu daerah, mereka ikutan nyanyi.
"Itu komuk banget muka mba-mbanya!"
"Hahaha, gak kebayang masnya liat di youtube ntar ada mukanya lagi bersihin telinga!"
"Jahat banget kameramennya, hahahaha.'
"Eh, itu habibi! Megawati! Hahaha. Pak budiono, lama banget udah gak liat!" seru Shella.
"Seminggu lalu aku ketemu Pak Budiono, Shel. Dia ngisi materi gitu."
"Oh ya? Wah tanda-tanda tuh, biasanya kan kalo ketemu orang besar bisa jadi orang besar di masa depan."
Shella ngajak Chanyeol salaman, "Selamat pak wapres tahun 2019." Absurd banget emang.
"Iya, makasih ya bu wapres! Tolong dampingi saya ya!"
"Hahahahaha!"
Di TV, suasana udah mulai tegang. Paskribraka nasional yaitu 68 orang dari 34 provinsi mulai memasuki lapangan. Shella sama Chanyeol langsung baikin duduknya.
"Dari kecil aku pengen banget jadi paskib 17an di istana negara, Yeol. Jadi pembawa benderanya. Keren banget gitu kan, bawa baki ngambil bendera dari presiden terus dibacain namanya. 'Shella Dignita. Putri dari bapak Hendra Kusuma dan ibu Evelin Sastranegara.' Bangga banget sumpahhhh."
"Tapi?"
"Ya gitu. Gak kesampean. Ikut seleksi jadi anggota paskib di SMA aja males. Takut panas-panasan! Hahahaha."
"Gak ada usaha itu kamu namanya."
"Tapi kakak kelas aku ada yang beneran nyampe istana loh, hebat dia! Pulang-pulang mukanya gosong."
"Menurut kamu aja Shel kan kena matahari terus. Percaya gak dulu waktu SMA aku anak paskib?"
"Hah? Gak percaya! Lawak kamu!"
"Serius, tuh tanya si Sehun. Aku anak paskib dulu, kan tinggi begini jadi suka disuruh jadi penarik bendera." Chanyeol berdiri terus nunjukkin tingginya.
"Cuma ya enggak sampai istana juga. Ngibarin bendera di sekolah doang."
"Gak penting bangettttt, hahahaha. Kirain udah nampil dimana. Gak usah dibilang kalo gitu, aku juga pernah bawa bendera pas giliran kelas jadi petugas upacara."
"Eh, eh, udah mulai, Yeol!"
Shella sama Chanyeol ikutan tegang waktu anggota paskib yang terdiri dari anak SMA dari seluruh nusantara itu mulai berjalan menuju tiang bendera.
"Kompak banget mereka, serempak."
"Gak ada yang liat bawah lagi ya? Aku kalo jadi mereka suka ngeliatin kanan kiri, takut langkah kaki beda sendiri." Gerutu Shella.
Waktu bendera mulai dikibarkan dan lagu Indonesia Raya mulai dikumandangkan, Shella sama Chanyeol ikutan hormat juga.
Alesannya jiwa nasionalisme mereka bangkit kembali.
Tapi setelah komandan disana teriak tegak gerak, mereka ngeluh karna ngangkat tangan terlalu lama. Padahal hormat berapa menit doang.
"Haduh, capek, Shel. Berasa aku yang ngibarin bendera." Chanyeol ngeletakkin bantal diatas pangkuan Shella, lalu meletakkan tangannya diatas bantal itu. "Urutin dong, Shel."
"Apaan sih, kamu itu kayak hormat 1 jam aja." Shella mengambil tangan Chanyeol terus dia urut-urut gitu. Tapi bukannya merilekskan, jari-jari Chanyeol malah ditarik sama Shella.
"Kamu ngurut, apa bikin kue, Shel?"
"Ih yaudah makanya, aku tuh gak ngerti! Udah ah, mau ambil minum lagi!" Shella bangkit kemudian lengannya ditahan sama Chanyeol.
"Bikinin omelet, Shel."
"Iyaaaaa."
KAMU SEDANG MEMBACA
Endline #PCY
FanfictionChanyeol dan Shella sebelumnya tidak pernah bertemu dan saling mengenal. Mereka hanya dipaksa untuk tinggal serumah, bertatap muka setiap hari, dan memberikan keturunan. Dan keduanya tidak sanggup untuk menjalani itu seumur hidup. Sehingga pada suat...
