...flashback
"Shel, kamu liat jaket hitam yang sering aku pake?" Tanya Chanyeol begitu membuka pintu kamar. Dia baru saja pulang dari kantor larut malam dan membongkar plastik laundry yang baru datang diluar. Lemari di kamar juga dia buka namun tidak menemukan yang dia cari.
Tidak ada jawaban dari Shella membuat Chanyeol memanggilnya lagi.
"Shel?"
Lalu Chanyeol langsung terdiam ketika mendapatkan Shella yang sudah tertidur dan berselimut sambil memunggunginya.
Secara perlahan, dia membuka lemari kembali untuk mengambil handuk baru dan masuk ke kamar mandi. Setelah selesai membasuh diri, Chanyeol kira dia melihat Shella sudah terbangun. Tetapi tidak, Shella masih dalam posisi seperti 20 menit yang lalu. Tidak berubah.
Chanyeol berjalan mendekati ranjang. Dari posisi tempat tidurnya, dia dapat melihat wajah Shella yang tertidur dengan tenang.
Mungkin Shella tidak sadar menghadap kesini, biasanya dia selalu membelakangi Chanyeol ketika tidur.
Tangan kiri Shella yang keluar dari selimut sambil memegang guling yang membatasi mereka membuat posisi tidurnya menjadi lucu. Hingga Chanyeol tak sadar kini telah membaringkan badannya di seberang Shella.
Ini hari ketiga setelah Shella mengangkat telepon dari Vania. Chanyeol ingin melakukan sesuatu yang membuat perempuan dihadapannya ini merasakan sesuatu yang lain. Membuat dia mengungkapkan perasaannya. Membuat dia cemburu.
Niatnya, setelah lembur hingga malam ini, Chanyeol hanya pulang untuk mengganti baju kantornya dengan jaket lalu pergi lagi untuk nonton di XXI bersama Vania.
Tapi, sepertinya.. dia lebih baik mengambil Hpnya.
"Halo Van, iya sori. Aku ga bisa pergi, ini ada urusan. Kamu masih di lobby bawah? Aku pesenin Grab aja apa gimana?"
"Oke iya, sori banget ya, Van. Lain kali deh."
Beruntung mantannya itu dapat mengerti dan tidak menanyakan lebih lanjut. Karna dia gak bisa berbicara lebih banyak lagi karna takut membangunkan seorang perempuan yang ada disampingnya kini.
Chanyeol mendekatkan tubuhnya tepat di seberang guling. Merupakan pemandangan yang jarang bisa melihat Shella yang tertidur begini. Chanyeol menatap wajah tidur yang damai itu sambil tersenyum.
Lucu.
Kenapa sih Tuhan menciptakan perempuan dihadapannya ini yang kalo bangun itu cueknya minta ampun, ketus, galak, tapi kalo udah tidur kayak minta dilindungi banget?
Chanyeol memperhatikan satu persatu bagian wajahnya. Mulai dari bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung, bibirnya yang berwarna peach walaupun tanpa lipstick... ah, Chanyeol jadi mengingat-ngingat, bagaimana rasa bibir itu? Dia sudah lupa.
Tersadar akan pikirannya yang aneh. Buru-buru dia mengusirnya.
Chanyeol memperbaiki tidurnya sendiri dengan meletakkan telapak tangannya dibawah pipi.
Bisa menatap Shella yang tertidur tenang seperti ini aja dia udah sangat bersyukur. Bagaimana bisa dia meminta lebih lagi? Kebanyakan permintaan nanti gak ada yang dikabulin Tuhan. Dia cuma ingin menikmati momen ini, sebelum Shella tiba-tiba membalikkan badan dan membelakanginya seperti hari-hari biasa.
Tidur Shella begitu nyenyak. Biasanya kalo Chanyeol pulang dari kantor dan dia tertidur seperti ini, paling tidak Shella akan terbangun sebentar menyadari kehadiran Chanyeol di kamar kemudian tertidur lagi. Mungkin dia kelelahan? Setau Chanyeol, Mama bilang tadi Shella seharian mengurus skripsinya di kampus.
Dengan perlahan, Chanyeol mengangkat tangan Shella yang berada diatas guling. Tidak ada tanda-tanda pergerakan dari Shella ataupun terbangun. Kemudian Chanyeol melepas guling itu, menjadikan dirinya dan diri Shella tanpa pembatas.
Shella memang satu-satunya orang yang bisa membuat dia tidak konsisten dengan perkataannya,
Karna sekarang, Chanyeol dengan tidak tau dirinya menarik Shella kepelukannya.
Chanyeol sudah tidak berpikir jika sewaktu-waktu Shella terbangun, kemungkinan dia bakal diteriaki atau didorong jauh-jauh. Chanyeol hanya ingin merasakan Shella dipelukannya. Seperti ini. Seperti saat ini.
Shella yang masih tidur pun tanpa sadar memperbaiki posisinya senyaman mungkin. Membenamkan wajahnya di dada Chanyeol sedalam-dalamnya.
Chanyeol hanya bisa berdoa semoga Shella yang berada di dadanya ini tidak terbangun karna mendengar suara degup jantungnya.
Dan sepertinya Tuhan mengabulkan doanya itu. Karna tak lama kemudian, yang Chanyeol rasakan adalah kehangatan. Sunyi senyap di kamar ini, yang terdengar mungkin hanya suara mesin AC, namun suara mesin yang samar itu semakin samar begitu dia dapat merasakan napas Shella yang tenang.
Dia menyandarkan dagunya keatas kepala Shella, Shella yang tertinggi diantara teman perempuannya tapi tetap mungil jika dibandingkan dengan Chanyeol. Dalam posisi seperti ini, Chanyeol bisa menghirup aroma rambut Shella.
Jadi begini sampo vanilla di kamar mandi itu jika diaplikasikan pada rambut. Selama ini Chanyeol hanya menerka-nerka bagaimana rasanya rambut Shella jika memakai sampo-sampo dengan beraneka rasa.
Manis.
Membuat Chanyeol dengan reflek mencium puncak kepala Shella.
Kalau bisa, Chanyeol tidak ingin tidur malam ini. Dia ingin menikmati momen ini lebih lama. Belum tentu hari esok Shella akan kelelahan dan menghadap kedirinya, belum tentu lusa Shella tidak terbangun dan buru-buru membelakanginya.
Chanyeol memperbaiki posisinya, melingkarkan tangannya kanannya di pinggang Shella dan mempererat pelukannya.
Kedua mata dia pejamkan. Sambil berharap waktu tidak bergerak, berharap besok tidak akan datang.
Sebelum benar-benar terlelap, Chanyeol berdoa semoga bisa terbangun sebelum subuh untuk memperbaiki posisi mereka seperti hari-hari sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Endline #PCY
FanfictionChanyeol dan Shella sebelumnya tidak pernah bertemu dan saling mengenal. Mereka hanya dipaksa untuk tinggal serumah, bertatap muka setiap hari, dan memberikan keturunan. Dan keduanya tidak sanggup untuk menjalani itu seumur hidup. Sehingga pada suat...
