Bertemu Kembali

19.4K 311 7
                                        

Tidak semua luka itu berdarah, sebagian luka hanya tumbuh dengan diam dari cara seseorang memandang dunia.”

✨✨✨

Rumah keluarga Maheswari berdiri megah di kawasan perumahan elite, bangunannya indah, dindingnya putih tinggi, lampu kristal yang tergantung terlihat sangat mewah, dan juga taman yang selalu terlihat rapi, segalanya tampak sempurna dari luar, Namun Navira selalu merasa rumah itu lebih mirip museum dibanding tempat tinggal.

Begitu memasuki foyer, aroma bunga lily langsung menyambutnya, lampu-lampu besar menyala dengan terang, tetapi tidak menghadirkan kehangatan apa pun, suara langkah kakinya menggema pelan di lantai marmer.

“Nona baru pulang?”

Navira mengangguk kecil pada salah satu pekerja rumahnya sebelum ia berjalan menuju tangga.

“Navira.” Suara itu menghentikan langkahnya.

Ibunya berdiri di ruang tengah dengan pakaian elegan berwarna hitam gading, perempuan itu masih terlihat anggun meski sudah larut malam, dia Maharani Maheswari, perempuan yang selalu tampak seperti permata yang diciptakan untuk dikagumi.

“Kamu dari mana?”

“Nugas.”

Maharani memandang putrinya beberapa detik sebelum menghela napas kecil. “Minggu depan keluarga Wiratama datang ke gala makan malam, Mama mau kamu ikut.”

Navira hanya diam tidak menjawab.

“Kamu dengar, Navi?”

“Iya.” jawabnya singkat.

“Dan tolong jangan mempermalukan mama dengan wajah memelas seperti itu.”

Kalimat itu diucapkan dengan genang, namun tetap terasa seperti sesuatu yang tajam, Maharani berjalan pergi tanpa menunggu jawaban dari Navira, ia meninggalkan Navira sendirian di tengah ruangan besar yang terasa semakin sunyi.

Perempuan itu menunduk pelan, lucu sekali, kadang luka paling dalam datang bukan dari bentakan, melainkan dari hal-hal kecil yang terus diulang setiap hari sampai hati terbiasa merasa tidak cukup. Navira melanjutkan langkah menuju kamarnya, begitu pintu tertutup, ia langsung melepaskan napas panjang yang sedari tadi ditahannya.

Kamarnya terlalu luas untuk satu orang, ada rak buku tinggi di sudut ruangan, jendela besar menghadap jendela, dan lampu-lampu temaram yang membuat malam terlihat lebih sendu, namun tetap saja Navira merasa kosong. Navira berjalan mendekati meja kecil di samping tempat tidurnya, jemarinya menyentuh buku yang tadi ia bawa ke kafe.

Lalu tanpa sadar, pikirannya kembali pada Arshaka, lelaki dengan mata yang menyimpan beribu pertanyaan dan suaranya yang tenang itu, dari cara mereka berbicara tadi itu seperti dua manusia yang sudah lama mengenal kehilangan.

Navira memejamkan mata sebentar, ia bahkan tidak tahu kenapa terus memikirkan seseorang yang baru ditemuinya beberapa jam lalu, mungkin karena Arshaka terasa seperti hujan yang datang tiba-tiba, tetapi meninggalkan jejak di mana-mana.

Di sisi lain kota, Arshaka sedang berdiri di balkon kamarnya sendiri, tangannya memegang kamera analog tua, sementara pikirannya diam-diam kembali ke kafe tadi, lebih tepatnya pada perempuan bernama Navira dengan mata sendu dan suara selembut hujan.

Angel Heart Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang