Air mata Sasya mengaburkan pandangannya saat ia berlari menuruni tangga gedung itu, langkahnya tidak terarah yang ada di kepalanya hanya satu potongan gambar yang terus berulang seperti rekaman rusak, Rava memeluk Gita dengan erat, terlalu erat, seolah dunia mereka hanya berdua.
“Sasya!”
Suara Rava terdengar dari belakang, Sasya justru berlari lebih cepat, ia menabrak beberapa siswa yang masih berada di koridor sore itu, bahkan buku-bukunya tertinggal berserakan di lantai gedung tadi, tapi ia tidak lagi pedul, dadanya terasa sesak, sangat sesak.
“Sasya, tunggu!” Tangan Rava akhirnya berhasil menangkap pergelangan tangannya tepat di area parkiran belakang sekolah.
Tubuh Sasya terhenti paksa, namun ia tidak berbalik, tangisnya pecah begitu saja.
“Lepas…” Suara Sasya muali terdengar rapuh.
“Sya, dengerin gue dulu.”
“Lepasin gue, Va.”
Rava mempererat genggamannya, napasnya memburu karena mengejar Sasya dari gedung tadi sampai parkiran.
“Itu nggak seperti yang lo pikirin.”
Kalimat itu justru membuat Sasya tertawa di tengah tangisnya, tawa yang menyakitkan, Sasya akhirnya membalikkan tubuhnya, matanya merah, wajahnya basah oleh air mata, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rava melihat Sasya menangis karena dirinya lagi.
“Gue capek denger kalimat itu, Va.”
“Sya...”
“Dulu gue percaya sama lo waktu semua orang ngomongin lo sama Gita.” Suara Sasya bergetar hebat.
“Gue bela lo di depan semua orang, bahkan gue masih diam disaat satu sekolah ngehina gue karena dianggap nggak pantas buat lo, gue berusaha tepis semua gosip-gosip itu”
air mata Sasya jatuh lagi, “tapi Lo tau apa yang gue lakukan? gue tetap milih percaya sama lo.”
“Sasya, please...” Rava mencoba menenangkan
“Tapi hari ini?” Sasya menatap Rava penuh luka, “Lo nyuruh gue percaya apa lagi setelah gue lihat sendiri?”
Rava terlihat menegang, tangannya berkali-kali mengusap wajah.
“Itu karena Gita habis dapat kabar kalau neneknya meninggal Sya.”
Sasya terdiam sesaat.
Rava melanjutkan dengan napas berat, “Dia pingsan waktu latihan, guru pembimbing kami keluar buat nyari bantuan, dan pas dia sadar…”
Rava menelan ludah, “…dia nangis.”
Sasya tetap diam, hening itu justru jauh lebih menyakitkan.
“Gue cuma nenangin dia sebagai temen.”
Tatapan Sasya perlahan turun, “Temen?”
Ia tersenyum pahit, “Lo tau nggak sih masalah terbesar kita apa?”
Rava terdiam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Angel Heart
Non-FictionSetelah pindah kesekolah barunya,gadis cantik yang kerap disapa sasya,bertemu dengan seseorang yang dikenal bernama rava Semenjak rava hadir dihidupnya,Dari situlah timbul sebuah rasa dihati sasya untuk memiliki rava sepenuhnya,setelah mencoba berba...
