10

6.1K 152 5
                                        

Sejak malam ketika Sasya menangis di pelukan Rava setelah kepergian Rio, hubungan mereka perlahan membaik. Rava kembali menjadi seseorang yang selalu ada, mengantar Sasya ke sekolah, membelikannya makanan saat gadis itu lupa sarapan. Bahkan sesekali menunggu Sasya pulang hanya untuk memastikan gadis itu tidak kembali menangis sendirian.

Dan saat ini Sasya merasa hidupnya mulai membaik, setidaknya, sampai semuanya berubah lagi. Perubahan itu terjadi perlahan, awalnya hanya pesan yang dibalas lebih lama, lalu telepon yang mulai jarang diangkat.

Kemudian Rava yang selalu punya alasan untuk pergi lebih dulu.

"Ada rapat olimpiade."

"Gue harus ke perpustakaan."

"Gue ada urusan."

Awalnya Sasya mencoba mengerti, Rava memang sedang dipersiapkan untuk olimpiade nasional mewakili sekolah, dan Sasya bangga akan hal itu, sangat bangga, namun lama-kelamaanperasaan takut mulai tumbuh.

Jam istirahat masuk kantin sekolah ramai seperti biasa, Sonya sibuk menghabiskan baksonya, sementara Fitri sedang mengerjakan tugas matematika, dan Sasya justru terlihat murung.

"Sya, lo kenapa?" tanya Fitri.

Sasya mengaduk minumannya pelan.

"Menurut lo orang bisa tiba-tiba berubah nggak sih?"

Sonya langsung menatap Sasya serius, "Rava?"

Sasya diam dan diamnya sudah cukup menjadi jawaban.

Fitri menghela napas pelan. "Sebenarnya gue nggak mau ngomong"

Jantung Sasya mendadak berdegup tidak nyaman. "Ngomong apa?"

Sonya dan Fitri saling pandang, Fitri akhirnya bicara pelan.

"Gue beberapa kali lihat Rava sering pulang bareng Gita."

Seketika tangan Sasya berhenti bergerak. "Hah?"

"Bukan sekali dua kali," sambung Sonya pelan. "Kemarin juga gue lihat mereka latihan bareng sampai sore."

Sasya memaksakan senyum kecil. "Oh..."

Hanya itu, yetapi setelahnya ia sama sekali tidak mendengar percakapan teman-temannya lagi.

Hari berikutnya, Sasya sengaja menunggu di depan gerbang sekolah, dan benar saja mobil Rava berhenti, namun bukan hanya Rava yang turun, tapi juga ada Gita yang ikut keluar dari mobil itu sambil tertawa kecil membicarakan sesuatu.

Dunia Sasya terasa berhenti selama beberapa detik, Rava langsung menyadari keberadaan Sasya, senyumnya mulai memudar.

"Sya..."

Gita ikut menoleh, wajah gadis itu langsung canggung.

"Gue duluan ya."Gita pergi meninggalkan mereka.

Kini hanya tersisa Sasya, Rava, dan keheningan panjang.

"Apa kabar?" tanya Rava pelan.

Sasya tertawa hambar.

"Seperti yang Lo liat"

Rava mengusap tengkuknya pelan. "Maaf Sya, akhir-akhir ini gue sibuk."

Angel Heart Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang