Langkah Sasya berjalan cepat meninggalkan kantin, air matanya hampir jatuh, tapi ia menahannya mati-matian. Ia benci menangis di tempat ramai. Terlebih di depan orang-orang yang baru saja menjadikannya bahan tontonan.
"Sa....Sasya! Tunggu!" Syifa berlari kecil mengejar saudara kembarnya itu hingga ke taman belakang sekolah.
Sasya berhenti mendadak yang membuat Syifa nyaris menabraknya dari belakang.
"Lo ngapain ikutin gue?" suara Sasya terdengar bergetar.
"Karena gue tahu lo lagi nggak baik-baik aja."
Kalimat sederhana itu justru membuat pertahanan Sasya runtuh, "Gue capek, Syif..."
Air matanya jatuh begitu saja, Syifa yang melihat itu langsung menarik Sasya ke dalam pelukannya.
"Gue capek banget..."
Syifa mengusap punggung adiknya pelan, "Lo masih sayang sama Rava?"
Sasya terdiam cukup lama.
"Sayang." jawabnya jujur.
"Terus masalahnya apa?" Tanya Syifa
Sasya tertawa pahit, "Dia selalu bikin gue merasa penting dihidup dia, tapi di saat yang sama dia juga bikin gue merasa bisa kehilangan dia kapan aja."
"Dan Dani?" Tanya Syifa lagi
Sasya langsung menggeleng cepat, "Gue bahkan nggak kenal dia."
Sasya menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
“Kadang gue pengen hidup gue biasa aja, Syi.”
“Biasa gimana?” Sahut Syifa
“Datang ke sekolah, belajar, pulang... marahin Sonya karena terlalu berisik, bantu Fitri ngerjain tugas, terus tidur tanpa harus mikirin hidup gue bakal hancur besok atau nggak.” Kata Sasya yang tersenyum hambar.
Syifa menatap wajah saudara kembarnya itu lama, mereka memang memiliki wajah yang identik, namun jika diperhatikan lebih lama, ada sesuatu yang berbeda dari mereka, Sasya tampak jauh lebih rapuh, sementara Syifa, dia terlihat lebih tegar, mungkin karena dia terlalu terbiasa menyimpan luka sendirian.
“Lo kuat, Sya.”
Sasya terkekeh kecil, “Kalimat paling bohong yang gue denger hari ini .
Syifa menggenggam tangan saudara kembarnya, “Gue serius, kalau gue ada di posisi lo, mungkin gue udah hancur dari dulu.”
Sasya menatap Syifa, “Lo juga banyak nyimpen sesuatu dari gue kan? Kenapa Lo gak hancur?”
Pertanyaan itu membuat Syifa membeku sesaat, tatapannya langsung menghindar.
“Kenapa ngomong gitu?”
Sasya menatap lurus ke depan, “Karena gue nggak sebodoh itu, gue tau kok kalau Lo mencoba menutupi semuanya dari gue.”
Syifa diam.
“Gue gak tau sampai kapan Lo sanggup untuk ga jujur, mungkin bertahun-tahun? Atau selamanya.”
Napas Syifa terasa berat, “Sya—”
KAMU SEDANG MEMBACA
Angel Heart
NonfiksiSetelah pindah kesekolah barunya,gadis cantik yang kerap disapa sasya,bertemu dengan seseorang yang dikenal bernama rava Semenjak rava hadir dihidupnya,Dari situlah timbul sebuah rasa dihati sasya untuk memiliki rava sepenuhnya,setelah mencoba berba...
