22

4.4K 116 10
                                        

Getaran ponsel di tangan Sasya terasa jauh lebih menakutkan dibanding pisau yang masih ia genggam, tangannya gemetar saat melihat layar yang terus menyala, nomor tak dikenal lagi.

"Kalau Lo mau liat Dani Hidup, datang sendiri ke Rumah Sakit Bintang Husada, jangan bawa polisi, jangan kasih tahu siapa pun, napas Sasya langsung tersangkut di tenggorokan.

Dunianya kembali terasa berputar, Rava yang berdiri beberapa langkah di belakangnya langsung menyadari perubahan wajah gadis itu, ia melangkah mendekat dengan hati-hati.

"Sasya..."

Sasya buru-buru menjauh.

"Jangan dekat-dekat."Suaranya bergetar.

Rava membeku di tempat, tatapan Sasya jatuh lagi ke layar ponselnya, ada satu foto tambahan yang baru masuk, kali ini lebih jelas, Dani berada di ranjang rumah sakit, kepalanya diperban, wajahnya penuh luka lebam, infus menempel di tangannya. Ia tampak tidak sadar.

Pisaunya terlepas dari genggaman dan jatuh ke lantai dengan bunyi nyaring, tubuhnya melemas, Rava refleks menangkap tubuh Sasya sebelum benar-benar jatuh, dan kali ini Sasya tidak punya tenaga untuk menolak, tubuhnya gemetar hebat di pelukan Rava, tapi pikirannya hanya dipenuhi satu nama, Dani.

"Gue harus ke sana..."Suaranya nyaris tidak terdengar.

Rava menatap layar ponselnya, rahangnya langsung mengeras membaca pesan itu."Ini jebakan."

"Gue nggak peduli!" bentak Sasya untuk pertama kalinya padanya.

Matanya merah, penuh air mata dan ketakutan."Kalau itu beneran Dani gimana?!"

Rava terdiam, Karena di balik semua kekacauan ini, satu hal yang paling ia takutkan adalah melihat Sasya kembali hancur di depan matanya, dan sekarang ia melihatnya lagi, bahkan lebih buruk.

Di lantai, Gita yang masih menangis sambil menahan pipinya mendadak tertawa kecil, awalnya pelan, lalu semakin jelas, Sasya menoleh perlahan, tatapan mereka bertemu, dan senyum Gita membuat bulu kuduk siapa pun berdiri.

"Lo pikir ini selesai?" bisiknya.

Rava langsung menatap Gita tajam."Apa maksud lo?"

Gita tertawa sambil menangis."Semua orang selalu milih Sasya."

Tatapannya beralih pada Sasya."Jadi gue pengen lihat... sejauh apa mereka bakal tetap milih lo kalau semuanya mulai hancur."

Sasya berjalan mendekat perlahan dengan tenaga yang tersisa, kali ini bukan marah, wajahnya justru kosong, tapi kosong yang menyeramkan.

"Lo yang lakuin ini ke Dani?"

Gita tersenyum tipis."Bisa jadi."

PLAK.

Tamparan kedua mendarat jauh lebih keras dari sebelumnya

"Kalau Dani kenapa-napa, Gue akan bikin hidup lo bakal lebih hancur dari gue."

Rava langsung menarik Sasya menjauh sebelum keadaan makin buruk.

"Kita ke rumah sakit sekarang." minta Sasya

"Kalau itu jebakan gimana?"tanya Rava

Angel Heart Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang