Kalung Permata

6.4K 152 6
                                        

Jam menunjukkan hampir tengah malam ketika suara notifikasi terdengar, bukan pesan biasa melainkan foto. Navira membukanya perlahan, itu foto langit malam yang gelap, diambil dari dalam mobil Arshaka, lalu satu pesan lagi masuk setelahnya.

"Aku di depan rumah kamu."

Napas Navira tercekat, ia segera bangkit dan berjalan cepat menuju jendela, dan benar saja, di bawah sana, mobil hitam Arshaka terparkir diam di seberang rumahnya, lampu taman yang redup membuat sosok lelaki itu terlihat samar bersandar di pintu mobilnya sambil menengadah memandangi rumah Navira.

Entah kenapa air mata Navira kembali jatuh, karena tidak ada yang pernah menunggunya seperti ini sebelumnya, tidak pernah ada seseorang yang memilih tetap tinggal bahkan ketika keadaan mulai menjadi puzzle yang rumit.

Ponselnya kembali bergetar.

"Aku tahu kamu marah, aku tahu kamu takut, tapi jangan hukum aku untuk sesuatu yang bahkan belum sempat aku jelaskan"

Kalimat itu menghantam tepat di dadanya, Navira memejamkan matanya rapat, selama ini ia selalu lari lebih dulu setiap kali takut terluka, namun Arshaka datang untuk bertahan, dan itu membuat dirinya bingung harus bagaimana.

Beberapa menit kemudian, langkah kaki Navira terdengar pelan menuruni tangga, rumahnya sudah sepi, semua orang pasti sudah tertidur, iamembuka pintu utama perlahan sebelum berjalan keluar menembus gerimis.

Arshaka langsung menoleh ketika melihatnya, tatapan lelaki itu berubah lega sesaat, namun tetap ada lelah yang tidak bisa disembunyikan di sana.

"Mas ini hujan loh." Suara Navira terdengar serak karena habis menangis.

Arshaka tersenyum tipis. "Aku takut kamu beneran hilang ."

Kalimat itu membuat Navira membeku, mereka berdiri saling berhadapan di bawah hujan kecil tanpa banyak bicara.

"Aku takut, Mas." Akhirnya itu yang keluar dari bibir Navira.

"Aku takut mikirin gimana akhirnya nanti." lanjutnya

Arshaka menatapnya lama sekali, lalu perlahan mendekat seolah memberi kesempatan pada Navira untuk mundur jika mau, namun perempuan itu tidak bergerak.

"Aku juga takut." Suara lelaki itu pelan tertelan hujan.

Tatapan mereka bertemu, dan lagi-lagi dunia terasa sunyi ketika mereka sedekat ini.

"Tapi aku lebih takut kehilangan kamu cuma karena kita sama-sama salah paham."

Arshaka mengangkat tangannya perlahan, menghapus air mata di pipi Navira dengan jemari yang dingin karena hujan, gerakan kecil itu terasa begitu lembut sampai membuat hati Navira semakin runtuh.

"Aku nggak janji semuanya baka baik-baik aja." Suara Arshaka nyaris seperti bisikan sekarang.

Dan malam itu, di bawah hujan dan langit yang terlalu gelap, Navira sedikit sadar kalau beberapa manusia memang datang bukan untuk menyelamatkan hidup kita, mereka hanya datang untuk menemani kita untuk sesaat.

Hujan turun semakin pelan, menyisakan udara dingin yang menggantung di antara mereka bersama perasaan-perasaan yang kini tidak lagi bisa disembunyikan. Navira masih berdiri dekat Arshaka, sampai ia bisa mendengar napas lelaki itu bercampur dengan suara hujan malam.

Angel Heart Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang