Takut Kehilangan

7.7K 171 7
                                        

Navira turun dari mobil dengan langkah pelan, udara malam terasa dingin di kulitnya, sementara suara hujan kecil masih terdengar samar di antara pepohonan taman rumahnya, lampu-lampu besar di teras menyala terang, membuat bangunan megah itu tampak semakin jauh dari kata hangat, sebelum pintu mobil tertutup, Navira sempat menoleh sekali lagi.

Arshaka masih memandang ke arahnya, tatapan tenang itu kembali membuat sesuatu di dalam dirinya bergetar pelan, dan sekarang Navira merasa takut kehilangan seseorang yang bahkan belum benar-benar ia miliki, ia masuk ke dalam rumah tanpa berkata apa-apa lagi, pintu besar tertutup perlahan di belakangnya, menyisakan Arshaka sendirian di luar bersama hujan dan pikirannya sendiri.

Rumah itu masih sunyi, langkah kaki Navira menggema pelan di lantai marmer ketika ia berjalan melewati ruang tengah, beberapa lampu sudah dimatikan, hanya tersisa cahaya kekuningan dari sudut ruangan yang membuat malam terasa semakin sepi, iaa baru saja ingin menaiki tangga, tapi suara Papanya terdengar dari ruang kerja.

“Navira.”

Perempuan itu berhenti, pintu ruang kerja terbuka sedikit, Bramardika Maheswari berdiri di sana dengan kemeja formal yang lengan bajunya digulung sampai siku, usianya tidak lagi muda, tetapi wibawanya tetap membuat siapa pun sulit membantah.

“Masuk sebentar.”

Navira hanya menurut, iya masuk ke ruang kerja Bramardika, ruangan itu dipenuhi aroma kayu dan kopi hitam, lampu meja menyala redup di tengah tumpukan dokumen kerja yang belum selesai.

Bramardika duduk perlahan sambil melepas kacamata. “Kamu dekat sama anak Wiryawan?”

Pertanyaan itu datang begitu saja, dan entah kenapa langsung membuat dada Navira terasa tidak nyaman.

“Siapa yang papa maksud?” Heran Navira.

"Pria yang tadi menjemputmu dihotel"

"Aku gatau siapa itu keluarga Wiryawan pa, dan kalau pun itu anaknya, emang kenapa pa? Apa dia musuh papa?" Tanya Navira

“Tidak, papa cuma bertanya.” Nada suaranya terdengar tenang.

“Arshaka anak baik,” lanjut Bramardika pelan. “Tapi keluarga mereka bukan keluarga yang sederhana untuk dimasuki.”

Navira menatap Bramardika tanpa bicara.

“Kamu ngerti maksud Papa?”

Sayangnya, Navira sudah mengerti maksud papanya itu, di dunia mereka hubungan bukan cuma soal perasaan, ada nama keluarga, relasi, citra, kepentingan, dan semua itu sering kali lebih besar daripada cinta.

“Aku nggak punya hubungan apa-apa sama dia.” Kalimat itu keluar dengan cepat dari mulut Navira, mungkin terlalu cepat.

Bramardika memperhatikan putrinya beberapa saat sebelum tersenyum tipis. “Papa cuma nggak mau kamu tersakiti.”

Lucu sekali, kadang orang tua berkata ingin melindungi anaknya, tetapi tanpa sadar justru menjadi alasan terbesar kenapa anaknya takut hidup dengan bebas. Navira keluar dari ruang itu dengan kepala yang terasa lebih berat, malam semakin larut ketika ia tiba di kamarnya.

Lampu kota terlihat samar dari balik jendela besarnya, hujan sudah berhenti, menyisakan jalanan basah dan langit yang gelap pekat, Navira duduk di lantai dekat tempat tidur sambil memeluk lututnya sendiri, pikirannya sekarang kacau, semuanya datang menghujam, tentang Aletha, tentang Papanya, dan juga tentang perasaan asing yang tumbuh terlalu cepat dan mulai membuat semuanya terasa rumit.

Angel Heart Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang