20

5.3K 131 9
                                        

Tiga hari setelah malam itu, Sasya akhirnya memutuskan untuk kembali ke sekolah, Pagi itu sama dengan pagi sebelumnya, langit terlihat cerah, terlalu cerah bahkan sangat bertolak belakang dengan suasana hati Sasya yang masih terasa berantakan, mobil yang dikendarai Syifa berhenti pelan di depan gerbang sekolah, tapi Sasya belum juga membuka pintu.

Tangannya masih berada di atas pangkuan, jemarinya saling menggenggam terlalu erat, Syifa yang duduk di kursi kemudi meliriknya sekilas, ia tahu ini bukan tentang malas sekolah, ini tentang keberanian untuk kembali menghadapi tempat yang beberapa minggu terakhir terasa seperti medan perang.

“Kalau lo merasa ga nyaman, kita gausah masuk kelas” suara Syifa lebih lembut dari biasanya.

Sasya menatap keluar jendela, sswa-siswi berlalu lalang seperti biasa, beberapa tertawa, beberapa sibuk dengan ponsel mereka, dunia tetap berjalan seperti tidak pernah peduli kalau hidup seseorang sedang hancur.

“Gue gamau terlihat terlalu lemah,” jawab Sasya pelan.

Syifa diam beberapa detik sebelum mengangguk kecil. “Kalau ada yang ganggu lo biar gue yang ganggu balik, kalau bisa gue banting pakai jurus gue”

Sasya menggeleng pelan sambil akhirnya membuka pintu mobil, dia tidak menghiraukan omongan Syifa sama sekali, begitu kakinya menginjak halaman sekolah, ia langsung bisa merasakan tatapan orang-orang, tidak seterbuka dulu, tapi tetap ada, bisik-bisik kecil terdengar dari beberapa sudut lorong.

"Itu Sasya..."

"Katanya sakit..."

"Yang sama Dani itu kan?"

Sasya menahan napas pelan lalu tetap berjalan lurus seolah ia tidak mendengar apa pun, padahal ia mendengar semuanya, setiap kata, setiap bisikan, setiap tatapan kasihan yang justru terasa lebih menyakitkan dibanding hinaan.

Sonya dan Fitri langsung menghampirinya begitu ia sampai di depan kelas, Sonya memeluknya tanpa aba-aba sampai Sasya hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya.

“Anjir, gue kira lo udah pindah negara.”

Sasya tertawa kecil. “Belum ada budget.”

Fitri menatap wajah Sasya lama, memastikan sahabatnya itu benar-benar baik-baik saja.

“Lo pucat banget Sya, kek orang kurang darah" kata Fitri.

“Ga kok, mungkin ya karena gue cantiknya kayak orang kurang darah.”

Sonya memukul lengannya pelan. “Masih sempat becanda berarti aman.”

Mereka masuk ke kelas bersama, dan untuk beberapa jam pertama semuanya terasa normal, sampai jam istirahat tiba, Sasya baru saja keluar dari kelas tapi langkahnya mendadak berhenti.

Rava berdiri di ujung koridor, masih dengan wajah lelah yang sama seperti beberapa hari lalu, hanya saja kali ini terlihat jauh lebih buruk, matanya merah seperti kurang tidur, rambutnya berantakan, dan ada sesuatu di wajahnya yang belum pernah Sasya lihat sebelumnya.

Rava terlihat seperti seseorang yang sedang bertahan agar tidak runtuh di tempat umum, suara koridor perlahan terasa menjauh bagi Sasya, jantungnya kembali berdetak terlalu cepat, tapi kali ini bukan rasa panik, ini adalah luka yang belum sembuh tapi dipaksa berdiri di depan penyebabnya.

Angel Heart Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang