Hari-hari setelahnya berlalu dengan cara yang sedikit aneh, tidak ada yang benar-benar berubah, tetapi Navira mulai menemukan Arshaka di banyak hal kecil yang sebelumnya terasa biasa saja, mereka mulai sering bertemu tanpa sengaja, atau mungkin semesta memang sengaja mempertemukan mereka berulang kali.
Kadang di toko buku kecil dekat pusat kota, kadang di kafe yang sama saat hujan turun, dan kadang hanya berupa pesan singkat di tengah malam.
“Masih bangun?”
Lalu berakhir dengan percakapan panjang tentang hal-hal yang tidak pernah mereka ceritakan kepada siapa pun, tentang takut, tentang kehilangan, tentang rumah yang tidak terasa seperti rumah, dan perlahan, tanpa disadari mereka mulai saling menjadi tempat cerita.
Malam itu kota dipenuhi oleh cahaya, gedung-gedung tinggi berdiri megah di bawah langit gelap, sementara kendaraan bergerak seperti aliran waktu yang tidak pernah berhenti. Navira berdiri di balkon ballroom hotel tempat makan malam keluarganya berlangsung. Gaun hitam panjang membalut tubuhnya dengan elegan. Rambutnya disanggul sederhana, memperlihatkan garis wajah yang tampak lebih dewasa malam itu.
Dari dalam ballroom terdengar suara tawa dan denting gelas-gelas mahal, orang-orang berbicara tentang bisnis, relasi, dan kehidupan sempurna yang dipoles sedemikian rupa, Navira membenci tempat seperti itu, semua orang terlihat palsu.
“Navi.”
Suara Maharani membuatnya menoleh, ia berjalan mendekat dengan senyum tipis yang selalu tampak anggun di depan banyak orang.
“Keluarga Wiratama sudah datang.”
Navira hanya mengangguk kecil.
“Mama harap malam ini kamu bisa lebih ramah ya.”
“Aku selalu ramah Ma.”
“Kamu terlalu dingin sayang.”
Kalimat itu membuat Navira ingin tertawa kecil, lucu sekali, padahal justru rumah itulah yang mengajarinya bagaimana menjadi dingin. Maharani merapikan sedikit bahu gaun putriny.
“Ada banyak hal yang harus dijaga dalam keluarga ini.” Kata Maharani lalu pergi begitu saja meninggalkan kalimat itu menggantung seperti lampu kristal yang ada diatas kepalanya.
Navira memandang lampu-lampu kota di bawah sana dengan dada yang mendadak sesak, kadang ia merasa hidupnya seperti kandang emas yang indah dilihat, tetapi tetap saja, itu adalah kandang.
Ponselnya bergetar pelan, tiba-tiba satu pesan masuk, ternyata itu dari Arshaka.
"Langit malam ini bagus banget loh. Sayangnya kamu Pasti nggak lihat."
Entah kenapa jantung Navira berdetak lebih cepat, ia mengetik balasan perlahan.
"Aku liat kok"
Beberapa detik kemudian balasan dari Arshaka kembali muncul.
"Kamu masih disana ya, pasti capek ya jadi manusia yang harus selalu sempurna."
Navira terdiam melihat balasan itu lalu tanpa sadar tersenyum kecil, karena di antara semua orang yang mengenalnya, hanya Arshaka yang selalu bisa melihat lelahnya tanpa perlu dijelaskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Angel Heart
No FicciónSetelah pindah kesekolah barunya,gadis cantik yang kerap disapa sasya,bertemu dengan seseorang yang dikenal bernama rava Semenjak rava hadir dihidupnya,Dari situlah timbul sebuah rasa dihati sasya untuk memiliki rava sepenuhnya,setelah mencoba berba...
