18

5.4K 121 4
                                        

Angin malam di sekitar Taman itu sudah tidak lagi sekeras beberapa menit sebelumnya, tapi tubuh Sasya masih belum benar-benar bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya sisa dari kepanikan yang baru saja menghantamnya

Tangannya masih dingin, napasnya masih belum teratur, dan sesekali tubuhnya bergetar kecil meski ia sudah tidak menangis sekeras tadi, Dani masih duduk di sampingnya,  memberi ruang, dan juga memastikan Sasya tidak hilang lagi dari dirinya sendiri.

Lampu taman yang temaram membuat wajah Sasya terlihat lebih pucat dari biasanya, matanya sembab, tapi kosong di saat yang bersamaan, seperti seseorang yang terlalu lelah untuk memproses apa pun lagi, Dani memperhatikan itu lama.

“Lo masih bisa jalan?” tanyanya pelan.

Sasya tidak langsung menjawab, ia mencoba menggerakkan kakinya sedikit, lalu mengangguk kecil, meski gerakannya jelas tidak meyakinkan.

Dani menghela napas pendek, lalu berdiri lebih dulu. “Gue anter pulang ya.”

Sasya langsung menatapnya.“Gue bisa sendiri.”

Kalimat itu terdengar refleks, seperti kebiasaan yang dipaksakan, bukan keyakinan Dani menoleh sedikit, lalu menatapnya tanpa ekspresi berlebihan.

“Lo tadi juga bilang kalau lo bisa sendiri.”

Kemudian hanya Hening yang menyala, kalimat itu tidak terdengar menyalahkan, tapi cukup untuk membuat Sasya diam, tangannya perlahan meremas ujung bajunya sendiri.

“Gue nggak akan nanya lo kuat atau nggak, Gue cuma nggak mau lo pulang sendirian.”

Sasya menatap tanah beberapa detik, lalu menghela napas panjang, kali ini tidak ada perlawanan.

“Yaudah." Satu kata kecil yang terasa jauh lebih berat dari biasanya.

Mobil Dani tidak terlalu jauh dari taman.
Sepanjang langkah menuju parkiran, tidak banyak percakapan terjadi, hanya suara langkah kaki mereka di antara jalan setapak dan suara kota yang tetap berjalan seperti biasa, seolah tidak ada apa pun yang baru saja runtuh di dalam diri seseorang beberapa menit lalu.

Saat sampai di mobil, Dani membuka pintu penumpang, Sasya berhenti sejenak, tangannya ragu di udara, bukan karena takut, tapi karena tubuhnya masih belum sepenuhnya kembali menjadi miliknya sendiri.

“Lo mau berdiri di situ sampai pagi?” ucap Dani,, nada suaranya ringan, tapi tidak bercanda.

Sasya mendecih pelan, hampir tidak terdengar, lalu ia masuk ke mobil, pintu ditutup pelan, di dalam mobil, suasana terasa lebih sunyi, AC menyala pelan, radio tidak dihidupkan, dan jalanan yang mereka lewati hanya ditemani lampu-lampu jalan yang berjejer rapi, Sasya duduk bersandar, kepalanya sedikit menoleh ke jendela, matanya tidak fokus pada apa pun di luar.

Dani menyetir tanpa banyak bicara, hanya sesekali melirik ke arah sampingnya, beberapa menit berlalu dalam diam, sampai akhirnya suara Dani terdengar lagi.

“Lo mau minum?” Sasya menggeleng kecil.

Dani mengangguk. “Yaudah.”

Hening kembali turun, tapi kali ini tidak seberat sebelumnya, lebih seperti ruang kosong yang dibiarkan ada. Mobil itu melaju pelan di jalan yang mulai lengang, lampu-lampu toko di pinggir jalan berkelebat satu per satu seperti garis cahaya yang memanjang di dalam mobil, suasana sudah tidak lagi setegang di taman, tapi juga belum benar-benar pulih.

Angel Heart Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang