Langit terlihat mendung sejak subuh, seolah kota itu ikut menahan sesuatu yang berat di udara, jalanan menuju sekolah masih sedikit basah oleh hujan semalam ketika mobil yang membawa Rava akhirnya memasuki gerbang sekolah.
Setelah hampir lima hari berada di luar kota untuk olimpiade, tempat itu seharusnya terasa familiar, namun pagi itu semuanya terasa berbeda, Rava turun dari mobil dengan wajah lelah, ia bahkan masih mengenakan jaket olimpiadenya karena terburu-buru berangkat dari hotel menuju rumah, lalu langsung ke sekolah tanpa benar-benar beristirahat dengan layak.
Matanya terlihat kurang tidur, pikirannya jauh lebih kacau, sepanjang perjalanan pulang semalam, ia terus mencoba menghubungi Sasya, panggilan tidak diangkat, dan pesannya pun tidak dibalas.
Begitu ia melangkah masuk ke koridor utama sekolah, suasana langsung berubah, bisik-bisik terdengar di mana-mana, beberapa siswa menoleh terlalu lama, Rava mengernyit ia baru pergi lima hari, kenapa rasanya seperti ia melewatkan satu perang besar.
Raka adalah orang pertama yang ia temui di depan kelas, ia baru saja kembali dari kantin sambil membawa dua roti di tangannya dan langkahnya langsung berhenti ketika melihat Rava.
Ekspresi Raka berubah menjadi campuran terkejut dan canggung.
Rava berjalan mendekat cepat.“Mana Sasya?”
Raka bahkan belum sempat menyapa.
“Mana Sasya?”Nada suara Rava lebih tajam dari biasanya.
Raka menelan ludah, selama ini Rava memang tenang, tapi pagi itu ada sesuatu di wajahnya yang terlihat benar-benar berantakan.
“Dia nggak masuk.”
Jawaban itu membuat rahang Rava menegang. “Kenapa?”
Raka terdiam sesaat, karena jujur saja ia tidak tahu harus mulai dari mana, dari foto Dani? Dari komentar Sasya? Dari drama Gita? Atau dari fakta bahwa Sasya hampir hancur semalam?
“Raka.”Suara Rava lebih rendah sekarang.
Raka akhirnya menghela napas panjang. " Gue gatau dia kemana, kenapa malah nanya gue, emang gue bapaknya"
Rava menatapnya tajam, dan selama beberapa menit berikutnya, wajah Rava perlahan berubah semakin gelap.
"Dia lagi butuh istirahat, kondisinya lagi ga baik" Kata Fitri yang baru saja tidak sengaja mendengar percakapan dua lelaki itu.
Rava membeku di tempat. “Kenapa kondisinya nggak baik?”
Raka mengusap wajah frustasi. “Semalam dia paniknya kambuh, dia cuma sendiri malam tadi.”
“Terus siapa yang bantu dia?”
Raka diam, dan diam itu cukup membuat firasat buruk muncul.
“Siapa?”
“Dani.” sahut Fitri.
Satu kata itu terasa seperti pukulan telak, Rava tertawa kecil, namun tidak ada humor di sana, hanya rasa hancur yang terlalu sulit dijelaskan..
Raka menatapnya hati-hati. “Va”
"Jadi semalam dia bareng sama Dani?" Tanya Rava.
"Lo gabisa nyalahin Dani, harusnya lo berterima kasih sama dia, kalau gaada dia mungkin saja Sasya udah mati sekarang" Kata Fiti.
"Fit, jaga mulut Lo"kesal Rava.
"Gue atau Lo?" Balas Fitri.
"Fitri udah"tegur Raka.
"Gue emang gabisa jaga mulut gue soal bicara, tapi Setidaknya gue masih bisa jaga mulut gue untuk tidak dicum oleh sembarangan orang" Sarkas Fitri.
Kalimat itu langsung menusuk menembus ulu hatinya, kalimat itu terdengar seperti sedang menyindirnya, apa Fitri tau sesuatu? Tentang dia dan Gita malam itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Angel Heart
NonfiksiSetelah pindah kesekolah barunya,gadis cantik yang kerap disapa sasya,bertemu dengan seseorang yang dikenal bernama rava Semenjak rava hadir dihidupnya,Dari situlah timbul sebuah rasa dihati sasya untuk memiliki rava sepenuhnya,setelah mencoba berba...
