Kamar hotel tempat Rava menginap selama olimpiade itu terasa jauh lebih sempit dari biasanya, bukan karena ruangannya kecil, tapi karena pikirannya tidak pernah benar-benar diam, untungnya malam ini adalah malam terakhirnya dia disini, Rava sudah tidak sabar balik kesekolah, lebih tepatnya tidak sabar bertemu dengan Sasya, ia sudah menanti untuk menyelesaikan semua masalahnya dengan Sasya, dan membuktikan bahwa dia yang benar-benar baik dan yang paling mencintai Sasya.
Sejak melihat unggahan Sasya bersama Dani, Rava memang tidak banyak bicara, ia tetap mengikuti jadwal lomba, tetap menjawab soal, tetap duduk di ruang diskusi seperti biasa hanya saja ada bagian dirinya yang seperti tidak ikut hadir, dia tahu itu pasti karena konfliknya dengan Sasya, setelah pulang nanti dia akan menjelaskan semuanya, dan dia benar-benar akan membuat Sasya menjadi miliknya seorang diri.
Malam itu Rava keluar dari kamarnya hendak mencari angin segar, dan tanpa Rava sadar ternyata Gita mengikuti dirinya yang berjalan menuju rooftoop. Angin malam cukup dingin, lampu kota di bawah berkelip pelan, Rava berdiri bersandar di dinding rooftoop, tanpa menatap siapa pun.
“Lo masih mikirin dia?” suara Gita akhirnya memecah hening.
Rava tidak langsung menjawab.
“Gue nggak punya energi buat mikirin apa pun sekarang.”
Gita tersenyum tipis, tapi tidak sampai ke matanya.“Termasuk gue?”
Rava akhirnya menoleh sedikit. “Jangan mulai, kenapa Lo ngikutin gue”
Gita melangkah lebih dekat. “Gue nggak mulai apa-apa, Gue cuma capek jadi orang yang selalu ada di posisi kedua.”
Rava menghela napas panjang. “Gita, kita di sini buat olimpiade.”
“Gue tahu.” suaranya naik sedikit. “Tapi lo bahkan nggak sadar kan, gue selalu ada di samping lo dari awal?”
Rava diam, dan diam itu sudah cukup menjawab semuanya, Gita tertawa kecil.
“Lucu ya… orang yang lo kejar malah nggak pernah lihat lo, tapi orang yang selalu ada malah lo anggap angin.”
Rava mengernyit. “Gita, stop.”
Namun Gita tidak berhenti. "Gue capek jadi orang yang selalu ada Va, tapi Lo ga pernah sadar dengan keberadaan gue.”
Suasana menjadi hening lagi, lebih berat dari sebelumnya, Gita menatapnya lama, lalu menghela napas pelan seperti mengambil keputusan besar.
“Kalau gitu… biar lo sadar.”
Rava belum sempat menjawab, Gita tiba-tiba menarik kerah kemeja Rava dan mencium Rava, tidak lama tapi cukup untuk membuat waktu terasa berhenti.
Rava langsung mundur refleks.“Gita!”
Gita berdiri diam, napasnya sedikit tidak stabil, tapi matanya tegas.
“Gue cuma mau lo sadar kalau gue juga nyata.”
Rava menatapnya tidak percaya. “Lo ngapain? Lo gila?”
Gita mengangkat ponselnya, di layar, ada foto yang baru saja diambil, Rava masih terlihat kaget, dan Gita yang terlalu dekat dengannya, itu bukan dekat, itu sebuah ciuman.
“Biar adil.” katanya pelan.
Rava langsung merebut ponsel itu. “Lo gila?”
Gita tidak menjawab, hanya menatapnya lama.
“Sekarang kita tinggal lihat… siapa yang bakal lo kejar setelah ini Rava" katanya lalu turun dari rooftoop.
Diwaktu yang sama Sasya tengah duduk di bangku batu taman belakang mall dengan napas yang masih agak tersengal setelah kelas modelnya selesai, suara kota di belakangnya terasa jauh, kalah oleh angin sore yang lewat pelan di antara pepohonan kecil taman, tubuhnya terasa sangat lelah kali ini, dia mencoba istirahat sebentar sebelum benar-benar pulang kerumah. Di tangannya ada ponsel, layar yang masih menyala, didalam keheningan , sebuah pesan masuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Angel Heart
Non-FictionSetelah pindah kesekolah barunya,gadis cantik yang kerap disapa sasya,bertemu dengan seseorang yang dikenal bernama rava Semenjak rava hadir dihidupnya,Dari situlah timbul sebuah rasa dihati sasya untuk memiliki rava sepenuhnya,setelah mencoba berba...
