Setelah malam itu, hubungan mereka berubah perlahan, bukan menjadi hubungan yang memiliki nama, namun jauh lebih dalam dibanding sekadar kedekatan biasa. Arshaka mulai lebih sering hadir dalam hidup Navira, menjemputnya diam-diam setelah kela, mengiriminya lagu-lagu tengah malam, mendengarkan semua hal yang bahkan tidak bisa Navira ceritakan pada dirinya sendiri, dan tanpa sadar, Navira mulai bergantung pada keberadaan lelaki itu.
Ia mulai mencari Arshaka setiap hari, mencari suaranya, pesannya, bahkan tatapannya, seolah dunia akan terasa sedikit lebih berat jika lelaki itu tidak ada, ladang cinta memang datang seperti candu yang mengusik pelan, hangat, tetapi diam-diam membuat seseorang tidak tahu lagi bagaimana caranya lepas.
Sore, semuanya mulai berubah, hari itu langit sangat cerah, Navira baru saja keluar dari kelas ketika Soreya berlari kecil menghampirinya dengan wajah panik.
“Navi.”
Perempuan itu langsung merasa janggal, “Ada apa?”
Soreya menyerahkan ponselnya. “Aku nggak tahu ini bener atau nggak…”
Navira menunduk melihat layar, dan detik itu juga, seluruh tubuhnya terasa dingin, sebuah foto memenuhi layar ponselnya, foto Arshaka bersama Aletha, mereka sedang duduk di sebuah restoran mewah dengan kedua keluarga mereka di sana, namun bukan itu yang membuat dada Navira hancur perlahan, melainkan caption berita di bawah foto tersebut.
“Kedekatan keluarga Wiryawan dan Pramudita kembali menjadi sorotan, banyak pihak menduga hubungan Arshaka Wiryawan dan Aletha Pramudita akan segera menuju jenjang yang lebih serius.”
Dunia mendadak terasa terlalu sunyi, Navira membaca kalimat itu berulang kali, namun tetap terasa sama menyakitkannya.
Soreya langsung menggenggam lengannya pelan. “Navi…”
Tetapi Navira tidak mendengar apa pun lagi, marena ia sadar bahwa dunia bisa merebut seseorang bahkan sebelum sempat benar-benar dimiliki. Navira tidak menangis, justru itulah yang paling menyakitkan. Ia hanya berdiri diam di tengah koridor kampus dengan layar ponsel yang masih menyala di tangannya, semua orang berlalu-lalang di sekitar mereka, suara langkah kaki dan percakapan terdengar samar seperti gema yang jauh.
Namun dunia Navira mendadak kehilangan suara, dadanya terasa kosong, ladahal Arshaka belum pernah benar-benar menjadi miliknya, tetapi kenapa rasanya seperti kehilangan sesuatu yang sangat besar?
“Navi…”
Soreya menggenggam pelan bahunya. “Kamu gapapa?”
Navira tersenyum kecil, senyum yang rapuh sekali. “Ah gapapa, emang kenapa sama foto ini?.”
"Aku pikir kamu kenapa-napa tadi, aku cuma mau liatin, ternyata Kak Arsha sama Kak Aletha itu cocok banget ga si, fiks mereka harus beneran nikah sih ini" Kata Soreya dengan histeris.
Tiba-tiba Navira terbatuk, "Kamu kenapa mereka?" Tanya Navira.
"Kenal dong Navi, siapa si yang nggak kenal sama Kak Aletha, oh iya kamu dekat kan sama dia, lain kali ajak aku ketemu dia ya, akun fans berat kak Aletha, fiks no debat" lanjut Soreya
Navira menarik nafasnya dalam, "iya-iya nanti aku kenalin, kalau gitu aku duluan ya"
"Andai kamu tau tentang aku dengan Mas Arshaka Re, mungkin reaksi kamu akan berbeda" Gumam Navira yang mulai menjauh dari pandangan Soreya.
Kadang luka paling besar memang datang dari hubungan yang belum sempat diberi nama, sepanjang perjalanan pulang, Navira terus memandangi foto itu. Arshaka terlihat tenang seperti biasa, dan Aletha tersenyum anggun di sampingnya, kedua keluarga mereka tampak serasi, bahkan nyaris sempurna.
Sepertinya dunia memang sudah menyiapkan akhir cerita untuk mereka sejak awal, sedangkan Navira? Mungkin dia hanya seseorang yang datang di waktu yang salah, atau seseorang yang terlalu berharap pada hal yang sejak awal bukan untuknya.
Ponselnya bergetar berkali-kali, nama Arshaka muncul di layar, namun Navira tidak mengangkatnya, karena ia takut mendengar penjelasan apa pun, kadang kenyataan terasa lebih mudah diterima sebelum dijelaskan terlalu jauh.
Malam turun perlahan ketika Navira tiba di rumah, ia langsung masuk ke kamar tanpa makan malam, dan tanpa bicara pada siapa pun, langit di luar jendela tampak gelap, persis seperti isi kepalanya sekarang.
Ponselnya kembali bergetar, satu pesan masuk.
"Kamu kenapa?"
Navira memandangi pesan itu lama lalu mengetik balasan dengan jemari yang gemetar kecil.
"Harusnya mas bilang dari awal."
Pesan itu langsung dibalas.
"Bilang apa Navira?"
Napas Navira tercekat, air matanya akhirnya jatuh perlahan.
"Tentang mbak Aletha dan kemungkinan pertunangan itu."
Tiga titik muncul di layar cukup lama, lalu hilang, muncul lagi, dan kemudian hilang lagi, seolah Arshaka tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana, akhirnya satu pesan masuk.
"Aku nggak pernah setuju soal itu."
Navira menutup matanya rapat, karena justru itu yang membuat semuanya semakin menyakitkan, bukan soal Arshaka mencintai Aletha atau tidak, melainkan kenyataan bahwa dunia mereka terlalu besar untuk dilawan hanya dengan perasaan.
"Tapi itu tetap bisa terjadi, kan?"
Hening, tak ada balasan, dan diam itu terasa lebih menyakitkan dibanding jawaban apa pun, Navira tertawa kecil di sela tangisnya sendiri.
“Akhirnya begini juga,” bisiknya lirih pada dirinya sendiri.
Ia tahu sejak awal semuanya akan rumit seperti ini, namun ia tidak menyangka perasaannya bisa tumbuh sedalam ini sampai akhirnya mulai menghancurkan dirinya perlahan.
Ponselnya kembali berdering, kali ini panggilan video dari Arshaka, Navira hanya menatap layar itu dengan dada sesak, ia ingin mengangkatnya, inbgin melihat wajah lelaki itu, ingin mendengar suaranya yang mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja, getapi di sisi lain, ia takut semakin sulit pergi jika malam ini tetap bertahan.
Panggilan itu berhenti, lalu masuk lagi, dan lagi, sampai akhirnya satu pesan terakhir muncul:
"Navira, jangan menghilang seperti ini."
"Tolong."
Kalimat sederhana itu langsung membuat hati Navira runtuh tanpa sisa karena ia sadar bahwa bukan hanya dirinya yang takut kehilangan, Arshaka juga.
Navira memeluk lututnya di atas lantai kamar, lampu sengaja dimatikan sejak tadi, membiarkan cahaya kota masuk samar dari balik jendela besarnya, ponselnya masih berada di genggaman, pesan terakhir dari Arshaka itu belum berhenti ia baca.
"Tolong."
Satu kata sederhana, namun terdengar begitu rapuh ketika datang dari seseorang seperti Arshaka, dan itu yang membuat hati Navira semakin sakit karena selama ini lelaki itu selalu terlihat kuat, telalu tenang, seolah ia mampu mengendalikan semuanya.
✨✨✨✨
KAMU SEDANG MEMBACA
Angel Heart
No FicciónSetelah pindah kesekolah barunya,gadis cantik yang kerap disapa sasya,bertemu dengan seseorang yang dikenal bernama rava Semenjak rava hadir dihidupnya,Dari situlah timbul sebuah rasa dihati sasya untuk memiliki rava sepenuhnya,setelah mencoba berba...
