Hilang Kendali

6.2K 153 9
                                        

Tidak ada yang langsung menjawab, keheningan menggantung di ruang tengah seperti sesuatu yang siap pecah kapan saja, lampu kristal di langit-langit memantulkan cahaya pucat ke wajah semua orang yang membuat suasana terlihat semakin dingin.

Navira bisa merasakan jemarinya sendiri mulai menegan, sedangkan Arshaka berdiri di sampingnya dengan ekspresi tenang yang terlalu dipaksakan.

“Kami habis dari luar.”

Suara Arshaka akhirnya terdengar, wala cukup datar, Adreswara menatap putranya lama sekali, tatapan seorang ayah yang terbiasa mengendalikan keadaan hanya dengan diam.

“Berdua?”

Satu kata itu jatuh seperti tekanan, Arshaka tidak mengalihkan pandangannya.

“Iya.”

Maharani saling melirik singkat dengan Bramardika, sedangkan Larasati, mami Arshaka hanya duduk diam dengan jemari yang saling menggenggam di pangkuannya seperti biasa.

“Papi pikir kamu sudah cukup dewasa untuk ngerti batas.”

Nada suara Adreswara tetap rendah, justru itu yang membuatnya terasa lebih menekan. Navira tampak menunduk sedikit, perasaan bersalah yang aneh mulai merayap di dadanya, padahal mereka tidak melakukan sesuatu yang salah, namun beginilah dunia mereka bekerja.

“Aku ngerti Pi.” Jawab Arshaka dengan pelan. “Tapi aku juga ngerti kalau hidup aku bukan sepenuhnya urusan orang lain.”

Udara di ruangan itu seperti berhenti bergerak Navira menoleh cepat ke arah Arshaka, ini pertama kalinya ia melihat lelaki itu membalas papinya secara langsung, dan sesuatu dalam tatapan Adreswara langsung berubah menjadi lebih dingin.

“Kamu lupa orang lain yang kamu maksud itu adalah papi?”

“Aku cuma capek hidup sesuai aturan yang papi mau.”

Kalimat itu terdengar tenang, namun justru karena terlalu tenang, semua luka di dalamnya terasa jelas.

Larasati langsung mengangkat wajah. “Shaka…”

“Aku nggak bikin masalah apa-apa Mi.” Balas Arshaka

Adreswara tertawa kecil. “Kamu pikir semua ini cuma soal masalah?”

Lelaki paruh baya itu melangkah mendekat perlahan. “Kamu anak Wiryawan."

“Kamu punya tanggung jawab lebih besar daripada sekadar mengikuti perasaan yang hanya sesaat.” Tatapannya tajam menatap Arshaka.

Kalimat itu menghantam Navira tanpa sengaja, perasaan sesaat? Entah kenapa dadanya terasa nyeri mendengarnya.

“Papi nggak tau apa itu perasaan"

Navira mulai merasa dirinya tidak seharusnya ada di sana, seolah tanpa sadar ia telah masuk terlalu jauh ke dunia yang penuh aturan dan ekspektasi.

Bramardika akhirnya berdiri mencoba menenangkan keadaan. “Sudah, kita nggak perlu membesar-besarkan masalah ini, biasalah anak muda”

Namun Adreswara tetap tidak mengalihkan pandangannya dari Arshaka, dia mengabaikan perkataan Bramardika.

“Papi cuma nggak mau kamu lupa siapa diri kamu.”

Angel Heart Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang