"Aku nyaman sama kamu.”
Sederhana, namun terdengar jauh lebih tulus dibanding kata cinta yang sering diucapkan banyak orang.
“Aku bisa jadi diri sendiri waktu sama kamu.”
Navira menatap lelaki di depannya tanpa suara, jantungnya berdetak terlalu keras, Arshaka jarang berbicara banyak tentang perasaannya, karena itulah setiap kalimat yang keluar darinya selalu terasa nyata.
“Dan itu nggak pernah aku rasain sama siapa pun.”
Mata Navira terasa hangat, ia tidak tahu kenapa akhir-akhir ini dirinya menjadi begitu rapuh di depan Arshaka, mungkin karena ini pertama kali baginya ada seseorang yang tidak mencintai dari kesempurnaannya.
Hening kembali menyapa keduanya, namun kali ini terasa berbeda, bahkan terasa lebih dekat, dan lebih berbahaya. Arshaka memandang Navira lama sekali sebelum akhirnya mengangkat tangan perlahan, jemarinya menyentuh rambut Navira yang tertiup angin, menyelipkannya pelan ke belakang telinga.
Tetapi berhasil membuat napas Navira tercekat, tatapan mereka bertemu, itu terasa dekat sekali, dan dunia seperti mendadak kehilangan suara.
"Tapi mas tidak tau siapa aku, kita juga baru kenal beberapa bulan ini, dan kit..." Omongan Navira terputus karena Arshaka memotongnya.
"Tidak Navira, kamu salah, aku tau siapa kamu, dan kita sudah lama kenal, cuma kamu baru menyadari itu" Potong Arshaka.
"Mungkin mas salah orang" Timpalnya.
"Selain tidak punya semangat hidup, ternyata kamu juga keras kepala ya" Balas Arshaka.
"Aku bukan keras kepala mas, yang aku bilang benar kok, kita baru kenal beberapa bulan ini, dan pertemuan pertama kita di kafe dekat kampus aku" Kata Navira dengan penuh tekanan.
Arshaka tertawa kecil, "Iya kamu ga keras kepala, kamu emang baru kenal aku waktu kita bertemu di kafe, tapi aku kenal kamu jauh sebelum itu, tepatnya tahun lalu mungkin, waktu pemakaman nenek kamu"
"Hah?" Navira mengernyit heran.
"Tidak ada lagi yang bisa kamu bantah itu nyata Navira, waktu itu kamu menjatuhkan jepitan kupu-kupu, lalu aku ambil dan aku berniat untuk mengembalikannya lagi, tapi setelah aku cari-cari kamu gaada, dan akhirnya jepitan itu aku bawa pulang" Jelas Arshaka.
Navira diam menatap Arshaka.
"Dan dijepitan itu tertulis nama Navira yang diukir dengan tinta emas" Arshaka tersenyum dengan tenang, "Sekarang ga ada lagi yang bisa kamu bantah.
"Apa selama ini mas ngikutin aku?"
"Of course" Balasnya singkat.
Navira terdengar mendengus kesal dan memalingkan matanya kearah ombak yang terhempas didepan sana.
“Navira…” Suara Arshaka terdengar rendah dan pelan.
Seolah lelaki itu sendiri sedang berusaha menahan sesuatu, namun sebelum sesuatu terjadi, suara ponsel Arshaka tiba-tiba memecah suasana.
Arshaka menatap layar ponselnya sebentar a, ekspresinya langsung berubah tipis, nama yang muncul di sana adalah Papi, dan malam itu Navira melihat bagaimana ketenangan Arshaka retak hanya karena satu panggilan. Arshaka tidak langsung mengangkat panggilan itu, ia hanya menatap layar ponselnya beberapa detik seolah sedang mempertimbangkan apakah malam ini ia cukup kuat menghadapi dunia di luar atau tidak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Angel Heart
Non-FictionSetelah pindah kesekolah barunya,gadis cantik yang kerap disapa sasya,bertemu dengan seseorang yang dikenal bernama rava Semenjak rava hadir dihidupnya,Dari situlah timbul sebuah rasa dihati sasya untuk memiliki rava sepenuhnya,setelah mencoba berba...
