Keesokan paginya, suasana sekolah terasa berbeda bahkan sebelum Sasya benar-benar turun dari mobilnya, begitu mobil berhenti di depan gerbang, ia sudah menangkap beberapa tatapan aneh dari siswa-siswa yang sedang berjalan masuk, dua siswi dari kelas sebelah langsung berhenti bicara saat melihatnya, salah satu dari mereka bahkan buru-buru menyembunyikan ponselnya.
Sasya mengernyit kecil, perasaan tidak nyaman itu datang lagi, lerasaan yang sama seperti saat foto Rava dan Gita pertama kali tersebar, seperti Dejavu.
Ia menarik napas panjang, berusaha berpikir positif, mungkin ia hanya terlalu sensitif akhir-akhir ini, namun semakin ia berjalan memasuki gedung sekolah, semakin jelas bisik-bisik itu terdengar, beberapa orang menoleh terlalu lama, beberapa lainnya menatapnya dengan ekspresi penasaran.
Ada juga yang tersenyum tipis seolah sedang menikmati sesuatu, langkah Sasya perlahan melambat, tangannya tanpa sadar mencengkeram tali tas lebih erat, koridor yang biasanya terasa biasa saja mendadak seperti panggung pertunjukan yang membuatnya ingin berbalik pulang saat itu juga.
Saat ia hampir sampai di kelas, Sonya tiba-tiba berlari kecil dari arah tangga dengan wajah panik, rambutnya sedikit berantakan dan napasnya ngos-ngosan.
“Sya…”
Sasya langsung tahu ada sesuatu yang salah.
Tatapannya berubah tajam.
“Apalagi sekarang?”
Sonya membuka mulut, tapi tidak langsung menjawab, gadis itu justru terlihat ragu, seolah sedang mempertimbangkan apakah menunjukkan hal itu adalah keputusan yang benar, tak lama Fitri muncul dari belakang sambil membawa buku tugas, Syifa yang baru datang dari arah parkiran itu pun ikut menghampiri mereka, wajahnya terlihat bingung melihat suasana mendadak tegang di depan kelas.
“Ada apa?” Tanya Sasya?
Sonya akhirnya menyerahkan ponselnya pelan pada Sasya, ia langsung mengambil ponsel itu tanpa bicara, tatapannya langsung jatuh pada unggahan terbaru akun gosip sekolah, jemarinya membeku, itu foto-foto dia bersama Dani kemaren yang menunggu hujan teduh di lobby.
Dan dari sudut pengambilan gambar itu, mereka benar-benar terlihat seperti sepasang kekasih.
Sasya beralih membuka kolam Comment, dan disana kepalanya mulai terasa memanas, wajah Sasya perlahan kehilangan ekspresi, ia membaca semuanya sampai habis, lalu layar ponsel itu perlahan menggelap saat jemarinya berhenti bergerak, Syifa yang berdiri di sampingnya langsung merebut ponsel itu kasar.
Sekarang wajah Sasya berubah penuh amarah, ia masuk kekelas tanpa menghiraukan temannya lagi, koridor kelas masih dipenuhi bisik-bisik saat Sasya duduk di bangkunya.
Suasana kelas mulai terasa aneh, terlalu sunyi untuk ukuran pagi hari, beberapa teman sekelasnya berpura-pura sibuk membuka buku, padahal sesekali tetap melirik ke arahnya, ada juga yang terang-terangan membuka akun gosip sekolah sambil berbisik pada teman sebangku.
Sasya duduk diam, ponselnya tergeletak di atas meja dalam keadaan mati, Sonya duduk di sampingnya dengan gelisah, berkali-kali menatap wajah sahabatnya itu, Fitri pura-pura membaca buku, Raka berhenti bercanda, bahkan Syifa yang biasanya paling meledak-ledak kini hanya berdiri bersandar di meja Sasya sambil mengamati saudara kembarnya itu dengan waspada.
Mereka semua tahu satu hal, Sasya terlihat tenang, dan itu justru berbahaya, karena setiap kali Sasya terlalu tenang berarti ada sesuatu di kepalanya yang sedang bekerja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Angel Heart
Non-FictionSetelah pindah kesekolah barunya,gadis cantik yang kerap disapa sasya,bertemu dengan seseorang yang dikenal bernama rava Semenjak rava hadir dihidupnya,Dari situlah timbul sebuah rasa dihati sasya untuk memiliki rava sepenuhnya,setelah mencoba berba...
