Pagi setelah kepergian Rava terasa jauh lebih sunyi dari biasanya, Sasya duduk di dalam mobil sambil menatap layar ponselnya yang kosong, tidak ada pesan dari Rava pagi itu, idak ada notifikas, tidak ada panggilan tak terjawab seperti biasanya.
Dan anehnya justru itu yang membuat dadanya terasa semakin sesak, semalam ia sempat menyalakan ponselnya kembali, hanya untuk menemukan satu pesan dari Rava.
"Gue pergi lima hari. Gue kasih lo ruang dulu. Tapi gue bakal pulang dan benerin semuanya."
Sasya membaca pesan itu berkali-kali, lalu tetap tidak membalas, ia mematikan layar ponselnya dan menatap jalanan di depan dengan kosong, hari itu sekolah berjalan biasa saja, terlalu biasa, Sonya ribut soal tugas presentasi Fitri mengomel karena nilai kuisnya turun, Syifa masih seperti biasa, meski diam-diam terus memperhatikan Sasya.
Sementara Sasya berusaha terlihat baik-baik saja, ia tertawa di waktu yang tepat, menjawab pertanyaan guru, makan bersama teman-temannya di kantin, namun sesekali tatapannya kosong terlalu lama dan Syifa menyadari itu.
Saat jam pulang, Sasya memilih pergi ke perpustakaan untuk mencari buku tambahan tugas presentasi, perpustakaan siang itu jauh lebih sepi, hanya terdengar suara pendingin ruangan dan lembaran buku yang dibalik pelan, Sasya berdiri di rak paling ujung sambil mencari buku pendidikan.
Tangannya meraih satu buku di rak atas, namun buku itu terlalu jauh, iya sudah berjinjit tapi tetap tidak sampai, tiba-tiba sebuah tangan lain mengambil buku itu dengan mudah, Sasya menoleh cepat, dan itu adalah Dani.
“Lo lagi, kenapa gue harus ketemu Lo setiap hari,” gumam Sasya lelah.
Dani menyerahkan bukunya, “Kenapa? Itu berarti takdir merestui kita, Gue suka konsep takdir ini”
“Gue nggak.” sahut Sasya langsung.
“Gapapa, nanti juga suka.”
Sasya mendecih lalu mengambil buku itu, ia berniat pergi begitu saja, namun saat berjalan, kakinya tersandung kaki kursi, tubuhnya oleng, buku-buku di tangannya hampir jatuh, untung saja ada Dani, ia refleks menahan pinggang Sasya.
Sasya langsung membeku, begitu juga Dani, jarak mereka terlalu dekat, sangat dekat, gatapan mereka bertemu beberapa detik sampai akhirnya Sasya buru-buru mundur.
“Makasih.” Suaranya jauh lebih pelan dari biasanya.
Dani hanya menatapnya, lalu tersenyum kecil, “Sama-sama.”
Dan untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan, jantung mereka berdua terasa berdetak terlalu cepat. Mereka sama-sama dihantam rasa canggung sekarang ini, tak lama Sasya beranjak pergi meninggalkan Dani yang masih mencoba mengatur detak jantungnya itu.
Sepanjang perjalanan pulang, Sasya terus menatap jendela mobil dengan pikiran yang berantakan, bayangan Rava belum benar-benar pergi dari kepalanya, namun kini ada hal baru yang ikut mengganggu pikirannya.
Tatapan Dani di perpustakaan tadi cara laki-laki itu refleks menahan tubuhnya, dan bagaimana untuk beberapa detik, Sasya lupa cara bernapas dengan benar.
Sasya memijat pelipisnya pelan ,ia baru saja terluka karena satu laki-laki, dan sekarang hidupnya terasa semakin rumit karena kehadiran laki-laki lain yang terlalu sering muncul di waktu yang tidak tepat, sesampainya di rumah, Syifa langsung menyadari perubahan kecil di wajah saudara kembarnya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Angel Heart
Non-FictionSetelah pindah kesekolah barunya,gadis cantik yang kerap disapa sasya,bertemu dengan seseorang yang dikenal bernama rava Semenjak rava hadir dihidupnya,Dari situlah timbul sebuah rasa dihati sasya untuk memiliki rava sepenuhnya,setelah mencoba berba...
