Line -12-

613 51 0
                                        

.
.
.

#-#-#

" Om mohon, Rin. Kasih berkas itu sekarang, ya?"

Arina hanya diam, memandang tajam pada pria yang sudah sejak beberapa menit yang lalu duduk di ruang tamu rumahnya. Sedikit terkejut sebenarnya, ini adalah pertama kalinya Arya menginjak lantai rumah Arina karena selama ini mereka selalu bertemu di luar. Kenapa Arya nekat mendatanginya hari ini?

" Nggak," tolaknya tegas.

" Rin. Om udah bilang ke detektif yang kerja sama sama Youren, dia bilang mau bantu."

" Om bahkan nggak bilang ke aku kalau Om udah ketemu Ren!"

" Om nggak sempat..."

" Bohong," potong Arina. Menyandarkan tubuhnya ke sofa. " Om bohong. Om sengaja nggak mau aku ketemu sama Ren."

" Rin."

" Aku nggak akan kasih berkas itu ke Om!"

" Kenapa?" tanya Arya.

Arina menghela napas pendek. " Karena cuma itu satu-satunya jalan buat melindungi Om Arya saat ini. Jeanny ingin memiliki berkas itu, jadi dia nggak akan mungkin membunuh Om kecuali kalau sudah mendapatkan berkasnya."

Arina sudah memperhitungkan semuanya. Langkah yang diambilnya, lalu pengaturan rencana agar semuanya sesuai dengan kehendaknya. Youren mungkin menjadi pion dalam permainan ini, tapi dia harus menjadi ratunya. Arina tidak akan membiarkan semuanya berantakan.

Sayangnya, Arya sepertinya menolak untuk menyerah. Pria itu terus memohon pada Arina.

" Om akan berikan berkasnya ke detektif itu. Dia sudah menunggu Om. Kita janjian bertemu saat jam makan siang."

Arina melirik sekilas ke arah jam dinding. " Kurang sejam lagi."

" Youren sudah percaya sama detektif itu. Dia pasti bisa menjaga berkasnya baik-baik. Dia juga detektif yang mengurusi kasus John dan Gerald."

Alis Arina berkerut. " Maksud Om, Pak Radith?"

" Kamu kenal?"

" Ya. Dia bawahan kesayangan Om Hari. Walaupun dia kadang agak bodoh, sih."

Arina merendahkan nada suaranya di akhir kalimat. Ia menatap sekilas pada Arya sebelum meraih gelas berisi jus di depannya.

" Oke. Tapi aku akan mengawasi pertemuan itu. Tenang aja, aku cuma mengawasi dari jauh. Aku harus memastikan kalau ngggak ada orang yang mengikuti Om waktu itu."

Arya mengangguk setuju. Senyumnya mengembang, meskipun Arina bisa tahu, bahwa ada banyak kekhawatiran di balik senyuman pria itu. Benar. Ia bisa merasakan bahwa Arya sekarang berusaha mengakhiri semuanya dengan caranya sendiri. Apa yang sudah direncanakan oleh pria itu?

#-#-#

Sepertinya, Arina memang ditakdirkan mandapat banyak rintangan dalam kehidupannya. Sebut saja dirinya berlebihan, namun rasa-rasanya memang banyak penghalang yang terus mendatanginya belakangan ini. Seperti contohnya, Ardi yang ternyata sudah tahu beberapa rahasianya karena bocoran Chandra, menolak untuk menjaga jarak dari Arina-meskipun hanya untuk sementara- dan malah mengekor sang ayah saat pria itu datang ke markas mereka. Jadilah Ardi kini ikut dalam permainan 'asisten Arina' dan menjadi bagian ahli IT. Dia yang mengurus segala hal berkaitan dengan lacak-melacak, juga informasi yang didapat dari berbagai media online, dan beberapa hal yang berkaitan dengan itu.

Death Line Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang