.
.
.
#-#-#
Ringisan kecil terlontar dari mulut Arina saat mencoba bangkit dari ranjang. Tatapannya mengedar, mengamati suasana ruang rawatnya yang sepi. Ia memang menyuruh semua orang untuk pergi dari sana tadi. Selain karena ia sedang tidak ingin ditemani siapapun, ia juga tahu kalau sebenarnya bukan dirinya yang menjadi target penembakan ketika berada di parkiran gedung hall milik RZ. Karena itu Arina mengatakan pada semuanya bahwa mereka tidak perlu mencemaskan keadaannya.
Kepalanya berputar cepat ketika mendengar suara pintu yang dibuka perlahan. Masih dalam posisi duduk di atas ranjang, Arina menunduk seraya mengusap pelan pelipisnya dengan tangan kiri.
" Kau datang, Nana," gumamnya.
Salah satu alasan Arina menyuruh semua orang pergi adalah ini. Ia harus mendengar penjelasan dari si pelaku yang bisa ia ketahui hanya dengan melihat posisinya menargetkan sasaran dari jarak jauh.
Sosok seorang wanita dengan setelan kantor, blazer dan rok pensil berwarna senada itu mengangguk mendengar sapaan dari Arina. Berjalan mendekat dengan langkah anggun ke arah ranjang.
" Jadi bisa jelaskan padaku apa yang sedang terjadi, Nomor 7? Kenapa kau sembarangan menembak orang di tempat publik?"
Wanita bermanik mata cokelat terang itu berdecak. " Yang pertama, bisakah kau memanggil namaku? Kau selalu memanggilku Nana atau Nomor 7."
Arina mendesah. Kebanyakan para informannya memang tidak suka dengan panggilan yang ia berikan pada mereka. Seperti wanita ini, Arina selalu memanggilnya Nana yang berarti angka tujuh dalam bahasa Jepang, dan wanita mantan tentara bayaran yang direkrutnya sejak dua tahun yang lalu sebagai pencari informasi itu selalu protes dengan nama panggilan itu.
" Baiklah, Clovis. Jadi, bisa jelaskan apa yang sedang terjadi?"
" Dari mana kau mengenal Neron? Kenapa dia selalu bersamamu akhir-akhir ini?" cecar Clovis beruntun.
Alis Arina berkedut sekilas, merasa aneh dengan pertanyaan wanita berusia pertengahan tiga puluh itu. Tunggu! Clovis tidak tahu tentang Neron. Benar. Selama ini Arina selalu menemuinya sendirian, dan ia juga tidak menceritakan apapun pada Clovis tentang para asistennya. Ya, Arina merekrut Clovis sendirian dan juga tanpa sepengetahuan Neron dan Shougo. Dua orang itu tidak pernah melihat si Nomor 7.
" Memangnya ada apa dengan Neron?" Arina justru balik bertanya.
Clovis mendelik kesal. Matanya menyorot tajam pada Arina yang bersandar di kepala ranjang dengan bantuan beberapa bantal. Jelas sekali kalau wanita itu tidak suka dengan respon Arina.
" Dia penipu!"
" Penipu?" ulang Arina, menyembunyikan nada geli pada suaranya. Hei, di sini Arina lah yang penipu!
" Kau tahu? Dia memanfaatkanmu dan berniat mengadu domba antara kau dan Exclusive G. Karena keberadaannya yang muncul di sekitarmu, mereka berpikir kalau kau terlibat dengannya, dan aku tak suka itu. Bukankah kau sudah tegaskan pada mereka kalau kau hanya mengawasi Nadin waktu itu?"
Ah, satu lagi. Clovis juga tidak tahu kebenaran tentang Nadin. Tentu saja, dia hanya informan yang menjadi rekanan Arina. Wanita itu bukan teman dekat atau semacamnya yang mengharuskan Arina menceritakan semua hal padanya. Lagi pula, Clovis adalah mantan tentara bayaran yang pernah menjadi buron oleh musuh-musuhnya, Arina tidak mau mengambil risiko besar jika terlalu dekat dengan wanita itu.
" Jadi kau yang memberikan fotoku saat bersama Neron pada Egil? Apa hubunganmu dengannya?" tanya Arina datar. Meski begitu, tatapan menyelidiknya berusaha mengorek jawaban dari mulut Clovis yang tiba-tiba terdiam kaku di tempatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Death Line
Action. . . [15+] . . . Hidupnya abu-abu. Itulah yang ia sadari sejak dulu. Dan tidak akan berubah, entah sampai kapan. Karena ia memang tak menginginkan perubahan, dan membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Namun tiba-tiba saja, ia mendapati j...
