.
.
.
#-#-#
" Hai, saya Karen. Saya akan menemani kamu mulai hari ini."
Mata Arina menyipit sekilas, lalu senyuman lebar tersungging di bibirnya. Terlihat sekali wanita berjas panjang warna putih itu terkejut melihat reaksi Arina, tapi ia berusaha menyembunyikannya dengan senyum tipis untuk membalasnya.
" Salam kenal. Saya Arina."
Di luar dugaan juga, Arina mau mengeluarkan suaranya. Membuat Yudha yang sejak tadi berdiri di sebelah pintu berjalan mendekat ke ranjang, tempat di mana Arina masih menjalani masa pemulihan akibat luka-luka yang dialaminya.
" Arina," panggil Yudha pelan.
" Ya, Dok?"
Tidak, ini bukan Arina yang sebelumnya. Dia yang sekarang bukan gadis yang dibawa ke rumah sakit dalam keadaan luka karena kecelakaan. Perempuan yang ada di depan mereka ini terlihat sangat berbeda dari sebelumnya.
Arina masih menampakkan senyuman, bahkan matanya menatap hangat orang-orang yang ada di ruangan itu. Aneh. Orang-orang itu memandangi Arina dengan sorot bertanya, merasa aneh dengan keadaan perempuan itu.
" Gimana perasaan kamu? Kamu baik-baik saja?" Karen bertanya.
" Saya baik-baik saja, Dok. Terima kasih atas perhatiannya."
Darka dan Yudha saling memandang dalam diam, seolah tengah bertukar beberapa pertanyaan tentang perubahan sikap Arina yang tiba-tiba. Gadis itu masih pendiam saat dibawa kembali ke rumah sakit kemarin malam, tapi bagaimana bisa ia berubah dan menjadi seperti orang lain hanya dalan waktu sehari semalam? Apa yang terjadi?
" Maaf sudah menyusahkan kalian. Tapi sekarang aku sudah baik-baik saja, kok. Om Darka, makasih sudah menemaniku di sini."
Ini semakin aneh. Arina tidak pernah berterima kasih pada Darka untuk hal seperti ini. Arina tidak pernah berbicara dengan nada lembut dan tatapan hangat seperti itu sebelumnya. Arina bukan tipe orang yang menampakkan kepedulian pada orang lain. Dia juga bukan gadis ramah atau membuka pembicaraan lebih dulu. Dia pasif, pendiam, dan tidak peduli dengan sekelilingnya. Jadi kenapa?
" Ehm, Arina. Nanti akan ada beberapa jam konsultasi dengan saya. Kamu mau, kan?"
" Ya, boleh. Silakan saja. Dokter bisa tanya apapun ke saya."
Karen melempar senyuman, dan dibalas Arina dengan hal serupa. Sedangkan Darka masih disibukkan dengan berbagai pemikiran yang membuat kepalanya penuh seketika. Apa yang sebenarnya terjadi pada Arina?
#-#-#
Pesta. Tempat pertemuan itu berubah menjadi tempat pesta dadakan untuk menyambut kedatangan tamu yang tidak diduga-duga sebelumnya oleh mereka, terlebih Arina. Ia kini berdiri bersisian dengan Neron, menatap tak mengerti apa yang terjadi di depan mereka saat ini.
Suasana ramai diiringi musik yang mengalun pelan. Beberapa orang terlihat bersulang dan meneguk anggur merah dari gelas masing-masing. Mata Arina berkeliaran, menatap tak percaya pada orang-orang yang tengah menikmati makanan dan minuman yang disajikan. Sesaat matanya menangkap sosok yang berdiri di belakang salah satu sofa, menjaga tuannya yang tengah duduk bersantai di sana. Pria berwajah Asia timur dengan dua katana di tangan kirinya. Sedikit kontras dengan penampilannya yang mengenakan setelan rapi berwarna hitam.
Sepertinya pria itu tahu Arina mengamatinya, terbukti beberapa detik setelahnya ia mengarahkan tatapan yang langsung menghunus Arina dengan sorot memperingatkan. Arina membalasnya dengan sebelah alis yang dinaikkan, memasang wajah menantang pada pria itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Death Line
Action. . . [15+] . . . Hidupnya abu-abu. Itulah yang ia sadari sejak dulu. Dan tidak akan berubah, entah sampai kapan. Karena ia memang tak menginginkan perubahan, dan membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Namun tiba-tiba saja, ia mendapati j...
