.
.
.
#-#-#
Kondisi tubuh Arina membaik dengan cepat. Namun keanehan tingkah lakunya tidak berubah sama sekali. Ia menjadi gadis murah senyum, banyak bicara, dan terlihat ceria. Meski tampaknya gadis itu berubah ke arah yang lebih baik, Darka justru khawatir melihatnya seperti itu.
Arina selalu dikenal oleh teman-teman ayahnya dengan kepribadian yang dilihat Darka sekarang. Gadis ramah, positif, berprestasi, dan mudah mengambil hati banyak orang dengan segala perilakunya. Tutur kata sopan dan perilaku yang baik, selalu menyapa orang lain, bersikap hangat serta peduli. Dan Darka menduga, Arina sengaja mengubah diri agar orang lain tidak mencari tahu tentang perasaannya yang sebenarnya.
Karen, psikiater yang diminta Yudha untuk menangani Arina membenarkan hal itu. Arina saat ini tengah membangun benteng agar tidak ada orang yang tahu perasaan dirinya yang sebenarnya. Selalu terlihat baik-baik saja di hadapan orang lain agar tidak ada yang berani mengorek lukanya. Dia tidak mengizinkan orang lain untuk mencari tahu lebih dalam tentang dirinya. Ia tidak mau orang lain melihatnya rapuh.
" Dia nggak membutuhkanku. Dia lebih cocok dibawa ke psikolog. Tapi untuk saat ini, aku akan terus menemaninya. Bisa saja dia melakukan hal yang nggak terduga meski dengan kepribadiannya yang sekarang."
Itu yang dikatakan Karen setelah menemani Arina beberapa waktu. Wanita itu masih penasaran dengan sebab perubahan pribadi Arina.
Darka dan Chandra hanya bisa menerima Arina yang sekarang. Gadis pendiam itu memang berubah drastis, akan tetapi kemampuannya tidak berubah sama sekali. Arina masih mampu menyelesaikan semua pekerjaan yang sengaja diberikan Chandra untuk menguji gadis itu. Arina bahkan kini dengan santai membicarakan masalah Youren dan Arya.
" Arina," Yudha memanggil. Pria itu sengaja menjenguk Arina yang dijadwalkan akan pulang besok setelah hasil pemeriksaan kesehatannya keluar.
" Ya?"
" Saya boleh tanya sesuatu?"
Alis Arina tertaut. " Silakan."
" Bagaimana caramu kabur dari rumah sakit beberapa waktu lalu?"
Ya, Yudha masih penasaran soal itu, dan ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menanyakannya.
Tanpa diduga, Arina menunjuk jendela kamar yang ada di sisi kanannya. " Melompat dari sana."
" Tapi... bagaimana bisa?"
" Ah," Arina tersenyum. " Saya punya kelebihan unik sejak kecil. Saya punya tubuh yang fleksibel dan saya juga terbiasa dengan ketinggian saat masih tinggal dengan nenek saya. Jadi... bukan hal sulit buat saya untuk melompat dari ketinggian ini."
Yudha masih tidak percaya dengan penjelasan Arina. " Tapi tetap saja..."
Arina memiringkan kepala. " Apa saya perlu mempraktekkannya sekarang di depan Dokter Yudha?"
" Nggak! Jangan lompat!"
Dan Yudha hanya bisa diam tertegun melihat tawa Arina.
#-#-#
Gerimis mulai turun sesaat setelah Arina menjauh dari rumah. Ia masih bisa merasakan panas yang menjalar di pipinya, bekas tamparan Pak Hari yang tak terduga. Sebenarnya Arina tak mempermasalahkan tamparan itu, hanya saja ketika Pak Hari mengatakan bahwa ia bodoh, Arina merasa tak nyaman. Kalimat itu... sama seperti saat sang ayah memarahinya setiap kali ayahnya merasa Arina sudah berbuat kesalahan dulu. Sama persis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Death Line
Aksi. . . [15+] . . . Hidupnya abu-abu. Itulah yang ia sadari sejak dulu. Dan tidak akan berubah, entah sampai kapan. Karena ia memang tak menginginkan perubahan, dan membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Namun tiba-tiba saja, ia mendapati j...
