.
.
.
#-#-#
Arina duduk dengan tenang di tempatnya sembari tatapannya mengawasi sekitar. Belum ada tanda-tanda kedatangan orang yang ditunggunya di kafe itu meski ia sudah duduk di sana hampir 15 menit lamanya.
" Arina?"
Terdengar suara pria bertanya dengan nada ragu di dekat mejanya. Arina mendongak, dan mendapati mata pria itu terbelalak melihatnya.
" Kamu..."
" Hai," Arina mengangkat sebelah tangan menyapa. " Kita ketemu lagi."
" Kenapa kamu ada di sini?" tanya pria itu dengan nada waspada.
Kening Arina berkerut. " Hei, aku yang memanggilmu ke sini. Jadi menurutmu apa alasanku duduk di sini, heh?" Arina mengibaskan tangan. " Duduk aja dulu. Kamu pasti ingin tanya banyak hal, kan?"
Pria itu akhirnya menarik sebuah kursi dan duduk tepat di depan Arina. Ekspresi gusar terpatri jelas di wajahnya.
" Pesan minuman dulu. Kayaknya bakal lama." Arina mengedikkan dagu ke arah lembar menu yang ada di atas meja.
" Nggak perlu. Katakan saja apa yang kamu mau."
" Kenapa? Kamu nggak suka duduk denganku di sini? Apa kita harus berkelahi dulu seperti yang sebelum-sebelumnya?"
Pria itu menggeram kesal melihat sikap santai Arina. Ia tampak ingin mencabik-cabik gadis itu, namun ditahannya katena kini keduanya tengah berada di tempat umum.
" Bagaimana kamu bisa dapat data pribadiku? Kamu mendapatkannya dari mana?"
" Ayo kita buat kesepakatan." Arina tak menjawab pertanyaan pria itu dan memilih langsung mengatakan tujuannya membuat pertemuan itu.
" Apa maksudmu? Kesepakatan? Jawab pertanyaanku dulu!"
Arina menatap malas pria di depannya. " Ayolah, Michael. Kamu percaya aku akan menjawab jujur pertanyaanmu itu? Nggak, kan? Jadi lebih baik kita langsung membahas intinya saja."
Mengubah posisi duduknya, Arina menautkan jemarinya di atas meja dan menjadikannya penopang dagu. Matanya menyipit ke arah Michael yang masih menatapnya sengit.
" Aku udah bilang berkali-kali agar kalian berhenti mengganggu Youren Miika, tapi kalian nggak mau dengar. Aku tahu kalau kamu cuma mengikuti perintah yang Jeanny berikan, jadi aku nggak bisa menyalahkanmu."
" Lalu apa hubungannya dengan foto Aoi yang kamu kirimkan padaku?"
Arina memasang raut terkejut yang dibuat-buat. " Kamu nggak tahu? Ryuuzaki ada di negara ini sekarang. Aku bahkan tahu di mana rumahnya." Arina berujar heran.
" Jangan bercanda! Lagi pula, dia nggak ada hubungannya denganku." Michael menyanggah.
" Oh ya? Tapi yang aku lihat kamu langsung menyetujui buat ketemu karena foto itu. Kamu takut Ryuuzaki tahu kalau kamu di sini, kan? Kenapa? Kamu malu kalau dia melihat keadaanmu sekarang?"
Michael menggeram marah. " Apa yang kamu mau?"
Seringai lebar Arina terbit. " Gampang aja. Biarkan orangku menjadi bawahanmu. Aku tahu kamu nggak mungkin membangkang Jeanny, jadi biar aku yang mengurus wanita itu. Kamu cuma perlu melakukan peranmu selama ini. Lagi pula, Youren sudah punya banyak pengawal, aku yakin dia akan baik-baik saja meskipun melawanmu."
Michael menatap Arina tak mengerti. " Jadi targetmu sebenarnya...."
" Ya. Jeanny. Aku cuma mau menyelesaikan urusan dengan wanita itu. Kamu nggak perlu tahu detailnya, cukup izinkan orangku masuk ke sana, dan dia yang akan mengurusnya. Mudah, kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Death Line
Aksi. . . [15+] . . . Hidupnya abu-abu. Itulah yang ia sadari sejak dulu. Dan tidak akan berubah, entah sampai kapan. Karena ia memang tak menginginkan perubahan, dan membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Namun tiba-tiba saja, ia mendapati j...
