.
.
.
#-#-#
" Kamu..."
Arina mengerjapkan mata beberapa kali, lalu tersenyum lebar.
" Pak Varden kok bisa di sini?" tanyanya dengan nada yang dibuat antusias.
Ya. Orang itu Varden. Orang yang pernah menebak dengan benar siapa Arina meski dalam penampilan berbeda. Arina tidak menduga akan bertemu dengan pria itu di tempat ini dan di waktu ini. Apakah ia harus meminta tolong pada Varden?
" Seharusnya saya yang tanya. Kenapa kamu bisa di sini dan pakai penyamaran seperti itu lagi? Bukannya kamu seharusnya ada di rumah membantu mengurusi persiapan pernikahan kakakmu?"
Arina terdiam mendengar perkataan bernada menuduh yang barusan diucapkan Varden. Senyum getirnya muncul ke permukaan.
" Sepertinya Arvel nggak cerita apapun ya, ke Bapak? Yah, itu lebih baik sih, buat saya." Arina tertawa hambar.
" Apa maksudmu?"
" Nggak papa. Bapak pasti tahu alasan saya datang ke sini. Bapak juga hadir di pesta resmi perkenalan pewaris RZ, kan?"
Varden memalingkan muka. " Jadi kamu lebih mementingkan RZ daripada keluargamu sendiri?"
Lagi-lagi tuduhan. " Ya. Bukan RZ, sih. Saya kemari karena ada acara khusus di keluarga besar pendiri RZ, keluarga Sakurai. Saya harus hadir sebagai salah satu pewaris mereka."
" Kamu..."
Varden tak lagi menanggapi. Ia menatap sosok Arina dengan sorot meneliti.
" Sebenarnya di sini ada acara apa sih, Pak? Ada pesta, ya?"
Kening Varden berkerut mendengar pertanyaan Arina. " Kamu ke sini tapi nggak tahu ini acara apa? Ini acara ulang tahun perusahaan NW. Kenapa kamu bisa masuk kalau nggak tahu siapa yang bikin acara?"
" Arina Nadindra!"
Kedua orang itu menoleh bersamaan saat mendengar seruan keras dari arah belakang. Tampak Sakuya yang berjalan cepat ke arah Arina, dengan sigap ia menarik lengan gadis itu dan menyembunyikannya ke balik tubuhnya.
" Siapa dia?" tanya Sakuya tajam.
" Rin, dia siapa?" kali ini Varden bertanya tak kalah tajam. Bahkan matanya menyorot serius menatap Sakuya.
" Maaf, Pak." Arina memiringkan badan, menengok Varden. " Sebenarnya saya di sini jadi sandera, makanya saya nggak tahu ini pesta siapa. Tapi tenang aja, Pak. Bala bantuan saya bentar lagi dateng."
Sakuya sudah menarik tangan Arina agar mengikutinya saat Varden berseru keras.
" STOP! Lepaskan dia!"
Sakuya tersenyum sinis. " Maaf, tapi ini tidak ada urusannya denganmu. Arina harus pergi bersama kami sekarang. Akito-sama sudah menunggunya."
Varden tampak terkejut mendengar nama yang disebutkan oleh Sakuya. " Akito? Takahashi Akito?"
" Ya. Kenapa?"
" Kalau begitu biarkan aku ikut. Aku harus memastikan kalian tidak mencelakainya."
Sakuya tertawa sinis. " Nona Rin adalah tamu kehormatan kami. Ada beberapa hal yang harus kami bahas dengannya di sini. Dan maaf, ini tak ada hubungannya denganmu. Jadi lebih baik kau tidak terlibat."
" Pak Varden tenang aja! Aku baik-baik aja, kok. Orang-orangku udah siap kemari."
Sakuya sekali lagi menarik lengan Arina, membuat Arina mengikuti langkah lebarnya. Sebelum menghilang di balik pintu, Arina sempat melambaikan tangannya seraya tersenyum lebar pada Varden, seolah menunjukkan bahwa dia benar baik-baik saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Death Line
Azione. . . [15+] . . . Hidupnya abu-abu. Itulah yang ia sadari sejak dulu. Dan tidak akan berubah, entah sampai kapan. Karena ia memang tak menginginkan perubahan, dan membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Namun tiba-tiba saja, ia mendapati j...
