.
.
.
#-#-#
" Kenapa Mas Natha nggak bilang kalo udah boleh pulang hari ini?"
Natha hanya tersenyum. Kedua tangannya membawa mug berisi cokelat panas yang kemudian salah satunya ia ulurkan ke depan Arina.
" Mama tadi mau ngomong ke kamu, tapi nggak jadi."
Kini mereka berada di rumah Arina. Arina memang memutuskan untuk kembali ke lantai dua bangunan kafenya setelah beberapa waktu tinggal bersama Ryuu. Dan saat Natha meminta izin pulang dari rumah sakit tadi, ia memang sudah berencana akan datang menemui Arina.
" Shougo-san tadi ngabarin mau ngajak teman-temanmu ngumpul di kafe, kenapa nggak jadi?"
Natha memandangi Arina yang sibuk mengarsir sketsanya. Sebuah gambar pemandangan hutan dengan siluet pepohonan dan bulan besar di langit. Natha sering melihat lukisan dengan tema serupa, tapi entah kenapa melihat sketsa monokrom milik Arina berhasil menimbulkan rasa tak nyaman di dadanya. Sesak.
" Aku males ngumpul," jawab Arina pendek. Jelas sekali kalau gadis itu tak mau membahasnya lebih lanjut.
Natha memejamkan mata, lalu menghela napas panjang. Dari tempat duduk mereka sekarang di atas karpet, Natha bisa melihat langit malam dari pintu kaca balkon yang dibiarkan terbuka. Gelap, tidak ada bintang. Dan sepertinya hal semacam itu semakin memengaruhi suasana hati Arina saat ini.
" Apa karena kamu tahu alasan Shougo nyuruh teman-temanmu buat berkumpul?"
Gerakan tangan Arina terhenti. Wajahnya ditolehkan sekilas pada Natha, lalu kembali fokus pada sketsanya. " Kenapa Tante Bri nggak jadi ngabarin?" tanyanya mencoba mengalihkan topik.
" Karena Mama lihat kamu dan ibumu. Kejadian tadi pagi di taman rumah sakit."
Arina menghentikan kegiatannya, meletakkan pensilnya ke meja. Sebagai gantinya, ia meraih mug cokelat panas yang dibuatkan Natha untuknya, menggenggam kedua sisinya erat seolah tak merasakan panas yang seketika menjalari telapaknya.
" Apa... Shougo-san lihat?"
Natha mengangguk. " Sepertinya begitu. Yang jelas, Ryuu melihatnya. Dia cerita tadi."
Melihat respon Arina yang hanya diam dengan tatapan kosong, Natha beringsut mendekat. Ia menepuk bahu Arina pelan, berusaha untuk tidak mengejutkannya. " Hei."
" It's ok, Rin. Kamu nggak perlu nyembunyiin apapun. Aku tahu."
Natha mendengar semuanya dari sang ibu, dari awal hingga akhir. Adu argumen yang terjadi antara Arina dan ibunya. Kemudian Ryuu yang menghubunginya juga menguatkan cerita itu, ditambah ia meminta Natha untuk menemani Arina. Ya, hanya menemani. Bukan menghiburnya.
Arina memiliki perasaan sensitif, bahkan terlalu sensitif. Namun di sisi lain ia juga tahu bagaimana cara menghibur dirinya sendiri. Gadis itu tahu bagaimana cara menenangkan kegundahannya hingga selalu berhasil menelan semua emosinya bulat-bulat tanpa diketahui orang lain. Itu yang dulu pernah dikatakan Jamie, paman Arina padanya. Nyatanya benar, Arina selalu berhasil mengendalikan perasaannya sendiri, seperti saat ini. Tapi Natha sendiri kurang menyukai hal itu. Karena hanya dengan melihat Arina yang terdiam seperti ini, Natha bisa merasakan kesakitan yang ditahan mati-matian oleh gadis itu.
" Aku capek."
Ucapan pendek Arina itu bermakna lain bagi Natha. Membuat pria itu menarik kepala Arina dan memeluknya erat di dadanya. Satu tangannya bergerak mengelus kepala Arina lembut.
" Kamu nggak baik-baik aja, Rin. Kamu nggak bisa terus berpura-pura begini. Bukan sesuatu yang salah kalo kamu menunjukkan perasaanmu sendiri. Kamu nggak salah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Death Line
Aksi. . . [15+] . . . Hidupnya abu-abu. Itulah yang ia sadari sejak dulu. Dan tidak akan berubah, entah sampai kapan. Karena ia memang tak menginginkan perubahan, dan membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Namun tiba-tiba saja, ia mendapati j...
