.
.
.
#-#-#
Arina menghempaskan tubuhnya ke atas karpet. Matanya terpejam sesaat, lalu tatapannya mengedar ke ruangan yang kini ditempatinya. Kosong, tidak ada apapun di ruangan itu selain hamparan karpet yang menjadi alasnya berbaring saat ini. Ruangan yang cat dindingnya bahkan masih setengah kering dengan jendela yang belum dipasangi kaca, hanya ditutup selembar triplek tebal dan ditahan dengan kayu yang dipaku menyilang.
Ia bangun dari rebahannya, menarik ransel yang dibawanya mendekat. Setelah mengeluarkan beberapa benda yang dibutuhkannya, Arina melepas plester luka di dahinya, juga kain perban yang membebat bahu kirinya. Ringisan pelan keluar dari bibirnya saat melihat luka gores yang cukup besar di lengan atas dan sikunya.
Dengan pelan Arina mulai membersihkan lukanya dan memasang plester yang baru. Ia melakukannya dengan hati-hati dan sedikit kesulitan karena hanya menggunakan satu tangan. Setelah selesai mengganti perbannya, ia segera membereskan sampah yang dibuatnya dengan mengumpulkannya di sebuah kantong kresek dan melemparkannya ke dekat pintu.
Ah, benar. Ia kabur dari rumah sakit sejak semalam. Kini ia berada di bangunan kafenya yang baru selesai direnovasi. Salah satu bangunan milik Ryuuzaki Zero yang sudah diatasnamakan dirinya.
Bukan tanpa alasan Arina melakukan ini. Ia khawatir jika Jeanny melakukan hal yang lebih buruk pada Youren setelah kematian Arya. Karena itu, ia berencana untuk mengawasi wanita itu agar tidak berbuat macam-macam pada Youren. Arina harus memastikan keselamatan Youren dan Daniel setiap saat.
...
Sudah beberapa hari ini Arina mengikuti pria bernama Michael itu. Orang yang diketahuinya sebagai tangan kanan Jeanny, orang yang membawa Arya waktu itu. Ah, tidak. Bukan membawanya, tapi pria itulah yang sudah membunuh Arya.
Arina duduk di atas motornya, memandang awas rumah yang digunakan Jeanny untuk bersembunyi dari kejauhan. Wanita itu menempatkan beberapa penjaga di gerbang depan rumahnya, dua orang di gerbang belakang, dan ada satu orang yang berjaga di balkon lantai dua. Arina berdecak, merasa bahwa Jeanny benar-benar berlebihan dan bersikap seolah nyawanya sangat berharga hingga harus dijaga banyak pengawal seperti itu. Bagaimana cara wanita itu membayar para pengawalnya?
Ada dua mobil yang keluar dari rumah itu. Arina segera menstarter motornya saat penglihatannya menangkap sosok Michael yang mengemudi salah satu mobil itu. Ia melajukan motornya dengan kecepatan sedang, mengikuti targetnya dari jarak aman.
Alis Arina berkedut sekilas melihat mobil itu mempercepat lajunya tiba-tiba ketika berada di jalanan yang cukup ramai. Arina berusaha mengimbangi mobil Michael yang terus menambah kecepatan, hingga ketika melewati sebuah perempatan besar, motor Arina harus tertahan lampu lalu lintas yang berubah merah.
" Sial!"
#-#-#
Pesta yang diadakan di ballroom hotel itu benar-benar mewah. Tentu saja, Blaze Group adalah perusahaan yang terkenal di bidangnya, dan cukup banyak perusahaan besar yang bekerja sama dengan mereka. RZ group sendiri juga membuat beberapa kerja sama dengan perusahaan yang dipimpin oleh Ardanu itu, membuat Arina kini yang tengah menyamar bisa menemukan sosok Chandra di antara para tamu undangan.
Ya, Arina datang sebagai Nadin di pesta itu. Ia menjadi pasangan Garin yang mewakili ayahnya yang berhalangan hadir di sana. Sebenarnya kalau boleh memilih, Arina lebih suka datang sendiri ke tempat itu daripada harus menjadi pasangan pria sombong di sebelahnya kini. Namun Neron yang khawatir orang-orang itu akan mencurigai Arina pada akhirnya menyuruh gadis itu ikut dengan Garin dan berakhir menjadi pasangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Death Line
Aksi. . . [15+] . . . Hidupnya abu-abu. Itulah yang ia sadari sejak dulu. Dan tidak akan berubah, entah sampai kapan. Karena ia memang tak menginginkan perubahan, dan membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Namun tiba-tiba saja, ia mendapati j...
