.
.
.
#-#-#
Tempat yang didatangi Arina tampak sunyi, namun ia yakin bahwa ada orang di dalam sana. Kakinya terayun pelan, melangkah yakin masuk ke gedung kosong itu diiringi tatapannya yang menjelajah ke berbagai arah.
Gelap dan kosong. Arina masih terus melangkah ke arah lorong, semakin masuk ke lantai satu bangunan itu. Memeriksa lift yang ternyata masih berfungsi, Arina memilih naik ke lantai selanjutnya lewat tangga darurat agar kehadirannya di tempat itu tidak diketahui.
Tangannya bergerak membetulkan letak masker yang menutupi wajahnya, lalu merapatkan diri ke dinding ketika melihat sosok beberapa orang di lantai empat. Getaran ponsel di saku jaketnya membuat fokusnya teralih. Ada seseorang yang menghubunginya.
" Halo?"
" Rin. Ada yang aneh."
" Apa?"
Seseorang di seberang menghela napas sebelum menjawab.
" Jeanny menyewa helikopter untuk kabur. Dia meminta agar mereka menerbangkannya di atas gedung itu, sekitar sejam dari sekarang."
" Oke. Makasih infonya. Batalkan penyewaannya."
Setelah mendapat jawaban dari si penelepon, Arina menghela napas berat. Otaknya mulai berpikir dan membuat spekulasi tentang rencana Jeanny malam ini.
Wanita itu membuat janji temu dengan Youren di tempat ini. Wanita itu juga membawa banyak pengawal dan menyewa helikopter. Apa yang sebenarnya sedang dipikirkan olehnya?
Arina berbelok ke lorong lain ketika mendengar suara orang yang bercakap-cakap agak jauh darinya.
" Ini cuma rencana cadangan. Nyonya Jeanny nggak akan menggunakannya kecuali saat terdesak. Yang jelas, kita hanya perlu waspada dan jangan sampai gagal. Kalau kita gagal, bisa habis semuanya."
Kening Arina berkerut dalam. Apa maksud mereka? Rencana cadangan Jeanny?
" Ini Neron. Aku sudah di posisi. Arina, di mana kamu?"
Arina yang mendengar suara Neron dari earbuds yang dikenakannya berjalan menjauh dari sana.
" Aku di lantai empat. Bagaimana dengan Michael?"
" Dia di atap, bersama Jeanny. Ryuuzaki akan datang sebentar lagi."
" Oke. Awasi dengan benar."
Arina kembali turun ke lantai satu,masih melalui tangga darurat. Sesampainya di tempat tujuan, ia berdiri di balik tiang besar yang berdiri kokoh tak jauh dari pintu masuk. Meminimalkan gerakan tubuhnya agar tak terlihat siapapun,ia berdiri menyandarkan punggung dan kepalanya di tiang itu, menanti kedatangan Youren. Meski sebenarnya dalam hati ia ingin sekali mencegah Youren untuk menemui Jeanny, namun ia tidak melakukan apa-apa. Karena nyatanya, ia bahkan tidak berani menampakkan wajahnya di depan gadis itu setelah kematian Arya. Bagaimana caranya ia menghentikan Youren?
#-#-#
Natha memandang was-was ke arah pintu masuk gedung, lalu beralih memerhatikan wanita paruh baya yang sejak tadi duduk tenang tak jauh darinya. Tangannya bergerak gusar memainkan ponsel yang ada di genggaman, dan bibirnya terus berkomat-kamit mengharapkan kedatangan seseorang.
Bukan hanya dirinya dan wanita itu yang berada di lobi kantor RZ saat ini. Ada Chandra dan Darka yang sama gusarnya dengan dirinya, menanti kedatangan seseorang yang berhasil membuat mereka khawatir saat ini. Ah bukan hanya mereka, Putri, kakak kedua Arina juga berada di tempat itu. Perempuan itu datang beberapa waktu lalu bersama sang atasan yang malah memilih ikut duduk di sana dan tidak berniat pergi. Sedangkan wanita paruh baya yang tak lain adalah Yunia, ibu dari Arina masih betah memasang tatapan tajam pada Darka dan Chandra. Orang yang dianggapnya sudah menipu dirinya karena mengatakan bahwa putrinya memang benar bekerja di tempat ini, tapi ternyata tidak tampak wujudnya hingga sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Death Line
Action. . . [15+] . . . Hidupnya abu-abu. Itulah yang ia sadari sejak dulu. Dan tidak akan berubah, entah sampai kapan. Karena ia memang tak menginginkan perubahan, dan membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Namun tiba-tiba saja, ia mendapati j...
