.
.
.
#-#-#
Menghadiri berbagai rapat adalah kesibukan baru yang dijalani Arina. Setelah Ryuu menduduki kursi wakil direktur, Arina fokus pada perannya sebagai penanggung jawab yayasan yang didirikan RZ. Ya, tugas Arina yang sebenarnya selama dua tahun belakang adalah menjadi direktur yayasan RZ. Namun para direksi dan komisaris malah menginginkan keberadaannya di kantor pusat RZ untuk beberapa alasan. Membuat Arina harus mengalihkan kursinya pada orang lain dan kembali pada tugas konyolnya menjadi asisten abal-abal Chandra. Kalau dipikir lagi, orang-orang itu selama ini sudah seenaknya menyuruh Arina mengurus berbagai hal di perusahaan tanpa memikirkan dirinya sama sekali.
Hari ini, Arina menghadiri rapat di salah satu rumah sakit yang menjadi rekan bisnis mereka. Tempat di mana Arinka dan Yudha bekerja. Yayasan RZ adalah penanam saham terbesar di tempat itu, karena itulah Arina harus menghadiri rapat yang membahas pengadaan fasilitas baru untuk pengembangan layanan. Arina yang sebenarnya sangat benci dengan pembicaraan serius di ruangan tertutup-karena hal itu selalu menjadi pematik rasa kantuk yang ampuh baginya- terpaksa bertahan meski harus merelakan beberapa lembar kertas dipenuhi dengan coretan tidak jelas miliknya.
" Arina."
Panggilan dari arah belakangnya saat Arina keluar dari ruangan bersama dengan beberapa orang membuatnya menoleh. Arinka dan Yudha berdiri bersisian, melambaikan tangan ke arahnya dengan antusias. Arina menoleh sekilas dan meminta izin pada yang lain untuk memisahkan diri, lalu ia bergegas menghampiri dua orang berjas putih itu.
" Jam praktik udah selesai?" tanya Arina basa-basi.
Arinka mengangguk. " Kita mau makan siang. Mau bareng?"
Arina yang tidak punya alasan untuk menolak mengangguk saja. Mengikuti langkah dua orang itu menuju kantin rumah sakit.
" Kamu udah lama nggak kontrol. Padahal kamu harusnya datang sesuai jadwal."
Ujaran Yudha dibalas dehaman pelan oleh Arina. Ia melirik Arinka, berharap wanita cerewet itu tidak bertanya macam-macam pada Yudha. Tapi sepertinya mustahil, karena selain Arinka yang tingkat kecerewetannya cukup tinggi, Yudha tampaknya juga sengaja memancing topik tersebut untuk membuat Arina merasa tersudut.
" Dokter Karen juga sering tanya."
" Dokter Yudha, bisa diam sebentar? Kepalaku masih berasap setelah rapat. Jadi tolong jangan disiram pakai bensin," balas Arina malas.
Arinka terkekeh mendengarnya. " Aku nggak tahu kalau Yudha bisa cerewet begini. Biasanya dia dingin gitu meskipun sama pasiennya."
Arina melirik seraya menyipitkan mata curiga. " Dokter Yudha naksir sama aku, ya?" tanyanya asal.
Arinka sontak terbahak, sedangkan Yudha seketika melemparkan tatapan sengit ke arah Arina yang kini tersenyum miring.
" Sembarangan," timpalnya pendek.
Arina mengedikkan bahu, memilih mencari kursi kosong yang tersisa di kantin. Ini jam makan siang, dan kantin besar itu terlihat cukup ramai. Saat masih mengitari ruangan dengan tatapan, Arina menangkap sosok seseorang melambaikan tangan ke arahnya, mengajaknya bergabung.
Yudha yang berdiri di sebelah Arina menyeringai melihat siapa yang melambaikan tangan ke arah mereka. " Dokter Karen."
Arina mendengkus, tapi pada akhirnya tetap menuju meja di mana dokter itu berada. Arinka sendiri mengikutinya dan ikut duduk di sebelahnya.
" Saya baru tahu kalau ternyata kamu punya peran penting di RZ."
Dokter Karen tampaknya tidak berniat mengorek tentang perkembangan kondisi Arina, terbukti dari topik pembicaraannya yang membahas pertemuan tadi. Ya, Karen juga mengikuti pertemuan itu sebagai salah satu dokter senior.
KAMU SEDANG MEMBACA
Death Line
Action. . . [15+] . . . Hidupnya abu-abu. Itulah yang ia sadari sejak dulu. Dan tidak akan berubah, entah sampai kapan. Karena ia memang tak menginginkan perubahan, dan membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Namun tiba-tiba saja, ia mendapati j...
