Line -26-

449 42 0
                                        


.
.
.

#-#-#

Beberapa kali pertemuan antara Arina dan Michael sudah cukup membuat Arina tahu sifat naif pria itu. Michael sebenarnya pria baik, hanya saja dia merasa terlalu berhutang pada Jeanny yang sudah membiayai hidupnya. Arina tidak menyangka bahwa akan ada pria seperti Michael. Orang yang menyayangi Ryuuzaki seperti adiknya sendiri meski mereka hanya bertemu beberapa waktu, yang menepati janjinya dan selalu menuruti perintah nyonyanya. Yang tidak dipahami oleh Arina, kenapa pria itu jadi mengizinkannya dan Neron untuk masuk ke lingkaran Jeanny?

" Rin?"

Arina tersentak dari pikirannya. Matanya tertumbuk pada sosok yang duduk di depannya dengan raut tegang. Michael.

" Hm? Ada apa?"

" Kenapa... Kenapa kamu ingin sekali menolong Youren Miika?"

" Entahlah." Arina menjawab pendek.

Ya, mereka sudah tidak bersitegang seperti beberapa waktu lalu. Hanya saja, Michael tampak selalu tegang saat duduk semeja dengannya. Arina tidak terlalu peduli dengan alasan sebenarnya, namun sepertinya kali ini Michael terlihat lebih tegang daripada biasanya.

" Ada apa? Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Arina.

" Jeanny..."

Gerakan Arina yang tengah menyesap kopi terhenti. " Kenapa Jeanny?"

" Dia membohongiku."

Alis Arina naik sebelah, berkedut sekilas. " Membohongimu?"

Oke, sebenarnya ini bukan urusan Arina, tapi melihat raut gusar Michael, ia tahu pria itu ingin membicarakan sesuatu, tapi ragu.

" Apa?"

Michael terlihat bingung, membuat Arina mendesah pelan. " Jangan memaksakan diri. Kamu nggak perlu cerita."

Bisa dilihatnya tangan Michael mengepal di atas meja, dan Arina hanya diam menatapnya. Arina tahu, Michael ingin bicara namun tidak bisa. Dan ia juga tidak berhak memaksa pria itu untuk bicara. Toh, urusan Michael bukan urusannya juga. Mereka hanya sebatas rekan kerja sama dalam beberapa hal.

" Aku benar-benar minta maaf tentang Arya. Aku...."

Entah sudah berapa kali Michael terus mengucap kata maaf untuk hal itu, dan Arina selalu tidak bisa menanggapinya. Di satu sisi, ia tahu bahwa Michael hanya mematuhi perintah Jeanny, namun kenyataannya kalimat maaf yang diulang oleh Michael belum berhasil menggoyahkan hatinya. Arina masih belum bisa menerima kehilangan Arya. Ya, rasa sakit itu masih ada, meskipun Arina tidak pernah menampakkannya.

" Sudahlah." Arina meletakkan cangkir kopinya ke meja. Menghela napas berat. Ia tidak suka topik ini. " Jadi, apa rencana Jeanny selanjutnya setelah Aoi menemuimu?"

Michael menggeleng. " Aku nggak tahu, dia nggak bilang apapun. Dia cuma menyuruhku untuk menjadi pengawalnya ke manapun dia pergi."

Ini adalah tujuan awal keduanya bertemu hari ini. Meski begitu, Arina tahu bahwa perkataan Michael sebelumnya tidak ada kaitannya dengan informasi yang seharusnya ia dapatkan. Pria itu tampak memikirkan hal lain saat ini.

" Oke, baiklah. Aku yang akan mencarinya sendiri. Terima kasih karena sudah bekerja sama denganku. Kamu bisa pergi."

Arina sudah akan beranjak dari tempatnya saat tiba-tiba Michael berkata.

Death Line Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang