.
.
.
#-#-#
Interior gedung itu dipenuhi dengan berbagai benda mahal. Lampu gantung kristal, ornamen dinding dan desain tiang yang terlihat glamor berhasil membuat Arina tanpa sadar berdecak malas, muak melihat benda-benda itu. Matanya masih memindai sekeliling, diiringi Evzen yang sejak tadi setia berjalan di belakangnya.
Setelah lobi, Arina bisa melihat ruangan aula besar tempat berkumpulnya para tamu. Ini adalah pos pertama. Semua tamu yang dilengkapi dengan topeng yang menutupi sebagian wajah mereka dikumpulkan di tempat itu untuk pembacaan agenda acara malam ini. Seorang pembawa acara-yang juga mengenakan topeng- membacakan sususan dan ruangan yang akan digunakan sebagai tempat acara berlangsung.
Meski sudah memakai topeng, Arina masih bisa menemukan sosok rekan-rekannya yang berhasil masuk ke tempat itu. Hans bersama Emily, sedangkan Xavier dan Shirley tengah bersulang santai di dekat meja minuman.
" Kalian berhasil masuk," gumam Arina pelan.
" Tentu saja."
Itu adalah sahutan bernada sombong dari Shirley, membuat Arina terkekeh datar. " Jangan lengah. Ruangan tamu wanita akan dibedakan setelah ini. Kalian bersiaplah."
Arina bisa mendengar sahutan tanda mengerti dari alat komunikasinya. Kemudian ia dengan serius memerhatikan sekitarnya.
" Siapakah Tuan Muda yang tampan ini? Kami belum pernah melihatmu sebelumnya."
Segerombol wanita mendekat ke arah Arina. Bisa dilihatnya Emily sudah bergegas menghampiri, berniat menolongnya. Tapi Arina dengan cepat memberi isyarat pada Hans agar menahan Emily di sisinya.
" Ah, ini baru pertama kalinya aku hadir dalam acara ini. Aku harus menggantikan saudaraku yang berhalangan hadir."
Salah satu wanita itu menyodorkan segelas sampanye, Arina menerimanya dengan tenang. Ia sudah berpura-pura meneguk minumannya saat pembawa acara memberi instruksi untuk kelanjutan acara.
" Maaf, Nona-Nona. Sepertinya aku harus segera pergi."
Arina memberi isyarat pada Evzen agar mengikutinya. Keduanya berjalan menuju ruangan selanjutnya bersama para tamu undangan lain.
Kasino. Arina bisa melihat ruangan besar itu dibagi menjadi dua bagian. Di satu sisi adalah sebuah kelab dengan hingar bingar musik yang berdentam kencang, dan di sisi lain ada berbagai permainan khas sebuah kasino dengan beberapa pengunjung yang tengah bermain.
" Rolet?" tanya Evzen menawari.
Arina menggeleng. " Aku punya kecerdasan, tapi aku tidak yakin dengan keberuntunganku sekarang."
Evzen terkekeh pelan, dan Arina juga bisa mendengar tawa Richard di seberang sambungan.
" Ricchie, kau mau mati?" bisik Arina memperingatkan.
" Tidak.Tapi apa kau serius akan melewatkan kesempatan ini?"
" Ya, aku serius. Kita sedang dikejar waktu sekarang. Dan juga, aku merasakan hal aneh sejak tadi."
" Hal aneh apa?"
Kali ini suara Xavier yang menimpali.
" Ada yang mengawasi kita. Tidak. Lebih tepatnya, akan ada sesuatu tak terduga setelah ini. Sebaiknya kita bersiap. Richard, pantau setiap kamera pengawas dan pintu keluar. Cek juga beberapa kendaraan yang keluar-masuk area parkir."
" Baiklah."
" Ada apa?" tanya Evzen dari balik punggung Arina.
" Sepertinya akan ada yang berbuat ulah di tempat ini. Sebaiknya kalian waspada. Katakan pada Neron dan yang lain untuk bersiap di rute pelarian dan awasi pergerakan para tamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Death Line
Acción. . . [15+] . . . Hidupnya abu-abu. Itulah yang ia sadari sejak dulu. Dan tidak akan berubah, entah sampai kapan. Karena ia memang tak menginginkan perubahan, dan membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Namun tiba-tiba saja, ia mendapati j...
