.
.
.
#-#-#
Penerbangan Arina ke Jepang selama beberapa jam ia habiskan untuk tidur nyenyak. Bahkan ia tak membuka matanya sama sekali untuk sekadar minum atau makan sesuatu. Ia terbangun tepat ketika pesawat selesai mendarat dengan selamat di bandara tujuan.
" Aku nggak percaya Kak Rin bisa betah molor di ketinggian," gumam Ryuu tak percaya. Sebelah tangannya menarik koper miliknya.
Arina yang sudah berjalan lebih dulu di depan bersama Shougo dan Daniel terkekeh. " Habisnya, Mas Natha sejak acara di panti asuhan nggak bisa dihubungin. Daripada mikir jelek terus, lebih baik tidur aja." Arina menyahut seraya mengotak-atik ponsel, memastikan bahwa tidak ada panggilan atau pesan masuk dari Natha. Pria itu seolah menghilang sejak keduanya pulang dari acara pembukaan panti asuhan, Natha tidak membalas pesan atau menjawab panggilan Arina sama sekali. Entah apa yang sedang dikerjakan laki-laki itu, Arina tak mau berpikir macam-macam. Lagi pula tidak ada laporan dari anak buahnya yang mendapat tugas mengikuti Natha kalau pria itu diculik atau semacamnya.
Keempaatnya keluar dari gerbang kedatangan. Ah, mereka tidak hanya berempat, karena di belakang Ryuu ada tiga orang lain yang sengaja mengekori Arina sampai sejauh ini. Jinso, Elaine, dan Clyde. Jinso sendiri memilih mengikuti Arina setelah tahu bahwa Egil sudah melakukan perjalanan ke luar negeri beberapa hari lalu. Jadi ia merasa percuma menetap di Indonesia dan lebih memilih menjadi buntut Arina.
Suara ribut-ribut di susul dengan beberapa orang berpakaian hitam-hitam yang berjajar membentuk barisan di sepanjang lobi bandara membuat Arina dan rombongannya berhenti. Menatap takjub pada barisan pengawal yang tampaknya tengah menyambut kedatangannya tuannya.
" Siapa sih, sampe bikin ribut di bandara? Dipikir bandara milik neneknya apa? Atau jangan-jangan ada rombongan presiden?" gerutu Arina, tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Ia pikir hal berlebihan seperti ini hanya ada dalam drama, novel, manga, atau benda-benda fiksi lainnya. Tidak diduga ia akan melihat secara langsung kejadian seperti ini.
Seorang pria baya berjas hitam muncul, berjalan mendekat ke arah rombongan Arina. Ia membungkukkan badannya saat sampai tepat berjarak dua meter dari posisi Arina berdiri.
" Orang ini..." Arina memiringkan kepala sedikit heran. Kenapa ia merasa pernah melihat orang itu sebelumnya?
" Selamat datang, Rin-sama, Aoi-sama, Dan-sama."
Arina menganga. Kepalanya reflek menoleh ke arah Shougo yang ternyata sudah memasang wajah masam di sebelahnya.
" Dia kepala pelayan keluarga Sakurai. Kamu lupa? Dia juga yang menyambutmu saat ke sini tiga tahun lalu setelah pembatalan pertunanganmu dengan Arai."
Arina ikut-ikutan tersenyum masam. Benar juga. Ia ingat sekarang. Tidak heran kalau dirinya merasa pernah melihat pria ini. Orang itu yang mengurusnya selama dua minggu dirinya berada di Jepang tiga tahun yang lalu.
" Maaf, Jiijii. Aku sempat tidak mengenalimu," Arina berujar sopan.
" Tidak apa-apa. Saya senang melihat Rin-sama datang kemari lagi. Silakan lewat sini."
Tunggu, tunggu! Jadi pengawal-pengawal ini adalah orang suruhan nenek Kouko? Astaga, wanita tua itu benar-benar berlebihan!
Saat Arina menoleh ke belakang, Ryuu ternyata sudah mengenakan topi dan kacamata untuk menyamarkan wajahnya, begitu pula tiga pengawal dadakan Arina yang serentak mengenakan kacamata hitam. Shougo yang cepat tanggap segera memasangkan kacamata hitam ke wajah Arina dan Daniel menarik hoodie jaket gadis itu untuk menutupi kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Death Line
Acción. . . [15+] . . . Hidupnya abu-abu. Itulah yang ia sadari sejak dulu. Dan tidak akan berubah, entah sampai kapan. Karena ia memang tak menginginkan perubahan, dan membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Namun tiba-tiba saja, ia mendapati j...
