.
.
.
#-#-#
Tangannya terus bergerak, menggoreskan pensil berujung runcing di atas sebuah kertas gambar. Sebelah tangannya yang lain digunakan menopang dagu.
" Rin."
Gerakan pensilnya terhenti. Kepalanya mendongak dan mendapati Arya sudah duduk di depannya. Sebenarnya gadis itu sudah menyadari kedatangan Arya di tempat itu, namun ia memilih diam dan menunggu sampai pria itu menyapanya lebih dulu.
" Jadi?"
" Kamu sudah dengar tentang John dan Gerald, kan?" tanya Arya.
Arina mengangguk. Kembali menyibukkan diri dengan sketsa yang dibuatnya. " Mungkin sebentar lagi Ren akan menghubungi Om."
" Mungkin."
" Jadi, aku boleh ikut?"
" Nggak," tolak Arya tegas. " Kamu nggak boleh menampakkan diri."
Arina meletakkan pensilnya dengan sedikit sentakan. " Kenapa? Bukannya aku juga harus membantu Ren? Kenapa Om dan yang lain nggak membolehkanku menemui dia? Apa karena aku akan menambah beban kalian kalau aku menampakkan diri di depan Ren?"
Arina tidak memasang raut marah. Seperti biasa, gadis itu selalu menanggapi segala hal dengan ekspresi sama, datar dan tenang. Bahkan dia tidak pernah meninggikan suaranya, semarah apapun dirinya. Tapi tetap saja, Arina bukannya bersabar dengan situasi ini. Selama ini dia hanya bekerja di balik layar, dengan memudahkan Youren untuk mencari informasi tentang kasus yang berkaitan dengan orang tuanya. Dia tidak mungkin terus seperti ini dan membiarkan Youren melakukan semuanya sendirian.
" Youren bisa diandalkan. Kamu cuma perlu terus mendukungnya dengan berbagai informasi yang sudah kamu kumpulkan. Dia berhasil sejauh ini juga hasil dari usahamu juga. Ingat, Rin. Jeanny masih berkeliaran, sedangkan anak buahnya terus mengikuti Youren. Kalau kamu muncul, semuanya akan berantakan. Youren bisa menjaga dirinya sendiri, dia punya Adler dan Farren yang membantunya. Sedangkan kamu, bahkan sampai sekarang kamu nggak pernah memikirkan dirimu. Kamu juga harus melindungi diri sendiri, jangan terus memikirkan keselamatan orang lain dan mengabaikan dirimu. Ingat, kamu juga punya tanggung jawab di RZ. Jadi, sampai semua ini selesai, kamu harus menahan diri dulu."
Arina mengurut keningnya, merasa pening. Di sisi lain, ia ingin membantu Youren, namun nyatanya ia masih punya tanggung jawab lain, yaitu perusahaan milik Ryuuzaki Zero yang memang selama beberapa waktu ini berada dalam pengawasannya. Shougo memang ditempatkan sebagai General Manager, juga ada Chandra sebagai direktur, tapi Arina yang sudah memandatangani berkas persetujuannya tetap tidak bisa mangkir dari tugasnya.
" Oke. Baiklah. Yang jelas, Om harus segera menghubungiku kalau Youren datang. Aku akan terus mengawasi dari jarak jauh. Dan Om, jangan lengah! Kita harus menangkap Jeanny setelah berhasil mengumpulkan semua berkas dana gelap itu."
Arya mengangguk. Tangannya terulur mengelus puncak kepala Arina. " Om percaya kamu bisa melakukan semuanya. Om percaya sama kalian semua."
#-#-#
Semuanya berlarian di otak Arina tanpa jeda. Perkataan Neron, informasi dari Sekar dan Ari, lalu beberapa pesan mengenai pekerjaan dari Chandra. Ah, bahkan pesan dari Shougo tadi malam semakin membuatnya ingin memaki kasar, karena pria itu tanpa pemberitahuan dari jauh hari mengatakan akan terbang ke Jepang hari ini untuk kembali pada nyonya yang mengutusnya kemari. Pria itu pergi dan meninggalkan Arina sendirian dengan segudang pekerjaan sialan yang malah membuatnya malas melakukan apapun!
KAMU SEDANG MEMBACA
Death Line
Ação. . . [15+] . . . Hidupnya abu-abu. Itulah yang ia sadari sejak dulu. Dan tidak akan berubah, entah sampai kapan. Karena ia memang tak menginginkan perubahan, dan membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Namun tiba-tiba saja, ia mendapati j...
