Line -30-

437 35 0
                                        


.
.
.

#-#-#

Suara ledakan terdengar. Arina yang masih terpaku di lorong tangga darurat diseret paksa oleh Neron yang sejak tadi menyuruhnya pergi. Pria itu sudah berbicara pada Michael di seberang, memberitahukan keadaan di dalam gedung dan menyuruhnya agar segera membawa Youren turun. Arina sendiri yang sejak tadi mendengar berbagai suara dari seberang melalui penyadap yang dipasang Michael hanya bisa terpaku, menatap nyalang ke segala arah saat tahu bahwa keadaan Youren tidak baik-baik saja.

Michael sudah membunuh Jeanny, itu yang ia tahu. Suara tembakan terakhir yang masuk ke pendengarannya tadi adalah tembakan Michael yang menewaskan wanita itu. Dan kini otaknya kosong, antara lega mengetahui Jeanny bisa dikalahkan, namun juga cemas dengan keadaan Youren dan Michael. Dua orang itu pasti mendapat luka berat setelah melawan puluhan anak buah Jeanny di atap.

" Arina! Ayo!"

Neron kembali menyeretnya, kakinya menuruni tangga dengan tersaruk-saruk.

" Youren."

Arina bergumam setengah sadar. Lalu tiba-tiba gadis itu menghempaskan cekalan Neron, berlari menaiki tangga menuju lantai atas.

" ARINA!"

Neron dengan sigap menahan pergerakan Arina. Ia menahan dua lengan gadis itu di belakang tubuh dan kembali menariknya turun.

" Michael, kalian segera turun lewat tangga darurat!"

Arina masih bisa mendengarkan Neron yang berbicara melalui alat komunikasinya. Kepalanya tiba-tiba pening, dan ketika suara ledakan terdengar lagi, keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Tubuhnya bergetar hebat, membuat Neron akhirnya membopong gadis itu hingga sampai di lantai bawah.

" Kita tunggu di sini."

Neron berusaha tenang meski dirinya gusar setengah mati. Di saat-saat genting seperti sekarang, ia tahu bahwa keadaan Arina akan seperti ini. Dokter yang menangani gadis itu mengatakan bahwa Arina beberapa kali mengalami gangguan kecemasan setelah kejadian meninggalnya Arya, meski gadis itu tidak pernah menampakkannya dan selalu berhasil mengendalikan emosinya. Tapi semuanya hilang, kendali diri Arina runtuh saat tahu bahwa orang yang seharusnya dijaganya dengan baik dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan sekarang. Gangguan itu muncul di depannya.

" Arina?"

" Neron?" Arina menarik bagian depan jaket yang dikenakan Neron dengan kedua tangan yang masih gemetar hebat. " Selamatkan Youren. Tolong."

Neron meremas bahu Arina kuat. Melihat tatapan nanar Arina berhasil membuat tenggorokannya tercekat. Ia tidak pernah melihat Arina serapuh ini, dan ketika mata cokelat yang selalu menatap tajam itu berubah ketakutan, Neron merasa harus benar-benar melakukan sesuatu.

" Tenang, Rin. Kamu tunggu di sini. Aku akan menyusul mereka."

" AOI! Tetap bersamaku! AOI!"

Tubuh keduanya membeku saat mendengar teriakan kalap Michael di seberang.

" Neron... ap-apa yang terjadi?"

#-#-#

" Kak Rinrin!"

Dua gadis remaja menyambutnya dengan heboh saat Arina sampai di pintu rumah Pak Hari. Arina menumpang mobil para polisi itu menuju rumah Pak Hari setelah dari lapas. Farren masih ikut dengan mereka dan bahkan sampai lebih dulu di rumah kepala kepolisian itu. Tadi saat sampai, Arina tidak langsung masuk ke rumah tetangganya, melainkan ia menemui ibunya lebih dulu karena beliau berada di rumah. Meskipun nyatanya ibunya tetap tak menyambutnya dengan baik. Setelah mengobrol sebentar dengan Jamie dan istrinya yang ternyata baru saja datang ke rumah sang ibu, Arina memilih segera melanjutkan urusannya dengan Pak Hari. Ia menenteng ranselnya dan berjalan santai ke rumah berpagar tinggi itu.

Death Line Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang