Line -25-

473 41 0
                                        


.
.
.

#-#-#

" Michael bilang kalau Ryuuzaki menemuinya."

Alis Arina berkedut sekilas, kepalanya terangkat menatap Neron yang barusan bicara. Pria itu duduk tenang di sofa panjang ruang duduk tempat tinggal Arina.

" Kenapa dia menemui Michael? Bukanya dia sejak kemarin berusaha agar Mike nggak mengenalinya?" tanya Arina heran.

Tentu saja Arina heran. Ia tahu tentang hubungan Michael yang kini menjadi tangan kanan Jeanny dan Youren ketika di akademi. Michael sempat menjadi tutor dan penguji Youren saat akan menjalani tes masuk skuad, begitulah yang pernah diceritakan Raymond pada Neron. Dan selama beberapa waktu terakhir, jelas sekali kalau Youren sedikit menghindari Michael karena takut pria itu menyadari siapa dirinya sebenarnya.

" Ryuu bilang kalau Youren akan menyerah dan mengajak Jeanny bertemu."

" Dia bilang begitu?" Arina melotot. Seketika ia menghentikan kegiatan mengolah bahan makanan di dapurnya dan beranjak menuju ruang duduk, mendekati Neron.

" Terus?"

" Dia menyuruh Jeanny menentukan tempat pertemuannya."

" Gila!" komentar Arina cepat. Tindakan Youren itu tak ubahnya dengan deklarasi bunuh diri. Bagaimana bisa dia menyuruh musuhnya untuk menentukan tempat perjanjian?

Neron melirik Arina malas. " Ada yang lebih penting dari itu saat ini," ujarnya.

" Ya? Apa?" tanya Arina antusias.

Neron berdiri dari duduknya, menyentil telinga Arina gemas. " Kamu udah bolos latihan selama beberapa hari. Berdiri! Aku beri hukumanmu di sini."

Arina mendelik. Ia sudah akan melompat kembali ke dapur saat Neron dengan sigap menangkap tangannya dan hendak membanting tubuh Arina dengan gerakan memutar. Tidak lengah, Arina menahan serangan Neron, memilih menarik kepala pria itu dan memitingnya menggunakan lengannya.

" Push-up.... Lima puluh... Kkh.... Hentikan!"

Arina tertawa kecil saat Neron memukul lengannya agar melonggarkan pitingannya. Pria itu meraup udara sebanyak-banyaknya sembari mengelus leher saat Arina melepaskannya, lalu melempar tatapan sengit pada gadis yang berdiri santai di tempatnya itu.

" Jangan nyalahin aku. Kamu yang lengah dan ngeremehin kekuatan tanganku."

Arina berpose mengangkat kedua tangannya, seolah tengah menunjukkan otot-otot lengan atasnya, padahal tidak terbentuk otot apapun di lengan rampingnya.

" Push-up lima puluh kali."

" Nggak mau! Capek!"

" Arina!"

#-#-#

" Masalahnya, Jinso." Arina menjeda sebentar kalimatnya. " Aku lah yang mengatur rencana pertemuan Red Carver dengan Ryuuzaki Aoi di sini."

Jinso terbelalak terkejut. Kakinya mundur beberapa langkah, sedangkan matanya berkeliaran memandang sekeliling dengan raut waspada.

" Kamu...."

Arina bergeming di tempatnya. Menikmati ekspresi tegang yang ditampakkan Jinso saat ini. Dan ketika ia melihat pria itu akan mengambil sesuatu dari balik jaket yang dikenakannya, Arina mengangkat tangan lebih dulu, memberi isyarat pada Jinso bahwa ia akan menjelaskan sesuatu.

" Sebentar," Arina bergumam. " HAHAHA...!"

Arina tiba-tiba tertawa keras sambil memegangi perutnya. Jinso yang melihat hal itu menatap Arina heran, pasalnya raut wajah Arina sudah berubah drastis, sangat berbeda dengan ekspresinya beberapa detik yang lalu.

Death Line Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang