Uwaaaah...! Udah berapa lama aku nggak apdet si Arina? Maafin aku ya readers! Selama beberapa bulan terakhir beneran sibuk banget nget. Jangankan ketik bab baru, ngelirik notip aja cuma sempet seminggu sekali! Ugh! Aku bahkan nyaris aja lupa plot yang udah kususun rapi-dalam otak doang tapi-. Maafin banget yap! Aku juga belum bisa janji bakal apdet rutin lagi, tapi semoga masih ada yang setia nungguin aku. Ah iya. Tolong koreksi kalo ada typo yap! Makasih dan selamat membaca! ^^
.
.
.
#-#-#
Ryuu berjalan gontai di tengah keriuhan bandara. Ia sampai di luar bertepatan dengan Natha yang keluar dari mobilnya. Ya, pria itu yang datang menjemput Ryuu di bandara karena Ryuu sendiri yang memintanya.
" Ren!"
Dan ya, Natha seolah sudah menjadi seorang kakak yang dekat dengannya hingga tanpa canggung memanggil nama Ryuu dengan panggilan yang sama seperti Arina.
" Maaf," gumam Ryuu pelan saat Natha sampai di dekatnya.
Tangan Natha terulur, menepuk puncak kepala Ryuu pelan. " Jangan memikirkan itu dulu. Kita pulang sekarang. Kamu butuh istirahat."
Natha tidak berusaha mengkonfrontasinya, Ryuu tahu. Pria itu sangat baik dan bahkan seolah tahu apa yang diinginkan Ryuu. Tidak heran kalau Natha bisa memiliki hubungan sejauh itu dengan Arina. Pria itu sangat tahu bagaimana cara bersikap pada orang lain.
" Adler dan Shougo bilang mau menemuimu setelah pulang kerja. Jangan terlalu memikirkan ocehan mereka nanti, biar aku yang urus. Kamu cukup istirahat dan pikirkan membuat penjelasan untuk keluarga Arina, aku akan membantumu."
Ryuu meringis sembari memejamkan mata. Sudah bertahun-tahun berlalu, dan ini pertama kalinya ia ingin menangis lagi setelah sekian lama. Saat Arya meninggal dulu pun dia tak sampai merasa seperti ini. Tapi entah kenapa hanya karena Arina menghilang, ia merasa semuanya runtuh begitu saja. Dia tidak ingin sendirian. Pertemuannya dengan Arina masih sebentar. Dia tidak ingin melihat perempuan itu pergi lagi. Rasanya... sakit sekali.
" Acaranya besok, ya?" gumam Ryuu lemah. Matanya terbuka sedikit melirik Natha yang fokus menyetir di sampingnya.
" Ya. Aku belum memberitahu apapun tentang Arina pada mereka. Yang mereka tahu Arina akan pulang saat mendekati acara, jadi nggak ada yang curiga. Tapi Putri sudah waswas sejak kemarin. Dia terus menelepon."
Helaan napas berat dilepaskan oleh Ryuu. Rasanya semakin rumit. Ia bahkan belum mendapat berita terbaru tentang keberadaan Arina. Entah gadis itu baik-baik saja atau justru Orville masih menyekapnya. Kepolisian sudah mengerahkan anak buahnya untuk menyusuri jejak Orville, tapi mereka menolak permintaan untuk mencari Arina. Mereka merasa bahwa hilangnya Arina bukan bagian dari tanggung jawab mereka.
" Sialan!"
Natha hanya menoleh sekilas ketika mendengar umpatan Ryuu. Paham dengan suasana hati gadis itu, ia memilih diam, tidak melanjutkan perbincangan mereka barusan.
#-#-#
Suasana ruangan itu terasa sangat mencekam. Ada ibu dan kakak pertama Arina, Nara yang duduk bersebelahan di sofa panjang. Ryuu duduk berhadapan dengan ayah Arvel, sedangkan ibu Arvel duduk di dekat suaminya di sofa yang lain. Shougo masih bertahan dengan posisi tegapnya berdiri di belakang Ryuu. Dan yang terakhir, Natha duduk di sofa tunggal yang tersisa, terlihat paling tenang di ruangan itu.
Ryuu baru saja selesai menjelaskan,meski tidak secara keseluruhan. Dia hanya mengatakan bahwa Arina diculik oleh buronan polisi saat gadis itu sedang membantu tim investigasi. Dia tidak menceritakan kondisi Arina yang terluka, dan ketidakpastian siapa orang yang membawa Arina dan di mana gadis itu berada saat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Death Line
Acción. . . [15+] . . . Hidupnya abu-abu. Itulah yang ia sadari sejak dulu. Dan tidak akan berubah, entah sampai kapan. Karena ia memang tak menginginkan perubahan, dan membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Namun tiba-tiba saja, ia mendapati j...
