.
.
.
#-#-#
5 menit. Dia hanya punya waktu selama itu sebelum obat itu bereaksi dan mulai mengikis kesadarannya. Dan pada menit ke-8, mungkin kesadarannya akan hilang sepenuhnya. Dia tidak bisa menyia-nyiakan waktu dan berpikir lebih cepat. Apa yang harus ia lakukan untuk segera keluar dari situasi ini?
Matanya tertutup eyemask. Tapi dia tahu jumlah pengawal yang mengiringinya di mobil itu. 4 orang. Dua orang mengapit di kanan dan kirinya, lalu dua orang lain di kursi depan. Mereka juga tidak mengikat kedua tangannya karena berpikir bahwa Arina jelas tidak bisa menahan efek dari bius yang sudah mereka berikan. Sayang sekali, dugaan mereka meleset karena hingga saat ini Arina masih dalam kondisi siaga.
Hanya dengan menggunakan perkiraan dan pendengarannya, Arina menebak situasi kawasan yang saat ini mereka lewati. Sepi. Ia harus mulai bergerak di sini tanpa menunggu lebih lama. Dengan gerakan pelan tangan kirinya bergerak, mengambil pisau berbentuk pena yang ia simpan di bagian ikat pinggang celana panjangnya. Belum sempat menyadari gerakan Arina di sampingnya, pria pengawal di sebelah kanannya menjadi korban pertama. Ia bahkan tidak punya waktu untuk berteriak karena gerakan kedua tangan Arina yang menyerangnya bersamaan, membungkam mulutnya serta menusukkan pisau ke salah satu sisi lehernya.
" Urk...!"
Si pria di sebelah kiri yang terkejut melihat Arina yang masih bergerak reflek mengambil senjatanya dari saku. Namun belum sempat ia membidik ke target, Arina lebih dulu menahan kepalanya dan menusuk leher kiri pria itu dengan tanpa ragu. Sial. Dia tidak punya pilihan lain selain menghabisi orang-orang itu, mengingat dirinya kini berada di bawah pengaruh bius yang bisa sewaktu-waktu membabat habis kesiagaannya.
" Ugh...!"
Sepertinya pria di samping pengemudi menyadari kejanggalan di kursi belakang. Arina sudah melepas eyemasknya saat pria itu mencoba menoleh ke belakang untuk memastikan situasi. Belum sempat mencerna keadaan rekannya sepenuhnya, Arina menerjangnya dengan cepat, menahan kepalanya ke sandaran jok dan melakukan hal yang sama seperti pada dua korbannya sebelumnya.
" Hissh..."
Arina mulai merasakan kesadarannya yang perlahan kabur saat si pengemudi sadar akan perlawanan Arina. Ia mengeluarkan pisau dan mengayunkannya secara asal, dan serangannya berhasil mengenai bahu kiri Arina. Arina yang kesadarannya nyaris hilang kontan saja bereaksi ketika merasakan nyeri yang menjalari bahunya.
" Ugh! Terima kasih. Berkat pisaumu aku jadi sadar kembali."
Arina menarik rambut sang pengemudi hingga kepalanya terdongak dan melancarkan serangan. Ia mengambil alih kemudi setelahnya. Mencoba menahan sakit dan efek dari bius yang semakin kuat bersamaan dengan memfokuskan perhatiannya pada jalanan. Menghentikan van yang ia kendarai secara asal-asalan, Arina bergegas keluar dari sana. Berlari tanpa arah untuk bersembunyi.
Ia harus meninggalkan sesuatu jika ada orang yang mencarinya. Karena ia tidak ingin ditemukan untuk sekarang. Dia masih harus bersembunyi. Tangan Arina bergerak mengambil tutup pisaunya, berusaha memasukkan sebagian darah yang masih mengucur dari luka di bahunya dengan tangan bergetar. Ya, ini sudah cukup. Selama orang-orang itu tahu kondisinya, itu sudah cukup.
Ia menyandarkan tubuhnya yang limbung ke dinding, tatapan nanarnya mengedar mengamati gang kecil yang baru saja ia datangi. Kesadarannya hanya setipis benang saat ia mendengar langkah kaki samar mendekat ke arahnya.
" Rin!"
Seseorang menghampirinya. " Aku akan menghubungi yang lain."
Ah, orang itu. Arina sedikit terkejut karena ia masih bisa mengenali sosok orang lain dengan kondisinya yang sekarang. Ia juga bisa merasakan orang itu menahan lukanya menggunakan sesuatu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Death Line
Action. . . [15+] . . . Hidupnya abu-abu. Itulah yang ia sadari sejak dulu. Dan tidak akan berubah, entah sampai kapan. Karena ia memang tak menginginkan perubahan, dan membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Namun tiba-tiba saja, ia mendapati j...
