03. Bertemu Denganmu

5K 147 1
                                        

Haloo, i'm back!

******

"Kakak, Hanny lapar.."

Helly yang mendengar rengekan adik kesayangannya langsung menghampirinya.

"Kau lapar? Baiklah, kakak buatkan makanan untukmu ya" ucapnya.

"Aku rindu masakan ibu.." lirih Hanny.

Helly yang mendengarnya merasa sedih.

"Iya sayang. Kakak juga sangat merindukan ibu. Kakak benar benar kehilangan sosok orang tua. Dulu ayah yang pergi, dan sekarang ibu. Kak Helly hanya memiliki dirimu saja saat ini, Han.."

Saat itu juga, air mata Helly berjatuhan. Gadis itu tertunduk dengan sedih. Sedangkan Hanny yang melihat kakaknya mulai bersedih merasa bersalah.

"Kak, maafkan aku. Aku sudah membuat kau menangis.." lirihnya.

Helly berusaha tersenyum dan mengecup pipi adiknya yang masih berusia empat belas tahun.
"Tidak Han. Kakak baik baik saja. Oh ya, mau makan apa? Kakak akan masakan untukmu"

"Ehm, aku ingin spagheti kak" jawabnya.

Helly tersenyum dan mengangguk.
"It's oke! Wait the minute, baby"

Gadis itu kemudian pergi kedapur dan memasak spagheti kesukaan adiknya. Setelah selesai, mereka menyantap makanan mereka dimeja makan. Dalam hati kecilnya, Helly sesungguhnya masih merasa terpuruk. Orang orang yang disayanginya perlahan meninggalkan dirinya, ingin rasanya gadis itu menangis. Tapi tidak, dia tidak ingin membuat Hanny ikut merasa sedih. Sekarang, gadis itu yang akan berusaha untuk menghidupi adiknya setelah kepergian orang tua mereka. Hanya Hanny seorang yang saat ini Helly miliki.

"Kak Zain mana kak? Biasanya dia datang dan ikut makan bersama kita" tanya Hanny.

Helly baru ingat dengan Zain, kekasihnya itu. Sudah dua hari ini, Zain seperti menjauhinya dan tidak ingin bertemu dengannya.

"Mungkin dia sedang sibuk, Han. Habiskan saja makanmu, setelah itu kau pergilah ke kamar untuk belajar" pinta Helly pada adiknya.

"Iya kak.."

Tok..tok..

"Tunggu sebentar, kakak bukakan pintu dulu" Helly berjalan untuk membuka pintu, dan dia menatap dua orang pria berdiri didepan rumahnya dengan tegak.

"Kalian siapa? Ada perlu apa kerumahku?" tanya Helly dengan bingung.

"Bukan kami yang ada perlu denganmu nona. Tapi teman kami" jawab salah satu dari pria itu.

Deg!

Helly terkejut setengah mati saat menatap seseorang dibalik tubuh dua orang pria itu.

"K..kau?"

Ya, itu Varun. Pria itu berhasil menemukan Helly atas bantuan Zain. Dengan senyum mautnya, pria itu berjalan dan menatap gadis dihadapannya.

"Kau masih ingat aku nona? Ehm maksudku, nona Helly Alexia Johnson?"

Helly menelan ludahnya dengan susah payah saat menatap mata pria itu yang menyiratkan kebencian pada dirinya. Bagaimana pria ini bisa tahu namanya?

"A..aku.. aku tahu kau membenciku karena telah.."

"Karena telah membunuh mamaku!"

Helly terkejut mendengarnya.
"A..apa? Membunuh? Ti..tidak! Kau salah paham, aku bisa jelaskan tuan.."

Gadis itu terdiam dan tak melanjutkan kalimatnya karena tidak mengenal pria devil dihadapannya ini.

"Varun. Namaku Varun Edward Levino" jawabnya yang seakan mengerti dengan sikap Helly.

"Iya tu..tuan Varun. Aku bisa jelaskan kejadian yang sebenarnya, aku tidak membunuh mamamu. Itu terjadi karena aku.."

"Cukup! Aku sudah tahu cerita sebenarnya, dan kau tidak perlu mengarang cerita apapun lagi padaku!" bentaknya yang membuat Helly merasa takut.

"Tapi aku sama sekali tidak pernah ada niat buruk untuk.."

"Kalian berdua pergilah! Biarkan aku menyelesaikan urusanku bersama gadis pembunuh ini" ucap Varun pada kedua temannya yang kemudian langsung beranjak pergi.

Helly merasakan hatinya sakit saat mendengar Varun menyebutnya sebagai 'gadis pembunuh'

"Kumohon tuan, kau salah. Aku bukan pembunuh. Baiklah, aku akui saat itu aku terpaksa pergi karena aku harus menemui ibuku dirumah sakit. Aku benar benar bingung saat itu. Mungkin aku memang salah, kau..kau bisa menghukumku. Kau juga bisa melaporkanku ke kantor polisi"

Helly kini mulai pasrah dan menangis, karena dia tak bisa menjelaskan apapun lagi.

"Kakak! Kenapa ini? Kenapa kakak menangis.." teriak Hanny dan langsung memeluk tubuh Helly. Mereka berpelukan dan menangis.

"Kak, siapa dia? Aku takut.." lirih Hanny.

"Dia.. dia teman kakak sayang. Kau tidak perlu takut. Sekarang lebih baik kau masuk ke kamar dan belajar ya, nanti kakak akan menyusul" pinta Helly.

"Iya kak. Tapi kakak jangan tinggalkan aku ya.."

Helly mengusap air matanya dan berusaha tersenyum didepan adiknya.

"Tidak sayang. Kakak tidak akan pernah tinggalkan kamu.."
Gadis itu kemudian memeluk tubuh adiknya, lalu Hanny menuju kamarnya.

Helly kembali menatap pria itu dihadapannya yang juga sedang menatapnya sambil menyeringai. Helly tak mengerti dengan pria itu, entah apa yang akan dilakukannya.

"Kau bilang pada adikmu tidak akan meninggalkannya, tapi kau menawarkan dirimu sendiri untuk kulaporkan pada polisi. Lalu bagaimana dengan nasib adikmu?"

Helly hanya bisa diam dan tertunduk.
"Aku tahu. Adikku hanya mempunyai aku sebagai keluarganya begitu juga aku. Kedua orang tua kami juga sudah tiada.. Tapi bukankah kau ingin aku menerima hukuman agar kau merasa puas? Kau berpikir akulah pembunuh mamamu, jadi aku tidak bisa berkata apapun lagi.."

Varun tersenyum dengan puas. Pria itu merasa senang saat melihat kesedihan dan air mata yang jatuh dari wajahnya.

"Cepat bawa aku" pinta Helly dan menyerahkan dirinya.

"Baiklah aku akan membawamu. Tapi bukan pada polisi"

Helly mengernyitkan dahinya bingung.
"Maksudmu?"

"Aku tidak akan memberikanmu hukuman penjara. Tapi kau harus mau menjadi budak ku sampai sakit hatiku hilang tak bersisa"

Helly terkejut saat mendengar perkataan pria itu.
"Budak? Tidak! Aku tidak serendah itu tuan. Lebih baik aku dipenjara daripada menjadi budakmu!" bantah Helly.

"Baiklah jika kau tidak mau. Aku bisa lakukan apa saja yang bisa menghancurkan hidupmu secara perlahan"

Perkataan pria itu seperti devil bagi Helly. Ya, dia sangat menyeramkan.

"Bagaimana? Kau hanya menjadi budak ku saja dengan menuruti setiap perintahku tanpa membantah. Dan kau tidak perlu pergi meninggalkan adikmu sendirian. Apa kau tega melihatnya?"

Helly terdiam dan mencoba memikirkan perkataan Varun. Disatu sisi dia juga tidak ingin meninggalkan adiknya dengan pergi ke penjara. Tapi disatu sisi juga, gadis itu merasa bingung. Apa maksudnya dengan kata budak? Apa dia akan menjadi pembantu nanti dirumahnya?

"Baiklah. Aku..aku akan menuruti semua perintahmu"

Varun yang mendengarnya merasa sangat senang karena rencananya telah berhasil.

"Nice baby.." bisiknya.

Sedangkan Helly merasa risih dengan tatapan Varun yang seakan menatap lapar pada dirinya.

Tbc..

Just plz respon dan vote kalian😥

SLOWLY DESTROY [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang