******
"Papa sudah mengatakan berulang kali padamu! Kenapa kau selalu membantah perintah dari papa?!"
Seorang pria baya kini tengah berusaha menahan amarah dalam dirinya kepada putranya sendiri yang kini hanya bisa diam dan terlihat acuh.
"Varun, apa kau dengar papa?!" bentaknya lagi.
Putranya itu hanya mengangguk dengan malas, "Iya paa. Varun dengar"
"Hentikan perilaku burukmu itu yang suka berfoya foya tidak jelas! Jika kau tidak menuruti perintah papa lagi, akan kuberi kau hukuman" tegasnya sekali lagi.
"Ck, Varun tidak berfoya foya paa. Hanya sekedar menikmati hidup saja"
"Cukup! Kau seharusnya fokus terhadap perusahaan yang kau kelola sekarang, Varun. Bukan mencari kesenangan yang tidak jelas!"
Putranya itu kembali memalingkan pandangannya dengan malas, seakan benar benar tak ada reaksi sedikit pun dari amarah papanya.
"Terserah papa sajalah. Varun lelah.." gumamnya dan langsung berlari kearah tangga menuju kamarnya.
"Varun! Tunggu nak.."
"Ck, kau lihat putramu yang keras kepala itu Lenny? Dia akan menjadi pria yang tidak berguna nantinya!" umpatnya lagi.
"Cukup paa! Jangan memarahi Varun seperti itu, kita sebagai orang tua harus bisa menasehatinya baik baik agar dia mengerti.." bantah seorang wanita baya yang menentang suaminya sendiri.
"Lenny, aku dari dulu sudah menasehatinya dengan baik, tapi dia selalu saja berulah. Dia akan menghancurkan dirinya sendiri nanti"
Wanita bernama Lenny itu hanya bisa terdiam dan tak bisa menyangkal perkataan sang suami.
"Aku akan menyusul Varun" ucapnya dan berlalu pergi keatas.
"Varun, kau benar benar memancing amarah papamu jika kau tak pernah menuruti nasehatku.." lirih pria baya itu dengan nada seraknya.
Kriet..
Suara pintu kamar terbuka. Lenny datang untuk menemui putra kesayangannya, Varun Edward Levino.
"Varun.." panggilnya.
Varun yang kini sedang berbaring santai diranjang sambil bermain ponselnya hanya bisa melirik pelan kearah mamanya.
"Hmm.." dehemnya.
Lenny duduk disamping Varun dan mengelus rambutnya dengan sayang.
"Kau sudah dengar kan apa kata papamu tadi? Kenapa kau tidak pernah menuruti perkataannya nak.." lirihnya.
"Maa, bukannya aku tidak menuruti semua perintah papa itu, tapi aku merasa papa selalu saja mengatur dan mengekangku! Aku ini sudah dewasa, maa" bantah Varun sambil mencoba mengatur nafasnya yang memburu karena kesal.
Lenny kembali tersenyum dan mengelus rambut putranya dengan lembut.
"Mama mengerti. Tapi kau harus bisa nak. Kau tahu kan, papamu itu mengidap penyakit yang kapan saja bisa akan kambuh. Mama mohon, jangan membuat hal buruk apapun sampai terjadi"
Mamanya itu terus saja menasehati putranya dengan banyak kata. Namun lihat pria keras kepala ini, sama sekali tak mendengarnya dengan baik.
"Yasudah maa. Aku lelah, mau istirahat dulu" ucap Varun dan menarik selimut ditubuhnya.
Lenny mengangguk lalu mengecup kening putranya dengan sayang.
"Good night my son" bisiknya.
Varun menatapnya sambil tersenyum kecil, "Too maa"
KAMU SEDANG MEMBACA
SLOWLY DESTROY [END]
Romantik[COMPLETED] Adult! "Aku membutuhkan tangisan dan kehancuranmu lebih dari apapun" -- Varun Edward Levino DONT COPY PASTE! {Ditulis tanggal: 6 Juni 2019 Selesai ditulis: 17 Agustus 2019} Chirkoot.
![SLOWLY DESTROY [END]](https://img.wattpad.com/cover/188840189-64-k844766.jpg)