******
"Bagaimana keadaan mama saya dokter?!"
Sang dokter menghela nafasnya dengan panjang, "Maaf tuan. Karena kecelakaan yang terjadi begitu keras dan juga penyakit Anemia yang diderita beliau sudah semakin parah menyebabkan nyawa nyonya Lenny tidak bisa kami selamatkan lagi"
Deg!
Varun merasa nafasnya terhenti sesaat mendengar ucapan dokter yang seperti mimpi buruk baginya. Pria itu menghentakan tubuh sang dokter merasa tak terima.
"Tidakk! Mama pasti selamat! Hidupkan mama saya lagi dokter! Cepat..!" teriaknya yang kini seperti orang gila.
"Maaf tuan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Ikhlaskan yang sudah terjadi, semua kehendak yang diatas.." jawab dokter itu dan langsung berlalu pergi.
Varun merasakan tubuhnya lemas, pria itu terduduk dikursi dengan air mata yang mengalir. Kini Varun mulai menyesali sikapnya dulu yang selalu tak pernah memperhatikan mamanya, apalagi mendengarkan nasehat baiknya.
"Maa, maafkan Varun. Kenapa mama pergi secepat ini? Hanya mama yang paling sayang denganku.. tapi kenapa dengan sekarang?"
"Varun menyesal, maa. Harusnya tadi Varun mengantar mama saja dan tidak membiarkan mama menyebrang jalan sendiri dan membuat mama jadi seperti ini.."
Detik kemudian, pria itu mengingat pada seseorang yang telah menyebabkan ini semua terjadi. Seorang gadis yang mengemudikan mobilnya, juga seorang pria yang bersamanya. Dan parahnya lagi yang semakin membuat Varun ingin menghabisinya adalah karena mereka kabur begitu saja dan tak memiliki rasa kemanusiaan sedikit pun.
Varun mengepalkan tangannya dengan kuat, rahang kokohnya mulai mengeras pertanda pria itu merasa tak terima dengan semua ini.
"Pembunuh! Akan kubalas kalian atas kematian mamaku! Apalagi gadis yang mengemudikan mobilnya itu, dia seorang gadis tapi tidak mempunyai hati sedikit pun. Akan kubuat hidupmu hancur karena telah membunuh mama!"
-
Seorang gadis kini tengah menangis sesenggukan dikursi rumah sakit. Gadis itu benar benar merasa terpuruk, hatinya hancur saat mendengar perkataan dokter bahwa nyawa ibunya tidak bisa diselamatkan lagi karena penyakit yang dimilikinya. Apalagi, gadis itu terlambat menemui ibunya disaat saat terakhir karena dia juga telah melakukann kesalahan besar, mengingat dirinya telah menabrak seseorang dijalan karena terburu buru. Dan parahnya, gadis itu benar benar terpaksa meninggalkannya tadi, sesungguhnya dia juga tak tega melihatnya.
"Helly.." bisik seseorang dan mencoba memeluk tubuh gadis itu.
Namun gadis itu malah menatapnya dengan tajam, "Zain! Ini semua gara gara kau! Tadi kenapa kau menyuruhku untuk kabur? Bagaimana jika sesuatu terjadi pada orang yang kita tabrak tadi?!" bentaknya dengan nafas memburu.
"Helly, itu memang harus kita lakukan! Agar kita bisa menemui ibumu dirumah sakit, jika kita menolongnya tadi maka.."
"Apa? Ibuku juga akan tetap tiada kan? Percuma! Aku merasa menyesal, duniaku hancur Zain, hancur.."
Gadis itu kemudian menangis dengan sangat buruk, pria disampingnya langsung mendekap erat tubuh mungilnya.
"Tenang sayang. Ada aku kan disini.."
Gadis itu masih tetap menangis didalam pelukannya.
'Ck, bagaimana ini? Aku merasa takut karena kecelakaan tadi. Aku pasti akan terlibat juga nantinya karena pria itu melihatku! Astaga.. tapi tunggu, pria itu kan melihat jika Helly yang membawa mobilnya bukan aku. Semoga saja pria itu tidak akan membunuhku..'
Beberapa hari kemudian..
"Sudah kalian temukan gadis itu? Cepat kalian harus dapatkan dia! Jika tidak kalian semua akan habis ditanganku!" bentak Varun yang kini sedang berbicara pada kedua temannya. Justin dan Zaroon.
KAMU SEDANG MEMBACA
SLOWLY DESTROY [END]
Romansa[COMPLETED] Adult! "Aku membutuhkan tangisan dan kehancuranmu lebih dari apapun" -- Varun Edward Levino DONT COPY PASTE! {Ditulis tanggal: 6 Juni 2019 Selesai ditulis: 17 Agustus 2019} Chirkoot.
![SLOWLY DESTROY [END]](https://img.wattpad.com/cover/188840189-64-k844766.jpg)