******
Varun datang ke kamar sang papa dan melihat beliau tengah terduduk dibalkon kamarnya.
"Paa, ada apa? Papa baik baik saja kan?" tanya pria itu dengan sedikit cemas dan langsung duduk bersama sang papa.
"Papa baik baik saja nak. Ada hal penting yang harus aku bicarakan denganmu" ujar Vino.
"Apa tentang perusahaan paa? Kau tenang saja, Varun kan sudah berubah. Aku akan mengelola perusahaan itu dengan baik"
Varun menunjukan senyumnya sambil menyentuh tangan papanya.
"Bukan tentang itu, tapi tentang kekasihmu Helly"
Varun terdiam dan mengernyitkan dahinya dengan bingung. Ya, papanya itu menyebut Helly sebagai kekasihnya. Karena memang Varun sendiri yang mengatakan itu, agar papanya tidak menaruh curiga dengan rencananya untuk menghancurkan hidup wanita itu.
"A..ada apa memangnya paa?" Kali ini pria itu sedikit gugup.
"Papa sudah tahu semua niatmu pada wanita itu, Varun. Kau ingin membalaskan dendam kematian mamamu pada wanita itu kan?"
"Ba..bagaimana papa bisa tahu?" tanya Varun tidak percaya.
"Tentu saja aku tahu. Dan dengar, semua perbuatanmu kepadanya itu salah Varun. Kau sudah menyakitinya apalagi kau sudah berani menidurinya, bahkan dia tidak bersalah" ucap Vino.
Varun yang mendengarnya merasa muak dan berdiri tanpa menatap papanya.
"Tidak, apanya yang salah paa? Wanita itu sudah merenggut nyawa mamaku, dia juga bersalah dalam kecelakaan itu. Dan aku, tidak akan pernah melepaskannya sampai aku puas!" tegas Varun sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Kau belum tahu semua kebenarannya, kau hanya mengetahui setengahnya saja. Papa ingatkan sekali lagi, jangan kau sakiti wanita malang itu dan jangan sampai kau menyesal dikemudian hari. Aku seperti ini hanya untuk memperingatimu, karena aku adalah papamu yang akan selalu menuntunmu ke jalan yang benar" jelas Vino, namun Varun seperti tidak memperdulikan nasehatnya.
"Terserah papa sajalah, sekarang lebih baik kau istirahat. Ayo kubantu untuk berbaring" Varun kemudian menuntun Vino untuk berbaring diranjangnya.
"Jika papa butuh sesuatu, panggil saja aku" lanjutnya.
Sedangkan Vino hanya menatap wajah putranya dengan lekat.
"Dengarkan perkataan papa nak, jika kau tidak ingin berjalan dijalan yang salah dan jangan sampai kau menyesalinya" ucap Vino.
Varun hanya terdiam sambil memalingkan pandangannya.
"Lupakan tentang itu paa, sekarang tidurlah. Aku pergi dulu" Pria itu kemudian berlalu, sedangkan Vino menatapnya dengan kesedihan.
Varun kemudian kembali menuju kamarnya tanpa merasa terganggu sedikit pun dengan perkataan papanya tadi. Baginya papanya itu hanya merasa kasihan pada Helly, sebab itu dia menginginkan untuk Varun lepaskan. No! Melepaskan begitu saja sedangkan dirinya belum merasa puas? In your dreams.
Pria itu perlahan membuka pintu kamarnya yang sempat dia kunci. Sebelum dirinya masuk, Varun sempat terdiam.
"Awas saja jika dia tidak ada didalam kamar!" umpatnya kemudian membuka pintu.
Varun terdiam dan menatap Helly yang ternyata masih berada didalam kamarnya. Pria itu terpaku saat menatap wajah damai wanita itu yang sedang tertidur pulas dan sebuah senyum kecil menghiasi wajahnya.
'Shit! Kenapa denganku? Dan wajah wanita itu saat tertidur benar benar membuatku.. ahh apa apaan kau Varun! Impossible!'
Varun kemudian mendekati wanita itu dan mengumpat kesal saat Helly sudah mengenakan pakaiannya kembali. Padahal gairahnya belum sempat tersalurkan tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
SLOWLY DESTROY [END]
Romance[COMPLETED] Adult! "Aku membutuhkan tangisan dan kehancuranmu lebih dari apapun" -- Varun Edward Levino DONT COPY PASTE! {Ditulis tanggal: 6 Juni 2019 Selesai ditulis: 17 Agustus 2019} Chirkoot.
![SLOWLY DESTROY [END]](https://img.wattpad.com/cover/188840189-64-k844766.jpg)