33. Perubahan Varun

2.7K 83 0
                                        

******

EDWARD CORPORATION

Kali ini diperusahaan mendiang keluarga Edward, semua terlihat sibuk bekerja. Bahkan saat ini para staff pegawai berlalu lalang menyelesaikan tugas mereka dengan cepat. Beberapa tahun belakangan ini, perusahaan besar ini berubah dengan peraturan yang semakin ketat. Mereka selalu diberikan perintah dan tindakan yang tegas oleh atasan.

Varun. Semenjak melewati kejadian begitu buruk dalam hidupnya, pria itu kini berubah menjadi pria yang semakin dingin, gila kerja, dan bahkan tidak pernah menampakan seulas senyum dibibirnya. Varun juga sangat irit dalam berbicara, hidupnya sekarang hanya untuk melanjutkan perusahaan mending kedua orangtuanya. Walau tiap malam hari atau bahkan saat pria itu sedang menyendiri, kesedihan selalu datang padanya. Varun merasa dia tidak memiliki siapapun, walau pria itu terkenal sangat kaya dengan kesuksesannya. Namun apalah arti kekayaan itu jika orang orang yang dia cintai tidak berada disampingnya.

"Apa kau tidak bisa becus dalam bekerja, ha?! Laporan yang kau buat ini salah semua!"

"Ma..maaf tuan. Mungkin saya ada keliru sedikit"

"Saya tidak mau tahu, buat ulang laporan ini secepatnya!!"

"Ba..baik tuan"

"Pergi! Dasar tidak berguna!!"

Varun mengatur nafasnya yang sedikit memburu saat memarahi staff kantornya. Ya seperti inilah dia, jika ada bawahannya yang melakukan sedikit saja kesalahan atau ada yang menentang dan tak patuh dengannya, amarahnya akan begitu cepat muncul. Seringkali Varun mencoba menahan semuanya, namun kesedihan dalam hidupnya membuat perasaan pria itu semakin sensitif. Varun mungkin hanya bisa melampiaskannya dengan amarah dan kesedihan, dan juga pria itu berusaha untuk melupakan masa lalunya dengan kerja, kerja, dan kerja!

Tok..tok..

"Masuk!"

Justin muncul dari balik pintu dan melihat Varun yang sibuk dengan laptop dan beberapa berkasnya yang menumpuk dimejanya. Justin pun menghampirinya sambil mengusap bahunya.

"Var, kau baik baik saja?"

"Ya, aku baik. Ada apa kau kemari Jus?" tanya Varun tanpa menatap pada lawan bicaranya, pria itu tetap sibuk.

"Aku hanya ingin menemuimu. Dan.. kau baru saja memarahi staff mu kan? Kenapa kau menjadi seperti ini Var? Kau semakin keras, bahkan kau selalu bekerja siang dan malam tanpa henti. Kau juga tidak memperhatikan kesehatanmu. Dan satu hal lagi, aku tidak pernah melihat satu senyum pun dari wajahmu" lirih Justin.

Varun yang mendengar keluhan dari sahabatnya kemudian menghentikan aktivitasnya dan beralih untuk menatap kosong kearah depan.

"Maafkan aku Justin. Hidupku memang seperti ini, semuanya tidak teratur. Bahkan aku sudah lupa bagaimana caranya bahagia. Biarkan aku tetap seperti ini.."

Justin yang melihat wajah Varun mulai kembali bersedih merasa tak tega dan semakin mengusap bahunya.

"Aku tahu kau masih memiliki perasaan dengan Helly, kau tidak pernah melihatnya lagi. Dan aku tahu Var, kau menjadi seperti ini karena frustasi kehilangan dirinya dalam hidupmu"

Varun yang mendengar nama Helly merasa dadanya langsung terasa sesak. Kedua matanya terlihat memerah dan berair.

"Ya, perasaan itu masih sampai sekarang. Aku sangat merindukannya. Bahkan sudah empat tahun lamanya, setelah dia pergi meninggalkanku bersama dengan Zaroon. Aku tidak tahu dia ada dimana sekarang. Aku..aku ingin sekali lagi untuk meminta maaf, benar benar meminta maaf dan memohon padanya. Hidupku terasa hampa Jus, hatiku selalu terasa sakit saat mengingatnya.."

Detik itu juga Varun tak kuasa menahan keterpurukannya, pria itu menutup wajahnya dengan satu tangannya dan terisak pelan disana. Justin semakin merasa tak tega melihat keadaan Varun, dengan sigap pria itu mencoba menenangkan sahabatnya dengan memeluk dan mengusap rambutnya.

"Tenanglah Var.." lirih Justin.

"Ini karmaku Justin, dimasa lalu aku sudah begitu jahat menyakiti seseorang dan aku dulu sangat terobsesi dengan dendam. Dan sekarang.. inilah yang kudapatkan.."

"Var, sudah. Please.. aku tidak bisa melihatmu seperti ini" Justin kembali mengusap rambutnya.

"Aku merasa bodoh sekali. Disaat dia juga mengatakan cinta padaku waktu itu, tapi aku.. malah tidak percaya dengan perasaanku sendiri dan kembali mengingat rasa benci dan dendamku. Dan sekarang, saat aku benar benar menyadari cintaku padanya dan sangat menginginkan dia kembali dalam hidupku.. dia malah pergi dan meninggalkanku.. Ini benar benar pantas untukku, karmaku!" pekik Varun sambil memukul kepalanya sendiri.

"Varun, cukup!"
Justin sedikit berteriak dan mencoba menenangkan Varun yang kini sedang menatap padanya.

"Kita akan mencari dimana Helly. Aku berjanji akan menemukannya dan membawa wanita itu kepadamu Var. Kau jangan seperti ini lagi.." lirih Justin.

Sedangkan Varun yang mendengar perkataan Justin memalingkan pandangannya sambil mengusap air mata yang masih menempel dipipinya.

"Kau lupa Jus? Helly bilang dia sangat mencintai Zaroon, dan mungkin sekarang.. mereka sudah bahagia hidup bersama. Aku..aku sama sekali tidak berhak untuk kembali dan mengganggu kehidupan mereka. Aku sudah cukup banyak menyakiti Helly, sekarang biarkan aku yang merasakan sakit seperti ini. Dan kami berdua impas, biarkan dia bahagia"

"Tapi Var.."

"Sudahlah Justin, lupakan itu. Kumohon kau pergilah sekarang, aku ingin sendiri" pinta Varun.

Justin pun mengangguk dengan merasa sedih saat melihat wajah sahabatnya. Pria itu menutup pintu ruangan Varun dan terdiam sejenak.

"Kau tenang saja Varun. Siapa yang tahu takdir seseorang? Kita tidak pernah tahu takdir kita sendiri. Maka dari itu kita butuh berusaha, aku akan mencoba untuk mencari keberadaan Helly. Tidak perduli jika dia mungkin sudah bahagia bersama Zaroon. Yang kuinginkan hanyalah melihat senyum diwajah sahabatku"

Tbc..

SLOWLY DESTROY [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang