Di jam yang masih bisa dibilang subuh ini, dua makhluk yang biasanya masih tertidur lelap di atas kasur kini sudah bermain main di gazebo dekat kolam. Askar yang sudah rapi dengan jaket kulit hitam kebanggaannya mengernyit heran. Tumben sekali mereka bisa bangun sepagi ini. Tapi kenapa harus di hari libur? Sedangkan dihari sekolah, Mereka adalah makhluk yang paling sulit dibangunkan dalam peradaban orang orang yang Askar kenal.
"Aneh yang sudah mendarah daging! Untung gue keluar dari lubang yang beda dari mereka. Alhamdulillah dulu ahhh..." Askar mengusap kedua telapak tangannya pada wajah. ia menggeleng pelan dan berjalan menuju kirey Dan danesh untuk sekedar menyapa.
Kedua adik Askar itu kini sedang bermain dengan kucing kucing peliharaan mereka. Kirey memiliki satu ekor, tapi dia tidak benar benar merawat kucingnya sendirian. Karena nyatanya Danesh, adiknya, malah yang paling banyak meluangkan waktu dan tenaga untuk kucing kucing dirumahnya termasuk kucing milik Kirey. Dia lebih hebat dalam memelihara kucing, wawasannya tentang dunia perkucinganpun lebih banyak. Jadi Kirey selalu meninggalkan kucingnya dirumah Askar untuk dirawat Danesh.
"Kalo kamu gede nanti, Kakak yakin kamu bakal jadi cowok yang baik. Kamu akan perhatian ketemen temen kamu sama seperti perhatian ke Miu, Wu, Vlo dan Luby." Kirey bersuara saat melihat adik satu satunya itu mengajak curhat empat kucing yang sedang nyaman didekapannya. Termasuk kucing milik Kirey yang bernama Miu.
"Kalo gitu, aku juga yakin bakal punya pacar kayak kakak. Yang baiiikkkk banget, bukan yang ngeselin kaya A.a."
Keberadaan Askar didekat mereka, diketahui oleh Danesh. Danesh yang memang sedang kesal pada Askar karena semalam tidak boleh tidur bersama Kirey dengan alasan bukan mukhrim itupun memutar bolamata malas. Ia beranjak dari tempat duduknya yang sangat dekat dengan Askar menjadi ketempat yang berlawanan.
Askar yang melihat itupun mengernyit. Ia memandang Kirey meminta jawaban. Tapi yang dipandang malah sibuk tertawa karena perilaku yang Danesh tunjukkan.
"Kenapa sih lu dek? A.a punya salah emang? Perasaan A.a ganteng itu bukan kesalahan lohhh"
Lelah menunggu jawaban dari Kirey, Askar langsung saja menanyakan pertanyaannya itu kepada Danesh. Dia juga sedikit berfose layaknya model tampan untuk menggoda Danesh agar lebih kesal kepadanya.
"Danesh gak punya A.a. kakak Danesh cuma kak Kirey!"
Jleb.
"Hey anak kecil! Kirey juga gaakan jadi kakak lo kalo gue bukan kakak lo, Ngerti!?" Askar mengutarakan pembelaannya dengan begitu dramatis.
Danesh mulai berdiri. Dia berkacak pinggang terlihat begitu marahnya. Bukan suatu yang rahasia jika Danesh sangatlah menyukai Kirey. Apapun yang ia gambarkan tentang Kirey sangatlah sempurna. Saat seseorang berkata bahwa Kakak perempuannya akan meninggalkannya, tentu ia akan marah.
"Kak Kirey akan tetep jadi Kakak aku!" Danesh berteriak dengan keras. Bahkan Kirey yang memiliki suara tak jauh dari adiknya itupun menutup telinganya. Kini Kirey merasakan apa yang teman dan keluarganya rasakan saat dia berteriak didekat mereka.
Askar tersenyum saat melihat mata adiknya mulai berkaca kaca. Aneh rasanya. Jika Danesh saat ini adalah Kirey, Askar jelas sudah meminta maaf atas perbuatannya, menghiburnya agar kembali ke emosi yang normal, lalu menawarkan diri untuk diperintah apapun agar adiknya memaafkannya. tapi jika kesesama lelaki, terkadang jiwa keberengsekkannya keluar. Askar selalu belum merasa puas saat adik laki lakinya belum mengeluarkan air mata.
"UMIIIIII!! A.....!"
Danesh mulai menangis saat melihat wajah Askar yang mengejeknya. Dia segera turun dari gazebo, memukul perut askar dengan kekuatan super anak kelas 1 SD lalu berlari menuju kedalam rumah untuk melapor.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIA 2: KENZO RADAVI ALDRYAN
Teen Fiction[DIHARAP MEMBACA CERITA 'DIA' PERTAMA TERLEBIH DAHULU] Dia, KENZO RADAVI ALDRYAN, adik dari seorang ketua kumpulan berbahaya. Kini dia bukan lagi seseorang yang tidak diandalkan. Dengan sebuah fakta yang terungkap, membuat semua yang disimpan perlah...
