⚫⚫⚫
Perlahan tapi pasti, Alisya memutar knop pintu hingga pintu terbuka lebar. Ia memasuki kamarnya dengan santai dan berjalan ke arah suaminya yang kembali tertidur.
Ica menggoyang-goyangkan tubuh sang suaminya, tapi ... ia malah lari terbirit-birit ke arah pintu.
"GEMPA! GEMPA!" teriak Fikri berlari ke arah pintu.
Sebelum ia memutar knop pintu. "Hey, Mas. Mau kemana kamu?" tanya Ica yang terheran-heran.
Fikri berbalik kembali berlari ke arah Ica, ia mencekal tangan istrinya berniat ingin berlari. Tapi Ica menahannya.
"Sayang, gempa! Gempa. Ayo cepet keluar," jelas Fikri panik.
"What, gempa? Mana ada, aku gak ngerasain sama sekali tuh."
"Ih, iya. Tadi aku ngerasain sendiri tubuh aku goyang-goyang, kek macam gempa gitulah pokonya. Ayo, ayo lariiii!"
Ica menepuk jidatnya. "Yaampun, itu bukan gempa Dodol! Itu aku yang goyangin tubuh kamu, Mas."
"Niatnya mau bangunin kamu yang kembali rebah dikasur, eh kamu malah lari kek orang dikejar utang. Kan aneh sangat aku," lanjut Ica menjelaskan.
"Ihh, kamu ngeprank aku ya!"
"Dih, siapa juga yang nge prank, kamunya aja yang riwehhhhh."
"Udahlah, ayo kebawah sarapan." ajak Ica, ia menarik lengan suaminya.
"Eittt!" Fikri menahan tangannya agar tak ikut terbawa Ica.
Ica membalikan badannya. "Apaan sih!" ketusnya.
"Sini, deh. Aku mau bisikin sesuatu sama kamu,"
Ica yang menasaran apa yang mau diucapkan Fikri, mendekatkan telinganya ke arah bibir Fikri.
"Aku sayang kamu!" bisik Fikri.
"Yeee, udah tau lah. Ayo cepet kebawah." Ica menyeret lengan suaminya.
"Jan diserat dong, Sayang! Emang aku sapi apa." omel Fikri.
"Yaudah," Ica melepaskan tangan Fikri dari tangannya dan berjalan mendahului suaminya.
"Kok gue malah ditinggalin ya?" gumam Fikri.
"Heyyy, tunggu. Sayang!"
Fikri berlari menyusul sang istri yang telah berada di anak tangga.
Setelah menuruni anak tangga satu persatu, Ica membereskan piring-piring yang belum tertata dimasing-masing tempat.
Dimeja makan hari ini, tak ada orang sama sekali. Fikri berjinjit-jinjit mendekat ke arah Ica, ia tersenyum jahil.
'Uhuy, gak ada orang nih. Mantep,' tangannya melingkar dipinggang milik Ica.
Ica yang merasa terganggu dengan tangan kekar seseorang langsung mencubinya.
"Aww!" ringisnya mengusap tangan yang dicubit.
"Kamu sih, ganggu aja. Gih duduk! Aku beresin ini dulu," titah Ica dengan melepaskan tangan suaminya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Sang Dokter (Slow Up)
General Fiction17+ [Sedikit dan gak banyak mengandung unsur dewasa] Follow sebelum baca :) *** Mencintai setelah menikah itu, INDAH. mau apa-apa gak sungkan, tinggal lakuin aja. kan udah sah. *** ⚠ Cerita ini pertama buat, mohon maaf atas tada baca yang tak sesuai...
