"Hust! Kamu mah bicaranya ngaur, yakali aku selingkuh dari istriku beautifull ah."
"Istriku, apa?" ulang Ica.
"Beautifull," jawab Fikri dengan santai.
Ica yang mendengar pujian manis itu seketika kemarahannya turun, ia tersenyum dalam diam.
"Kalo mau senyum mah liat kesini aja kali, kan suamimu yang tampan ini mau liat wajah cantik merah dipipi mu." Fikri mencubit gemas hidung Ica.
"Apaan, sih!" ketus Ica memalingkan wajah nya menyembunyikan semburat dipipinya.
"Dasar istriku, dipuji dikit aja langsung kek udang." gumam Fikri.
"Hey, aku denger ya!" ketus Ica.
"Hehehe, kenapa, Sayang?"
"Au ah, pen bobo. Bay!"
"Eeee, mau dijawab gak pertanyaan tadi?"
"Gak, gak mood!"
Ica membaringkan tubuhnya dengan nyaman, ia tidak menghadap ke arah Fikri, melainkan menghadap sisi lain di sampingnya.
"Dosa loh, kalo tidur belakangin suami." ucap Fikri.
Ica tak perduli dengan ucapan yang dilontarkan oleh suaminya, ia memejamkan matanya. Tapi nihil, kantuk itu tak menghampirinya saat ini.
Sebenarnya Ica ingin tau tentang anak kecil manis itu, tapi ntahlah, egonya melebihi itu.
"Kalo mau tau tentang anak kecil itu ya balik sini dong," sindir Fikri.
"Aku tau kamu pura-pura tidur ye, 'kan?" lanjut Fikri.
"Yaelah, Beb. Belum tau tentang dia, kamu susah tidur loh, kan kamu sendiri yang repot." lanjut lagi nya.
Ica masih setia memejamkan matanya, ia memang susah tidur karna masih memikirkan anak kecil itu. Tapi ..
2 menit.
4 menit.
Dan menit berikutnya, Ica membalikan badanya, ia menghadap ke arah suaminya.
Deg.
Netra mereka bertemu, jantung Ica hampir copot. Untung saja Allah masih menyayanginya, dan membiarkan nya hidup.
"Eh."
"Kenapa?" tanya Fikri, ia menatap istrinya.
"Jangan diliatin, malu!" Ica memalingkan wajahnya, ia menatap langit kamarnya.
"Balik sini, ih." Fikri mencoba membalikan kepala Ica agar menghadap kembali padanya.
"Tapi, jangan liatin ya." Ica masil memandang langit putih kamarnya.
"Iiii, ya biarin atuh. Kan rindu,"
"Rindu apanya coba, orang sering ketemu dirumah sakit kok,"
"Itu beda lah,"
"Beda dari mana? Cina?"
"Kok cina? Hongkong dong!"
"Ya gamau, orang mau cina kok."
"E buset aku sih o aja,"
"Ih kek remaja ah," Ica menatap sekilas suaminya, kemudian ia memutarkan bola matanya.
"Ya gapapa dong,"
Ica tak lagi membalas ucapan suaminya itu, ia masih menatap langit, meski di atas sana tak ada apapun yang menarik.
"Liat sini ih, kan mau tau penjelasannya, kan?"
Meski ingatannya ilang, tapi Ica kek dulu kan? Iya kan? Iyain dong, biar aku seneng ih.
Detik berikutnya Ica membalikan wajahnya dan menghadap Fikri, suaminya. Fikri yang melihat itu langsung menatap lekat istrinya.
"Tuh, kan. Apa aku bilang,"
Ica yang hampir membalikan badan nya ke lain arah langsung ditahan oleh Fikri, dengan apa? Dengan memeluk Ica.
"Ih lepas, ih!" Ica terus memberontak dengan pelukan dari Fikri.
"Gak ah, nyaman kek gini. Anggettt," Fikri mempererat pelukannya.
"Enggap nih, huhh huhh," Ica berlagak layaknya orang yang kehabisan napas.
Dengan terpaksa dan berat hati Fikri melepaskan pelukannya. Melihat wajah masam suaminya Ica berkata. "Boleh peluk, asal kasih tau dia anak siapa."
Fikri tersenyum manis dengan berkata. "Oke, gampang itu."
Mereka kembali duduk untuk membahas kembali anak kecil itu.
"Jadi dia anak angkat, Sayang. Bukan anak kandung kita," jelas Fikri.
"Anak angkat? Dapet darimana?"
Fikri menjelaskan kembali tentang kecelakaan yang menimpa Ica seminggu yang lalu, sedetail-detailnya.
Mendengar penjelasan dari Fikri, Ica menutup bibirnya dengan dua tangan, tak percaya.
"Ja--jadi, Ica keguguran Mas?"
"Kamu jangan sedih ya, kita kan bisa buat lagi."
Buk!
Mendengar kata-kata terakhir dari Fikri, Ica memukulnya dengan guling.
"Dasar mesum!"
"Bukan mesum, kan emang iya, kan?"
Ica mengusap perutnya dengan lembut. "Maafkan Ibu sayang, kamu jadi tidak bisa melihat dunia." satu tetes air mata Ica turun.
"Sayang, 'kan aku udah bilang. Jangan sedih, kita bisa bikin lagi. Malam ini juga bisa kok," Fikri memeluk Ica dengan erat.
"Iiiii, apaan sih." ketus Ica.
___
Beberapa chapter lagi menuju ending ya
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Sang Dokter (Slow Up)
Ficção Geral17+ [Sedikit dan gak banyak mengandung unsur dewasa] Follow sebelum baca :) *** Mencintai setelah menikah itu, INDAH. mau apa-apa gak sungkan, tinggal lakuin aja. kan udah sah. *** ⚠ Cerita ini pertama buat, mohon maaf atas tada baca yang tak sesuai...
