"Ini udah ada kok," ucap seseorang memeluk Ica dari belakang.
Ica memutar badannya untuk melihat seseorang yang memeluk dan berbicara padanya.
"Mas?" ucap Ica kanget.
Fikri tersenyum menggoda. "Ciee nungguin ya?"
"Gak kok," elak Ica.
"Masa sih? Asli nihh?"
"Asli ih,"
"Lepas mas." lanjut Ica mencoba melepaskan tangan Fikri yang melingkar dipinggangnya.
"Gak mau, dingin,"
"Dingin tapi baju gak diganti,"
"Biarin, meluk kamu aja langsung anget kok,"
"Mas ih. Ganti baju sana! Baru boleh peluk Ica lagi,"
"Asli nihh?" goda Fikri mengangkat-angkat kedua alisnya.
"Iyah,"
Fikri mulai melonggarkan pelukannya, hingga terlepas dari pinggang Ica. "Tunggu ya," Fikri berjalan ke arah lemari.
Ica kembali menutup gordeng yang tadi dibukanya, dan setelah selesai ia berjalan ke arah ranjang.
Ica mulai menaiki ranjang dan duduk manis dengan bantal kecil dipangkuannya, sembari menunggu sang suami selesai ganti baju.
Fikri yang telah selesai dengan acara ganti bajunya, ia kembali mendekati sang istri yang tengah duduk diranjang.
Ia duduk disamping Ica, dan langsung memeluk Ica dari samping.
"Mass,"
"Hemm,"
"Mau dibuatin kopi atau teh gak?"
"Gak usah, peluk kamu aja udah anget kok,"
"Asli ih."
"Asli sayang, gak boong,"
"Yaudah deh,"
"Aku kangen kamu," ucap Fikri mempererat pelukannya.
"Aku lebih," gumam Ica, yang masih terdengar oleh indra pendengar Fikri.
"Hah, apa?"
"Gak,"
Fikri hanya menampakan senyum manisnya, ia masih setia memeluk Ica dari samping.
"Banggg!" teriak seseorang khas suara wanita dibalik pintu kamar mereka.
"Aduh, ganggu aja. Siapa sih," gumam Fikri kesal.
"Mungkin adik kamu mas," balas Ica, yang mendengar gumaman sang suami.
"Adik? Kan Aisyah sama Fattah mondok Ca,"
"Loh kamu gak tau apa?"
"Apa?"
"Adik kamu kan udah pulang tadi,"
"Iya kah? Kok ibu gak bilang ya?" ucap Fikri heran.
"Lupa mungkin,"
"Gih samperin adik-adik kamu, mungkin rindu mereka." lanjut Ica.
"Yaudah aku samperin dulu ya," Fikri beranjak dan diakhiri mengecup sekilas kening Ica.
"Mau ikut gak?" tanya Fikri.
"Boleh,"
"Ayoo," Fikri menarik pelan pergelangan tangan Ica.
"Eh tunggu, pake jilbab dulu," cegas Ica.
"Yaudah gih,"
Setelah selesai memakai jilbab, Ica dan Fikri berjalan keluar kamar.
"Abangggg, isyah rinduuu," saat melihat wujud sang kakak, wanita cantik bernama Aisyah itu langsung memeluk erat Fikri.
"Abang juga rindu kamu," balas Fikri mengusap-usap kepala aisyah yang terbalut jilbabnya, dan membalas pelukannya.
Mereka berdua asyik berpelukan menghapus rindu antara sang adik kakak itu, Fikri melepaskan pelukannya.
"Atah mana syah?" tanya Fikri, karna tidak melihat sang adik jagoan dibelakang Aisyah juga di sekeliling.
"Dibawah sama Ibu," balas Aisyah.
"Yaudah kita kebawah aja,"
"Ayoo," ucap Aisyah bersemangat.
"Ayo sayang," ajak Fikri mengandeng Ica.
Fikri dan Ica mulai berjalan, tetapi Aisyah, tidak ikut berjalan. Wajah nya yang tadi ceria kini berubah menjadi murung.
"Dek ayo," ucap Ica menoleh kebelakang dan berhenti dari jalannya, karna ia melihat Aisyah tidak ikut berjalan.
"Gak mau," jawab Aisyah memalingkan wajahnya.
"Loh kenapa?"
"Bang Fikri gak gandeng Isyah." ketus Aisyah.
"Yaudah ayo, jan ketus-ketus dong," Fikri berjalan mendekat kearah Aisyah yang sedari tadi mematung ditempat.
Fikri mengandeng Aisyah, layaknya seperti seorang suami istri. Tapi lebih serasi Dengan Ica, ingat hanya Ica! Alisya Ayudia Alfirizi.
Kini Ica yang mematung ditempat, ia tidak ikut berjalan dengan adik ipar juga suaminya.
"Ya allah sayang, ayoo. Kenapa diem?" ucap Fikri.
"Kamu gak gandeng aku!" ketus Ica.
"Yarobb.. yaudah ayo,"
Kini Fikri mengandeng kedua wanita cantik penghuni rumah sang orang tuanya, samping kiri terdapat Aisyah, sang adik kesayangannya. Dan samping kanan Alisya, sang istri tercintanya.
Mereka berjalan beriringan menuruni anak tangga. Mahesa dan Dwi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sang menantu juga kedua anaknya, berbeda dengan Fattah, ia malah senyum-senyum melihat Ica.
____
Vote ya:)
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Sang Dokter (Slow Up)
Genel Kurgu17+ [Sedikit dan gak banyak mengandung unsur dewasa] Follow sebelum baca :) *** Mencintai setelah menikah itu, INDAH. mau apa-apa gak sungkan, tinggal lakuin aja. kan udah sah. *** ⚠ Cerita ini pertama buat, mohon maaf atas tada baca yang tak sesuai...
