Chapter 65

103 4 0
                                        


Hari kian memanas, setelah puas Ara bermain dengan temannya ia segera mendekat ke arah sang Bunda dan Ayah yang tengah memakan buah apel dengan nikmat dikursi taman sana.

Dengan jalan yang tenang, Ara melewati orang-orang ditaman itu.

"Aduhh!" suara kecil gadis berpakaian serba pink saat lututnya mendarat diatas tanah.

Ara menoleh, ia mendapatkan seseorang yang tengah meringis dengan memengang lututnya yang terkena aspal.

"Kamu, gapapa?" tanya Ara, ia segera mendekat ke arah gadis berpakaian pink itu seraya membantunya berdiri.

"Gapapa, kok. Makasih, ya." balas sang gadis kecil itu tersenyum.

Ara menyodorkan tanggannya kedepan sang teman. "Tiara, panggil aja Ara. Nama kamu siapa?" Ara memperkenalkan dirinya dihadapan gadis kecil itu.

"Aku Devi, pangil aja Dedev." balas sang gadis kecil berpakaian pink itu dengan membalas sodoran tangan Ara dan tersenyum manisa.

"Salam kenal, Dedev. Kamu bener gapapa 'kan?" tanya kembali Ara menatap temannya itu.

"Gapapa Ara, lutut aku sakit tapi gapapa kok." jawab Dedev tersenyum.

"Mau diobati? Biar ayah Ara yang obati," tawar Ara pada Dedev.

"Ayah Ara Dokter, ya?" tanya Dedev menatap Ara dengan penuh tanya.

Ara mengangukan kepalanya dengan cepat. "Wihh, hebat ya ayah. Dokter," puji Dedev dengan menepuk tangan nya.

"Hihi kamu ini, yuk ke sana. Tuh bunda sama ayah Ara." tunjuk Ara pada dua insan yang tengah duduk dikursi panjang taman yang tak jauh dari kedua bocah itu.

"Gak usah Ara, Dedev cuma mau ngasih ini, punya Ara 'kan?" tanyanya dengan mengacungkan gelang hijau berbentuk daun-daun yang melingkar.

"Oh, iya. Pantes Ara ngerasa ada yang hilang, tapi Ara lupa. Hehe," ucap Ara mengaruk kepala yang gak gatal.

"Nih." Dedev menyodorkan gelang tersebut ke arah Ara, dan dengan senang hati Ara menerima dan memasangkannya ke lenggan munggil nya.

"Makasih, ya." ucap Ara tersenyum.

Mereka berdua hanyut dalam percakapan kecil mereka, hingga tak sadar mereka tengah berada ditengah jalan.

"Eh, duduk disana yuk! Sekalian makan baso tahu," tunjuk Ara ke arah si amang baso tahu yang tengah sibuk.

"Dedev gak bawa uang, Dedev ambil dulu di Mamah, ya?"

"Yaudah, Ara tunggu disini ya."

Dedev segera berlari ke tempat sang ibundanya dikursi taman dekat ayunan sana.

Tak membutuhkan waktu cukup lama, Dedev kembali dengan memengang uang ditangan kanannya. "Ayo!" ajak Dedev.

Mereka berdua segera mendekat ke arah Fikri dan Ica, sebab Ara tak membawa uang jadi ia akan meminta terlebih dahulu ke sang Ayah.

***

"Mau pulang jam berapa, Sayang?" tanya pria berambut hitam itu disela-sela makan apelnya.

"Nanti, aja Mas. Ara masih asyik main tuh," tolak sang istri dengan memberi alasan.

"Oke deh, tapi Ara mana, ya? Kok gak keliatan," Fikri, pria itu bangkit dari duduknya dan mengedarkan pandangannya ke arah tempat bermain anak-anak.

"Gak ada, Sayang." ucap Fikri yang terus mencari keberadaan putri kecilnya itu.

"Tuh, disana. Mas," Ica menunjukan telunjuknya ke arah dua bocah cilik yang tengah memengang tangan.

"Huhh, kirain ilang. Kaget aku," Fikri kembali duduk dan menunggu putri kecilnya mendekat.

"Haish, amit-amit ih!"

Kedua bocah kecil itu telah sampai didepan Fikri dan Ica dengan menunjukan gigi putihnya yang ompong. "Bunda, Ara mau beli baso tahu. Ara boleh minta uang?" ucap salah satu gadis kecil itu mendekati Ica.

Ica menatap gadis kecil tak berkerudung itu dengan inci, kemudian ia menatap sang putrinya secara bergantian. "Boleh," Ica menyodorkan uang berwarna hijau kepada putrinya.

"Ara gak mau yang ini, Ara mau yang 2000 aja Bunda." tolaknya dengan menatap uang lain ditangan Ica.

"Mau beli baso tahu 2000? Bisa gitu?"

"Bisa kok, Bunda."

Ica tersenyum menatap putrinya, ia memberikan uang senilai 2000 padanya. "Makasih Bunda," ucap Ara.

"Sama-sama, kamu ada uang Sayang?" Ica menatap gadis kecil disamping Ara.

"Ada tante, ini." Dedev, bocah kecil itu menunjukan uangnya yang berada dilengan kanan.

"Mau tante tambah?"

"Gak usah tante, Dedev cukup kok segini." tolak gadis itu dengan menundukan kepalanya.

Cinta Sang Dokter (Slow Up)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang