"Astagfirullah!"
Jalan satu-satunya untuk menyadarkan ia ku kagetkan saja, dan hasilnya? Uwaw ia langsung sadar. Mon maaf suami, aku lakukan ini demi kebaikan hehe.
"Yaampun sayang ngagetin aja," ketus suamiku dengan mengelus dadanya.
"Ya abis, dari tadi dipanggilin gak nyaut-nyaut." omelku kesal.
"Lah, orang gak denger kok," kata suamiku.
"Mau denger gimana, orang kamu ngelamun. Ngelamunin siapa? Pacar baru? Ouuu tega kamu ya, mentang-mentang aku gak inget semuanya seenak jidat kamu selingkuh. Sunguh terlalu!" tebakku dengan ribuan omelan, kesel abisnya.
"Iya pacar baru," jawabnya santai.
Pacar baru? Arggh kenapa tebakanku benar, hiks .. sangat sakit hiks .. ku cubit tangan kirinya. Sakit, sakit bodo amat dah. Diakan dokter bisa obatin sendirikan?
"Sakit sayang,"
"Bodo ah!" aku melangkah pergi meninggalkan pria itu yang masih terduduk dilantai.
"Hey ... bantuin berdiri."
Rengek pria itu, dasar manja! Udah gede ini masih mau dibantuin.
Rasa pusing kembali menghapiri dikepala ini, ya Allah sakit ini. Kenapa rasa sakit dikepala ini kadang datang, kadang hilang.
Kupengang kepala ini dengan satu tangan, kali aja pusingnya ilang. Semakin lama semakin sakit, kenapa ini? Rasanya aku mau pinsang, harus kuat, kuat. Bismilah ...
Kubaringkan badan ini diranjang, semoga dengan dibaringkan hilanng pusingnya dan tutup rapat netra ini.
"Sayang?"
"Ica?"
"Yank?"
"Ca?"
Panggil seseorang, ntahlah siapa aku tak mau melihatnya.
"Ica?"
"Sayang? Kamu kenapa?" tanya laginya, kali ini ia mengoyangkan perlahan tanganku.
Dengan terpaksa aku membukakan netra, yang aku melihat wujud suamiku dan anggota keluargaku. Sejak kapan mereka ada diruanganku?
"Kenapa Ca, pusing?" tanya Ibuku, ia mengelus lembut pucak kepalaku dengan sayang.
Aku mengagukan kepala sebagai jawaban. "Fik, tolong periksa Ica, takut kenapa-napa," usul Ibu, dan suamiku langsung menurut. Ia mendekat ke arahku, kemudian memeriksaku.
"Kenapa?" tanya Mamah.
"Ini efek amnesia Bu, jadi sebentar sebentar pusing, sebentar sebentar gak," jelas suamiku.
"Oh ... gitu ya,"
"Iya Ma,"
"Yaudah sayang, sekarang kamu istirahat ya," ucap Ibuku tersenyum, Ia menarik selimut hingga batas dada.
Dengan cepat aku gelengkan kepala, aku bosan lah harus istirahat mulu, tidur mulu, makan obat mulu.
"Kenapa sayang? Kan biar sembuh," ucap suamiku mengelus tangganku.
"Bosen lah,"
"Bosen?"
"Heem,"
"Ayolah, istirahat ya?" pinta suamiku.
"Gamau Dok,"
"Loh Ca, kenapa manggil Dok? Diakan suami kamu," omel Nisa, kakak ku.
"Hehe ... terus Ica panggil apa?" tanyaku, bigung aku harus manggil apa. Masa iya manggil namakan?
"Sayang!" sahut suamiku cepat.
"Sayang?" ulangku, manggil sayang? Etdah asa gimana gitu.
"Iya sayang, kenapa?" jawab suamiku, wait? Kapan aku manggil dia sayang?
Disipitkan mata ini, apa sih. Heran binti aneh deh. Tapi wait? Kenapa kepalaku tak pusing lagi?
"Hahahaha," tawa pecah semua orang, apa si gaje deh.
"Maa ...," panggil ku pada Ibuku.
Mamah melirik ke arahku, ia mendekat dengan berbicara. "Kenapa sayang?" tanyanya.
"Ica mau pulang Maa ...,"
"Pulang? Kapan?" sahut Ayah.
"Sekarang."
"Sekarang?" ku agukan kepala sebagai jawaban.
"Tapi kan belum sembuh Kak," sahut adik iparku, Aisya.
"Iya Kak, kan Kakak belum sembuh total," sahut lagi adik iparku, Fattah.
Benar juga ya ucapan mereka, tapi aku bosen lah harus dirumah sakit mulu. Sudah hampir seminggukan? Masa iya disini sampe sembuh total, bisa lumutan aku. Hiks ...
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Sang Dokter (Slow Up)
Fiksi Umum17+ [Sedikit dan gak banyak mengandung unsur dewasa] Follow sebelum baca :) *** Mencintai setelah menikah itu, INDAH. mau apa-apa gak sungkan, tinggal lakuin aja. kan udah sah. *** ⚠ Cerita ini pertama buat, mohon maaf atas tada baca yang tak sesuai...
